MASALAH adalah bagian dari hidup kita yang amat lekat dengan
keseharian. Kita tidak dapat menafikan bahwa masalah terus mampir dalam
kehidupan. Ujian demi ujian bukan hal baru tentunya. Wujud kasih sayang Allah
berupa cobaan itu merupakan the one of
SPECIAL MOMENT. Bagaimana tidak, Sang Ar-Rahiim melalui cobaan sedang
menghisab kadar keimanan & ketaqwaan kita. Di saat itulah mungkin sebagian
dari manusia akan menginsyafi betapa pedulinya Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Allah selalu membimbing & terus mensupport hamba-hamba-Nya sehingga hamba
itu benar-benar akan menjadi insan pilihan yang berhasil lolos seleksi ketat
menuju Jannah.
“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum
datang kepadamu cobaan sebagaimana
halnya orang2 terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan
kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan sehingga
berkatalah Rosul dan orang2 yang beriman bersamanya : “Bilakah datangnya
pertolongan ALLAH ? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan ALLAH itu amat dekat.””
(Al-Qur’an, surat Al –Baqarah (2), ayat 214).
Namun, tidak sedikit pula manusia yang
menganggap ujian sebagai sebuah hambatan yang tentu menyulitkan ruang geraknya
di dunia ini. Maka banyak orang yang kemudian mencerca Tuhan-Nya, “Ya
Tuhan...Sungguh ini tak adil !” Na’udzubillah min dzalik.
Pernahkan terlintas dalam pikiran
kita “WHY ME, GOD?” ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan. KENAPA HARUS
AKU ????? Tidakkah ada orang lain yang lebih sanggup menghadapi semua ini
selain aku ? Maka jelas-jelas jawabannya adalah “YA. Karena kamu adalah orang terpilih.”
ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala sudah
mengingatkan kita dalam Al-Qur’an :
“Apakah manusia itu mengira
bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : ‘ Kami telah beriman’, sedang mereka
tidak diuji lagi (2) Dan sesunggunya KAMI telah menguji
orang2 yang sebelum mereka, maka sesungguhnya ALLAH mengetahui
orang2 yang benar dan sesungguhnya DIA mengetahui orang2 yang
dusta (3).” (Al-Qur’an,
surat Al – Ankabuut (29), ayat 2-3).
Seperti pepatah mengatakan :
“Semakin tinggi sebuah pohon, maka akan semakin kencang pula
angin yang menerjangnya.”
Pepatah
tersebut memang benar, karena jauh sebelum kalimat itu nge-hits di telinga kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaih wasallam telah mengungkapkan dalam sabda beliau
:
“Manusia
yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang2 yang shalih,
kemudian disusul oleh orang2 yang mulia, lalu oleh orang2 yang mulia
berikutnya. Seseorang diuji sesuai
dengan kadar pengamalan agamanya. Bila dalam mengamalkan agamanya ia begitu
kuat, maka semakin kuat pula cobaannya.” (HR.Imam At-Tirmidzi No.3298 – HR. Imam Ahmad I/172).
Sahabat dakwah yang dicintai Allah...
Adakah
perasaan lelah dalam mengemban amanah Allah & Para Rasul-Nya ini ?
Pernahkah terbesit kejenuhan karena
kita diposisikan dalam suasana masyarakat atau kehidupan yang bertentangan
dengan yang kita harapkan misalnya ?
Ada kutipan yang sangat indah di
dalam buku “Dalam Dekapan Ukhuwah”
buah karya Ustadz Salim A. Fillah yang memotivasi jiwa kita yang mungkin
sedang dilanda kegundahan :
“Jika engkau merasa di sekitarmu gelap dan pekat, tidakkah
engkau merasa bahwa dirimulah yang sengaja dikirimkan oleh Allah untuk
meneranginya. Maka, berkilaulah !”
Kegelapan
itu mungkin pernah kita rasakan di lingkungan sekolah, di campus, tempat kerja,
di keluarga, dll. Di saat-saat kita merasa tidak nyaman dengan kondisi yang
kita anggap gelap pekat itu sebenarnya terbuka jalan dakwah yang membentang
lebar. Di situlah peranan kita dibutuhkan.
Kitapun tahu
dan amat sangat sadar akan kelemahan dan kekurangan kita. Dalam posisi seperti
itu, maka bukan tidak mungkin kita akan merasa tak pantas untuk turut menjadi
bagian cahaya yang menembus kegelapan. Kita mungkin merasa kerdil, dan tak
punya kemampuan apapun untuk mengokohkan kebenaran di sekeliling kita. Tapi
sobat...saling menasihati dalam kebenaran itu sudah menjadi tugas kita.
“Demi masa (1). Sungguh
manusia berada dalam kerugian (2), kecuali orang-orang yang beriman dan beramal
shaleh serta saling menasihati untuk
kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran (3).” (Al-Qur’an, surat
Al-Ashr [103])
Betapapun kita merasa lemah tak
berdaya, kita tetap diharuskan berdakwah dengan cara apapun yang kita bisa. Tak
usahlah kiranya kita merisaukan sesuatu yang tak kita miliki. Tapi lakukanlah
sekecil apapun yang kita mampu.
Terkadang
kita tak yakin akan apa yang hendak disampaikan pada orang lain, karena merasa
“Akupun belum menjadi orang yang sungguh-sungguh sholih/sholihah.” Tidak salah
jika kita meresahkan hal itu. Karena dengan itu harusnya kita akan berbenah
diri karena rasa malu itu. Malu kepada Allah atas perbuatan yang kita khawatir
tidak bisa mempertanggungjawabkan. Maka, di saat itu pulalah kita akan
termotivasi untuk berbagi pengetahuan & menyampaikan kebenaran, bukan untuk
menggurui, tapi justru sebagai media belajar bersama. Dengan itu, ukhuwah akan
terjalin erat. Insya Allah...
“Maka barangsiapa
mengerjakan kebaikan seberat biji sawi, niscaya ia akan melihat balasannya.”
(Al-Qur’an, surat Al-Zalzalah [99] ayat 7)
Semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat sahabat !!!!!
BaarokAllahu lakum/lakunna...