Selasa, 29 Maret 2016

Cahaya Asa


Pagi menjelang setelah kelam dalam bayang
Bersapu angin asaku melayang
Seperti kelam yang menemukan terang
Setelah menjelajah, kini kembali pulang

Semburat cahaya menyembul dari sarangnya
Menghangatkan jiwa yang merana
Menepis segala resah dalam langkah
Melukis senyum yang kembali merekah

Cahaya merasuk ke dalam qolbu
Hilanglah ragu yang mengundang pilu
Lelah perlahan meninggalkanku
Membiarkan impian terus menggebu

Cahaya di atas cahaya
Memancarkan azzam yang menggelora
Indah nuansa telah tercipta
Tinggallah aku menari di atasnya
Melangitkan asa, meraih cahaya

Bidadari Bumi


Oleh : Salik

Kupandangi pelangi setelah hujan berhenti
Menampakkan ilusi yg terkubur di memori
Keindahan sosok yg selama ini kucari
Menghidupkan asa yg lama telah mati

Bidadari Bumi...
Jiwamu bersinar oleh iman yg suci
Kesantunanmu menghancurkan tirani
Kecantikan akhlaq membuatmu berseri
Bidadari langit takjub memandang iri

Bidadari Bumi...
Gunung tinggi kan kudaki
Lautan luas ku sebrangi
Jalan panjang ku lalui
Demi cinta yg hakiki

Bidadari bumi...
Ku yakin kaulah cinta sejati
Yang kunanti selama ini
Mungkin pada suatu hari
Kau dapat ku temui

Bidadari Bumi...
Bersamamu adalah mimpi
Bersamamu ku punya jati diri
Bersamamu ku meniti,
Jalan yg diridhoi

Bidadari bumi...
Senyumanmu adalah penghilang duka
Keluh kesah menjadi sirna
Senyumanmu adalah syifa
Bagi hati yg terluka

Budadari bumi...
Setiap hari ku berdoa
Agar Tuhan mempersatukan kita
Dalam bahtera penuh cinta

Rabu, 16 Maret 2016

Bersabarlah Wahai Hati

Duhai hati...
Kau bersemayam dalam diri seorang insan yang lemah
Penghuni akhir zaman yang sering mengumbar kesah
Terkadang khilaf menimpali banyak salah
Menantang iman yang kerap terancam goyah

Duhai hati...
Kau berteduh di dalam jiwa yang rapuh
Bersarang di antara jutaan keluh
Bersusah payah meredam angkuh
Mengokohkan tekad yang hampir runtuh

Duhai hati...
Kau terhimpun dalam raga yang ringkih
Sekujur jasad yang mudah teriris perih
Melemah di tengah juang penuh rintang
Tak kuasa hadapi ujian yang menerjang

Duhai hati...
Kutahu kau tak setangguh besi
Tetapi kau dan aku bisa bersinergi
Menghidupkan janji yang sempat teringkari
Membangun hidup dalam keimanan sejati

Duhai hati...
Bersabarlah menahan segala godaan
Jangan tertipu oleh pesona dunia
Kupastikan dunia takkan setia
Ia akan pergi meninggalkan kita dalam kehinaan

Tegarlah wahai hati...
Tak perlu ragui janji
Karena kehidupan akan terus berganti
Menghadirkan kebahagiaan hakiki

Wahai hati...
Tetaplah menemani langkah kaki
Jejak yang hampir tersekat duri
Meski peluh terasa mengaliri nadi
Kuharap kita kan tetap menapaki jalan ini
Sampai mati memaksa kita tuk berhenti

Rintik Hujan yang Bersuara

Entah mengapa hujan selalu mengundang desiran rindu
Sekuntum cinta yang mekar oleh tetesan yang lugu
Resah dan ragu berpadu dalam qolbu
Penuh harap pada kehadiranmu di suatu waktu

Entah mengapa hujan selalu memanggil jiwaku
Menyuburkan sekeping rasa yang melemah layu
Bisikan cinta malu-malu berderu
Harapkan waktu berbaik hati menghadirkanmu

Namun terkadang hujan terasa memilukan
Saat seutas harapan dihadang keraguan
Impian terkubur oleh penantian
Rasa terbungkam menemani keheningan
Menunggumu dalam batas waktu yang dirahasiakan

Hujan tak berarti apa-apa
Ia hanyalah rintikan asa
Yang mengiringi kekhusyuan pinta
Pada perjumpaan kita  di suatu masa

Jumat, 11 Maret 2016

Senja Merindu

Mentari mulai pergi
Jingga menari dalam elegi
Hati sepi seiring berganti hari
Hilang ditelan kesunyian menanti

Gelap terasa relung hati
Hampa tiada keindahan yang mengisi
Suara terbungkam sepi
Mata hanya mampu meratap perih

Duniaku malang dalam kesepian
Tersiksa waktu yang menjanjikan perjumpaan
Jiwa tak berdaya mengikuti gerak permainan
Waktu yang bersenda gurau dalam perputaran

Biarkan waktuku terserak tanpa tujuan
Asal kau tak tinggalkanku di persimpangan
Kan kunanti masa kita bersua
Memadu kasih dalam bahtera cinta menuju Surga