Minggu, 05 Mei 2013

Sinar Dakwah


MASALAH adalah bagian dari hidup kita yang amat lekat dengan keseharian. Kita tidak dapat menafikan bahwa masalah terus mampir dalam kehidupan. Ujian demi ujian bukan hal baru tentunya. Wujud kasih sayang Allah berupa cobaan itu merupakan the one of SPECIAL MOMENT. Bagaimana tidak, Sang Ar-Rahiim melalui cobaan sedang menghisab kadar keimanan & ketaqwaan kita. Di saat itulah mungkin sebagian dari manusia akan menginsyafi betapa pedulinya Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah selalu membimbing & terus mensupport hamba-hamba-Nya sehingga hamba itu benar-benar akan menjadi insan pilihan yang berhasil lolos seleksi ketat menuju Jannah.

Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang2 terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan sehingga berkatalah Rosul dan orang2 yang beriman bersamanya : “Bilakah datangnya pertolongan ALLAH ? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan ALLAH itu amat dekat.”” (Al-Qur’an, surat Al –Baqarah (2), ayat 214).

 Namun, tidak sedikit pula manusia yang menganggap ujian sebagai sebuah hambatan yang tentu menyulitkan ruang geraknya di dunia ini. Maka banyak orang yang kemudian mencerca Tuhan-Nya, “Ya Tuhan...Sungguh ini tak adil !” Na’udzubillah min dzalik.

Pernahkan terlintas dalam pikiran kita “WHY ME, GOD?” ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan. KENAPA HARUS AKU ????? Tidakkah ada orang lain yang lebih sanggup menghadapi semua ini selain aku ? Maka jelas-jelas jawabannya adalah “YA. Karena kamu adalah orang terpilih.”
ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an :
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : ‘ Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi (2) Dan sesunggunya KAMI  telah menguji orang2 yang sebelum mereka, maka sesungguhnya ALLAH mengetahui orang2 yang benar dan sesungguhnya DIA mengetahui orang2 yang dusta (3).” (Al-Qur’an, surat Al – Ankabuut (29), ayat 2-3).

Seperti pepatah mengatakan :
“Semakin tinggi sebuah pohon, maka akan semakin kencang pula angin yang menerjangnya.”

            Pepatah tersebut memang benar, karena jauh sebelum kalimat itu nge-hits di telinga kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaih wasallam telah mengungkapkan dalam sabda beliau :

 Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang2 yang shalih, kemudian disusul oleh orang2 yang mulia, lalu oleh orang2 yang mulia berikutnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar pengamalan agamanya. Bila dalam mengamalkan agamanya ia begitu kuat, maka semakin kuat pula cobaannya. (HR.Imam At-Tirmidzi No.3298 – HR. Imam Ahmad I/172).

Sahabat dakwah yang dicintai Allah...

            Adakah perasaan lelah dalam mengemban amanah Allah & Para Rasul-Nya ini ?
Pernahkah terbesit kejenuhan karena kita diposisikan dalam suasana masyarakat atau kehidupan yang bertentangan dengan yang kita harapkan misalnya ?

Ada kutipan yang sangat indah di dalam buku “Dalam Dekapan Ukhuwah” buah karya Ustadz Salim A. Fillah yang memotivasi jiwa kita yang mungkin sedang dilanda kegundahan :
“Jika engkau merasa di sekitarmu gelap dan pekat, tidakkah engkau merasa bahwa dirimulah yang sengaja dikirimkan oleh Allah untuk meneranginya. Maka, berkilaulah !”

            Kegelapan itu mungkin pernah kita rasakan di lingkungan sekolah, di campus, tempat kerja, di keluarga, dll. Di saat-saat kita merasa tidak nyaman dengan kondisi yang kita anggap gelap pekat itu sebenarnya terbuka jalan dakwah yang membentang lebar. Di situlah peranan kita dibutuhkan.

            Kitapun tahu dan amat sangat sadar akan kelemahan dan kekurangan kita. Dalam posisi seperti itu, maka bukan tidak mungkin kita akan merasa tak pantas untuk turut menjadi bagian cahaya yang menembus kegelapan. Kita mungkin merasa kerdil, dan tak punya kemampuan apapun untuk mengokohkan kebenaran di sekeliling kita. Tapi sobat...saling menasihati dalam kebenaran itu sudah menjadi tugas kita.

“Demi masa (1). Sungguh manusia berada dalam kerugian (2), kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran (3).” (Al-Qur’an, surat Al-Ashr [103])

Betapapun kita merasa lemah tak berdaya, kita tetap diharuskan berdakwah dengan cara apapun yang kita bisa. Tak usahlah kiranya kita merisaukan sesuatu yang tak kita miliki. Tapi lakukanlah sekecil apapun yang kita mampu.
            Terkadang kita tak yakin akan apa yang hendak disampaikan pada orang lain, karena merasa “Akupun belum menjadi orang yang sungguh-sungguh sholih/sholihah.” Tidak salah jika kita meresahkan hal itu. Karena dengan itu harusnya kita akan berbenah diri karena rasa malu itu. Malu kepada Allah atas perbuatan yang kita khawatir tidak bisa mempertanggungjawabkan. Maka, di saat itu pulalah kita akan termotivasi untuk berbagi pengetahuan & menyampaikan kebenaran, bukan untuk menggurui, tapi justru sebagai media belajar bersama. Dengan itu, ukhuwah akan terjalin erat. Insya Allah...

“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat biji sawi, niscaya ia akan melihat balasannya.” (Al-Qur’an, surat Al-Zalzalah [99] ayat 7)

Semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat sahabat !!!!!
BaarokAllahu lakum/lakunna...