Selasa, 13 Maret 2012

Bintang Untukmu*


6 tahun lamanya, orangtuaku menitipkanku pada Sekolah Dasar Islam Terpadu Yayasan Fisabilillah. Aku merambat tumbuh dari anak kecil yang cengeng, hingga mulai mengenal persaudaraan serta persahabatan. Para pembimbing yang membelaikan telapak tangannya di wajahku saat tangis terukir, selalu teringat dalam benakku. Dengan sabar & teliti mereka membimbingku menuju harapan. Aku selalu merepotkan, tapi mereka merasa senang. Tak sedikitpun kulihat rasa bosan untuk mengajariku & teman2 mengenal kehidupan. Jutaan kisah kulalui bersama kasih sayang mereka. Mereka adalah orangtua kedua bagiku.
Kekuatan cinta yang pernah kurasakan dalam hangatnya simfoni kasih sayang...akan selalu menjadi kenangan tak terlupakan..

Bapak Ibu guru...14 tahun usiaku kini, 6 tahun kalian membesarkanku dengan 'ilmu, maka sisa usia yang berlanjut akan terus tumbuh & berkembang mengikuti ajaranmu selama 6 tahun itu...Jasamu akan terus berlaku bagiku..

I Love my teachers....:)

Kenangan itu masih membekas
Melekat erat dalam benakku dan takkan lepas
Kan kuberikan lembaran ini tuk menghapus kerinduan
Secarik kertas yang kutulis
Bukan sekedar coret belaka
Puluhan kata penuh makna
Persembahan untukmu yang kurindu, guruku

Bukan sebagai bakti balasku
Hanya sekedar pancaran kalbu
Karena kutau tak terhingga nilai jasamu

Nanti ananda kan meraih mimpi
Mencari jati diri tuk bisa memaknai hidup ini
Entah jalan mana kan kujejaki

Kutemukan satu impian dalam hati
Berpacu keras dalam diri
Tak kubiarkan dia lari
Karena cepat atau lambat mimpi itu pasti kan kuraih

Kini harapan gemilang melayang dalam angan
Membawa terbang keinginan setinggi bintang
Esok kan kuraih bintang itu
Kuberikan penuh cinta untukmu, sang Mentariku…

Pagi di Negeriku


Nyanyian flora dan aroma fauna telah mengusikku
Mengantarku kembali dari luasnya samudera mimpi
Kubuka jendela seraya memandang langit biru
Udara segar menyapa diiringi cahaya sang mentari
               
                Tanah subur di sekitar laksana permadani merah dalam istana
                Pepohonan hijau yang berbaris rapi andaiakan tiang-tiang megah pencakar langit
                Siur-siur lembut suara angin merasuk dalam sukma
                Burung-burung yang bernyanyi memainkan nada-nada pemikat hati
                Bak ratu diriku dalam buaian alam nan asri

Mulai kupijakkan kaki di bumi tanah surga
Sunggguh indah negeriku tercinta
Berkat kuasa sang Maha Pencipta

Mengawali hari dengan segala keanggunan
Kuingin katakan, selamat pagi tanah airku

Kenyataan Pahit


"Katakanlah kebenaran walaupun pahit." (HR. Ibnu Hibban)
Semanis apapun dusta, tetap saja ia bohong adanya. Dan seburuk2 kenyataan, tetaplah ia yang lebih baik, jika dikatakan dengan benar.

Saat kita ditimpa suatu persoalan yang membuat kita repot mengurusnya, yang membuat kita pusing, bingung harus berkata apa jika ditaya, sedang kita dalam kepanikan ? Apa yang akan kita lakukan ? Berbohong-kah ?

Berbohong seringkali aku lakukan ketika takut kena marah dari orangtua, takut dicaci teman, dll yang menurut pemikiran pendek akan mendatangkan kekecewaan seseorang. Namun, ternyata setelah berlalu berhari2 kebohongan yang telah kukatakan, akibat yang lebih dahsyat menyusulku dengan marahnya orangtua, dan cacinya teman setelah mereka mengetahui kebohonganku.
Sungguh, kebohongan tiada pernah membawa kebaikan. Dalam kehidupan dunia ini, masalah2 yang hadir kepada kita tidaklah seberat beban para Nabi & Rasul terdahulu. Jadi, saya rasa kita masih bisa jujur. Kecuali ketika dalam urusan agama dan keyakinan yang keadaannya sangat genting.
 
Pada Zaman Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam, ada kisah seorang anak bernama Ammar bin Yasir yang disandera oleh kaum kafir Quraisy karena Ia memeluk Islam, selama perjalanan hidupnya menjadi seorang muslim, Ammar beserta ayah dan ibunya menjalani hari2 dalam siksaan kafir Quraisy. Suatu ketika, pemuka kafir Quraisy memerintahkan Ammar bin Yasir untuk mengimani agama yang mereka anut, maka dalam kepayahan, tidak berdaya, Ammar menyatakan diri memeluk agama Yahudi bersama mereka. Maka, siksaannya pun diringankan. Mengetahui hal ini, salah seorang sahabat menemui Rasulullaah SAW dan mengadukan hal tersebut. Keesokan harinya, Rasulullaah SAW datang menemui Ammar dan menayakan hal kemarin tersebut. Ketika Rasul bertanya, Ammar pun dengan takut mengatakan 'Iya' bahwa dia telah melakukan semua, namun ia mengatakan bahwa dalam hatinya tak rela sama sekali untuk ikut agama orang2 kafir, ia hanya membela diri agar tak lagi disiksa oleh mereka. Maka apakah yang terjadi ?
ternyata Rasul malah tersenyum dan berkata "Jika mereka mendesakmu lagi, maka katakanlah seperti apa yang telah engkau katakan kemarin."
Wallaahu-a'lam*

Sahabat fillaah.. namun sekarang ini masalah seperti itu kan jarang sekali ada dalam hidup kita, maka junjung tinggilah kebenaran...***


Kepalsuan telah mengelabui jiwa
Menutup jalan kejujuran dalam-dalam
Seakan menjadi bagian dalam kehidupan
Melangkah dalam rantai dusta yang semakin mengancam

Kejujuran yang menyakitkan
Saat harus kukatakan semua di balik kebohongan
Sekian lama terpendam
Ada saatnya kuharus menggalinya kembali
Seharusnya tak kututup jalan kebenaran
Tak selayaknya kuberi ruang pada egoisme diri

Menyesal kini datang menghadang
Mengombang-ambing pikiranku penuh galau
Ternyata dusta takkan berakhir baik
Kejujuran lebih baik meski pahit
Karena kan kurasakan sakit mahahebat,
saat harus kusimpan lebih lama kepalsuan yang menjerat

Senin, 12 Maret 2012

Kembali Berjuang


Menjadi Hamba Allah yang shalih/shalihah adalah dambaan setiap hati. Tak terkecuali denganku. Walau setiap hari, bayang2 neraka seringkali mengintai lewat bisikan2 syetan, namun angan2 akan keindahan Surga tak kalah lekatnya dalam benakku. Aku punya sebuah harapan untuk membangun agama Allah 'Islam' menuju titik kejayaan, dengan semampuku, sebisa caraku menegakkan benteng2 kokoh keimanan yang mulai merapuh termakan usia kehidupan yang semakin hari kian melemahnya Akhlaqul Karimah di kalangan remaja, khususnya. Padahal pemuda-lah yang akan mengantarkan Islam pada sebuah keemasan itu. Yaa Ma'syaros Sabaab ! (Wahai generasi muda !)... kita adalah penerus para pejuang masa keRasulan, Kita lah calom khilafah di muka bumi ini. Marilah mulai saat kau membaca ini, kuatkan kembali tekad yang pernah singgah dalam hatimu. Kuyakin, kita punya misi yang sama, yakni menyebarluaskan agama Islam dengan damai, penuh kesabaran, serta tak luput dari meminta kepada Allah Subhaanahu Wata'aala, dengan segala potensi yang telah dianugerahi-Nya.

Bila kau malas berjuang menjayakan kembali agama Rahmatan Lil 'Aalamiin ini, maka cobalah Kau ingat kembali, sahabat, bagaimana Islam telah menolongmu. Kau dan aku terlahir dalam zaman yang bukan Jahiliyah, itu semua tak lepas dari peran para Syahid Islam yang berjuang siang malam untuk menempatkan ummat Islam dan Agama Islam pada sisi yang layak, demi kebenaran, dan karena Allaah. Tak terbayang bukan, jikalau kita sekarang berada dalam zaman Jahiliyah yang begitu sadisnya, seperti yang pernah kita dengar kisahnya dari para guru. Selepas itu, Islam telah memberi kita perlindungan yang sangat VIP, tak ada pada agama lain. Ingatlah, 24 Jam nonstop Allah melayani segala kebutuhan hidup kita, mualai dari bangun tidur hingga kembali tertidur, sampai akhir kehidupan dunia ini. Betapa Allah begitu pengasih bagi hamba-Nya. Maka malulah kita seharusnya jika kita mengabaikan-Nya, padahal tiada pernah alpa Allah ada untuk kita, apa yang kita ingin, kita dipersilahkan meminta. Allah maha luas karunia-Nya. Oleh karena itu, keRidho'annya sangat kita nanti. Yukk, sahabat fillaah..bantu tegakkan ISLAM dalam masyarakat semampu sekuat tenaga kita, lewat media apapun yang kita bisa & kuasai. Allah bersama kita, meminta-lah do'a restu kepada-Nya


Hidupku memang tak sesempurna kuasa-Mu
Tak sejernih lautan biru
Tak seindah warna pelangi yang berpadu
Tapi dalam Qalbuku selalu merindu Ridho-Mu
Walau langkahku terkadang kelabu
Meski dosa bergeming tiap detik masaku

Kutau, bukan aku hamba yang Kau mau
Tapi, setitik kenikmatan Surga kunanti
Hari lalu biar pargi bersama arus
Mari terbangkan kembali layarmu, kawan
Tegakkan kembali tonggak kebenaran

Kuatkan tekad genggamlah erat
Aku, Kamu, dan Kita punya senjata
Bentangkan bendera Syahadat 
Teguhkan barisan perjuangan

Kini waktunya, 'ilmu direalisasikan..

*AllaahuAkbar*

Bermalam Bersama Bintang Dalam Buaian Angan


Malam itu kurasakan sejuk berbeda
Dingin menusuk sampai ke dalam dada
Angin berhembus bagai irama
Membentuk sebuah rangkaian nada
Nan indah mengalun tenangkan jiwa

Pelukan hangat selimut dekap erat ragaku
Ribuan bintang dengan sigap meyakinkanku
Entah di mana kuberada
Segala keindahan menghampiri diri
Tak ingin kulewati kesempatan yang menanti

Saat itu kumelayang
Tersenyum bersama jutaan wajah
Siap menyambut hari penuh cita
Bersama mereka yang tertawa ria

Indahnya dunia kini dalam genggaman erat
Membunuh dendam menghapus penat

Ternyata kuberada di atas awan
Terbang bersama ribuan cahaya terang

Namun, teriakan itu mengusikku
Pejaman mata terbuka dari kegelapan
Keindahan itu pun turut pergi menghilang
Ternyata bukanlah nyata

Aku terlelap dalam mimpi
Angan telah membawaku terbang jauh
Menggapai asaku nan tinggi
Malam yang indah itu
Masih kunanti dia kembali

Sekilas Efek Globalisasi


Seiring berjalannya waktu, teknologi semakin berkembang, dan banyak pengaruh yang masuk membolak-balik pola pikirku sebagai remaja. Banyak keanehan yang kutanggapi, kurasakan sebegitu dahsyatnya era 20 ini, segala hal menjadi praktis. Bahkan yang membuat miris adalah kejahatan & kenakalan remaja pun dapat terjadi secara praktis melalui fasilitas yang disediakan oleh arus globalisasi. Hal ini sempat membuatku takut. Keraguan untuk mengambil keputusan & sangat hati2 dalam segala hal pernah kulakukan karena mengingat semakin bahayanya dunia pergaulan kini. Sampai sekarangpun aku memilih tak banyak keluar rumah, dan hanya berteman dengan PC beserta perangkatnya sepulang sekolah & mengaji. 

Namun, pandangan orang berbeda2. Banyak orang yang berpendapat bahwa pilihanku ini kurang tepat, karena pergaulan dengan masayarakat tetap harus terjaga, dan mereka bilang jangan kuper. Tapi aku tak peduli, ini caraku, dan dengan ini aku merasa nyaman. Untuk apa menghabiskan banyak waktu di luar untuk sekedar bersenda gurau dengan kerabat, bermain, dll. Walau begitu, aku sangat menerima pendapat mereka, dan aku setuju sekali bahwa pergaulan antar masyarakat, tetangga misalnya tetap harus berjalan baik, dengan tidak terlalu menutup diri. Aku tak tahu, beberapa tahun ke depan (bila Allah masih memberiku nikmat usia) apakah ada perubahan pada sikap & pemikiranku yg lebih signifikan. Kuyakin pasti suasana kini dan nanti akan semakin berbeda. Aku sekarang dengan jalanku, menghadapi derasnya arus globalisasi yang mampir dalam sekejap hari-hariku. :)


Sepi telah menguburku dalam dari kehidupan
Menutupku dari orang –orang di sekitar
Aku jauh terpencil dalam ruang hati yang sempit
Terpuruk sendiri tanpa seorangpun teman
                Globalisasi membuatku seperti mati
                Banyak hal yang kutakuti
Kewaspadaan menghantui setiap lorong pikiran
Tak ingin kurusak indahnya masa depan
Bukan maksud hati ingin sendiri
Tapi keadaan menuntutku berdiam diri
Bukan pula inginku seperti ini
Tapi aku belum siap ditimpa mode kini
                Aku bukanlah sang kuper
                Di zaman yang semakin hyper
                Kurasa telah mengelabui hati para remaja
Globalisasi...
Pengaruh terbesar yang membutuhkan antisipasi

Di tepi Rumah-Mu


Kedewasaan wanita memang tak diukur dari sudah haidkah ia atau belum. Karena, tak menutup kemungkinan bahwa kekanak-kanakan dalam menghadapi masalah, hidup, dan persoalan akan masih sering terjadi pada wanita dewasa. wanita sangatlah rentan, makhluk ciptaan Allah bernama wanita itu memiliki kelembutan hati yang sangat sensitif. Bila kaum lelaki mengatakan bahwa kami cengeng, ya memang kami cengeng. Menangis memang menjadi bagian hari kami sebagai wanita. Bukan tanpa mencari jalan keluar dari suatu urusan, tapi kami sebagai wanita hanya membuang segala beban lewat aliran air jernih yang membasahi pipi, terlebih dalam hal yang sangat menyentuh batin, seperti kejadian yang mengharukan..Membuat kami cepat menangis. Jadi, inti kedewasaan itu adalah ketika seorang wanita bisa menyelesaikan sendiri urusannya tanpa berkeluh kesah selain kepada Allah, dan memiliki kepribadian yang menjadi teladan bagi wanita lain.
Berikut ini adalah puisi yang kutulis saatku melihat betapa terharunya seorang wanita yang sudah cukup dewasa, namun baru mendapatkan haid pertamanya. Beliau sangat berharap agar menjadi wanita yang didambakan Islam setelah menerima catatan amalnya sendiri mulai hari itu.
 
Bisikan hati menuntunku ke Rumah-Mu
Aku bertamu mengetuk pintu
Padahal kutau tak boleh menuju dalam
Aku sedang dialiri darah kewanitaan

            Robby yang Maha Syahdu namamu nan merdu menyeru
            Aku berteduh di halaman rumah-Mu
            Aku sepi di sini
            Tapi aku tak sendiri
            Ada Kau yang setia menemani

Duhai Allah Maha Besar
Di tepi rumah-Mu kubersandar
Kini aku sudah dewasa
Aku menstruasi
Hari ini kunanti catatan amal sendiri
Kuingin mengisinya dengan pribadi berbudi

            Yaa RohmaanurRohiim...
            Di tepi Rumah-Mu kumenyendiri
            Mengharap Cinta dari-Mu
            Meniti jalan baru dalam hidupku