Sabtu, 31 Desember 2016

Resolusi 2017 : Yuk Hijrah!

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assalaamu’alaykum, ikhwah…

Tidak terasa ya setahun berlalu tanpamu… ups! Yang begini nih yang mesti dikurang-kurangin. Sebentar lagi 2017 lho, masih belum bisa move on? Hehehe… Malu tuh sama Allah. (kaca mana kaca? Hihihi). Daripada saling lempar kesalahan, mending kita hijrah sama-sama yuk, guys!

Teman-teman tau kan kebiasaan anak muda di malam pergantian tahun Masehi? Yap, tepat sekali jawabannya, jalan-jalan bareng pacar atau gebetan dan sebangsanya lah. Sedih nggak sih ngeliatnya? Betapa banyak laki-laki dan perempuan yang belum mahram saling berkumpul bahkan tanpa batasan. Mereka membuang waktu dengan sia-sia hanya untuk hura-hura. Padahal tidak ada yang menjamin bahwa setelah pesta malam tahun baru itu, masih ada kesempatan untuk hidup di tahun berikutnya. Kalau ada yang berdalih, ’kan mumpung muda, dinikmati saja’. Lha iya sih bener memang, mumpung muda. Tapi masalahnya, apakah kita yakin bahwa usia kita akan sampai pada masa tua? Na’udzu billaahi min dzaalik.

Sobat, mari kita ingat kembali perjalanan hidup kita selama satu tahun ini. Berapa banyak waktu yang sudah kita lalaikan selama ini? Apakah kita masih sempat menghadirkan Allah dalam hari-hari kita, ataukah kita terlalu sibuk sampai-sampai tak ada waktu untuk mendekat pada-Nya? Padahal Allah selalu menunggu kita lho! Nggak percaya? Buktinya Allah masih membiarkan kita hidup walaupun kita terus-terusan nggak inget sama Allah. Kenapa Allah nggak langsung membinasakan kita seperti kaum-kaum terdahulu yang dikisahkan dalam Al-Qur’an? Nah, itulah bukti kasih sayang Allah yang tak perlu kita ragukan.

Allah selalu saja memberi meski kita cenderung menyakiti dengan kelakuan kita yang menduakan-Nya dengan hal-hal lain. Itu artinya, Allah ingin kita kembali pada-Nya, Allah rindu rintihan kita dalam do’a, Allah ingin kita datang kepada-Nya dan menceritakan segala aktivitas kita hanya kepada-Nya. SubhaanAllaah wa bihamdihi. SubhaanAllaahil ‘azhiim. Adakah yang lebih pantas dicintai melebihi kecintaan pada Allah?

Hmm… ko jadi pada serius gini ya mukanya?! Udah udah, jangan sedih, sobat! Masa lalu dan kesalahan kita tak cukup hanya dengan ditangisi, tapi perlu diperbaiki. Makanya nih, selagi kita masih punya kesempatan, yuk hijrah!

Dear readers yang sholih-sholihah nan indah akhlaqnya serta rupawan wajahnya….hehe, (pasti pipi readers lagi bersemu merah nih). Yuk mulai sekarang kita buka lembaran baru. Hah, lembaran baru? Maksudnya nikah? Eits…siapa bilang! Hadeuh, baper-nya kumat nih.

Gini lho guys, untuk kalian yang selama setahun ini sholatnya masih bolong-bolong, yuk diperbaiki, ibadahnya ditingkatkan lagi. Bagi yang kemarin-kemarin masih malas-malasan bekerja, coba didongkrak lagi semangatnya. Kan katanya mau nikahin si doi, kok males-malesan? Ehehehe, bercanda deng. Yang lagi menuntut ilmu, baik kuliah maupun sekolah, yuk jadi remaja yang prestatif dan produktif. Percaya deh, penyesalan itu selalu datang belakangan.

Jadi, mumpung kita masih segar bugar, mari maksimalkan kinerja otak kita untuk memperdalam berbagai macam ilmu, terutama ilmu agama yang akan menjadi bekal kita dalam mengarungi kehidupan ini. Jangan biarkan otak kita lecet gara-gara keseringan nge-galau-in si ‘dia’. Rugi, guys. Tau nggak sih, ‘dia’ tuh nggak bisa dimintai pertanggungjawaban atas sakit kepala yang menimpa kita karena keseringan ngelamunin dia. Lha wong dia nggak tau kalau tiap malem ditangisin. Hehehe. Udah deh, daripada baper berkepanjangan, mending colek tuh Al-Qur’an yang udah jelas-jelas bisa memberi ketenangan. Dibaca ya, jangan dicolek doang!

Ekhem.. ekhem.. mau ngajak ngomong serius nih, guys. Seperti yang kita tahu, kondisi pemuda Islam dewasa ini sangat memprihatinkan. Lihat saja, pacaran dan pergaulan bebas merebak di mana-mana, bahkan virus-virus merah jambu juga sudah mulai menyerang para aktivis Islam. Mereka saling mencintai dalam diam. Ya, diam-diam stalking, diam-diam memperhatikan dari kejauhan. Kalian nggak gitu kan? Maasyaa Allaah. Miris sekali, padahal mereka adalah bibit-bibit pejuang Islam yang seharusnya akan tumbuh subur dengan keimanan dan ketaatan. Nah, inilah tugas kita sebagai pemuda yang peduli dengan nilai-nilai Islam untuk merangkul mereka kembali ke dalam syari’at Islam. Kita ??? Ya iyalah kita, emangnya kalian tega membiarkanku berjuang sendirian? Hihihi.. no baper, okay!

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Muhammad ayat 7:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”


Tuh kan, Al-Qur’an bahkan berisi petunjuk bagi kita untuk melangkah dalam mengarungi kehidupan ini. Mulai sekarang, yuk lebih dekat dengan Al-Qur’an.


Tahun 2017 hanya tinggal hitungan menit, kawan. Ayo kita maksimalkan waktu yang kita punya. Jangan ragu untuk melangkah, memang…jalan hijrah itu tiada mudah, tetapi yakinlah, ada Allah yang akan menguatkan kita. Yang pertama harus kita lakukan adalah meluruskan niat karena Allah. Lalu mulai membuka jalan baru dengan segala kemantapan hati. Jangan heran bila di tengah jalan hijrah, banyak teman yang mulai meninggalkan kita karena kita tak lagi seasyik dulu. Biarkan saja, tak perlu bersedih, sebab Allah akan menggantinya dengan sahabat-sahabat yang akan membersamai langkah kita menuju ridho-Nya, bahkan sampai ke Surga. Tak perlu menunggu nanti dan nanti untuk memperbaiki diri. Sadarkah, nyawa kita berada dalam genggaman Allah, kalau ternyata Izrail lebih dulu menjemput sebelum kita sempat menjemput hidayah, apa yang bisa kita perbuat?

Kalau ada yang bilang, ‘Kuno banget sih lo, hari gini nggak punya pacar’?


Sedih nggak digituin? Cup cup cup,, singlelillah nggak boleh sedih digituin. Ya kali ada orang bangga dengan perbuatan dosanya. Justru kita harus kasihan dengan mereka yang seperti itu. Mereka adalah saudara kita yang sedang keliru, mereka perlu dibimbing untuk kembali menemukan jalan yang benar.

Yuk kita simak firman Allah dalam surat An-Nuur ayat 26:

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperolah ampunan dan rezeki yang mulia.”


Sudah baca sendiri kan ayat di atas? Allah sudah mempersiapkan jodoh kita bahkan sebelum kita dilahirkan ke dunia. Jadi, nggak usah mencarinya dengan jalan pacaran ya. Untuk yang laki-laki, bila memang sudah siap menikah dan sudah lurus niatnya, langsung saja temui ayah si doi dan sampaikan niat untuk meminang itu secara baik-baik dan meyakinkan. Karena jodoh adalah cerminan atas diri kita, maka lebih baik mulai sekarang kita sibukkan diri dengan mensholih/mensholihah-kan diri, agar kelak pantas untuk mendapatkan pasangan yang sholih/sholihah pula. Jangan biarkan setan mengambil bagian dari kisah cinta kita. Serahkan semuanya pada Allah, jodoh tidak akan tertukar. Tak perlu kita takut si dia akan jatuh cinta pada orang lain. Tenang saja, hati itu Allah yang menggenggam. Lebih baik kita isi masa muda ini dengan berkarya dan menebar sebanyak-banyaknya manfaat, supaya bisa masuk Surga bareng-bareng. 😊☺😃


Masa muda, berjuanglah tuk mengendalikan jiwa, menundukkan amarah dan hawa nafsu, serta mengalahkan setan. (Ibnu Jauzi)

Sampai sini dulu yaa goresan di penghujung tahun 2016 ini. Semoga bermanfaat. Ingat, jangan ada baper di antara kita!

Semangat berhijraaaaaaaaaaah!

Wallaahu a’lam bish showaab

Selasa, 02 Agustus 2016

Kisah Sang Malam



Malam datang mengubur siang penuh terang
Bergantilah hitam bagai semburat raut muram
Di langit, setitik cahaya bintang menyeruak
Bak noktah yang tercipta dari goresan tinta kehidupan
Kutengok alam senyap di balik tirai
Berusaha menguak tabir kesunyian
Mencari siapa kiranya masih setia menanti
Karena malam ini aku hanya ingin berbagi
Tentang jelajah waktu yang telah ku-sambangi
Berpadu suka maupun pilu
Silih berganti saling beradu
Terkadang jenuh turut datang
Menghadang kegigihan yang mulai meregang
Maka biarlah malam bersenandung dalam dendang
Melipurku atas liku perjalanan
Terkadang dalam sunyi aku mendengar
Bisikan Tuhan yang berdenyar-denyar
Ternyata tak perlu kucari siapa
Sebab cinta sejati tak perlu menunggu
Dalam lirih ku merayu
Agar Tuhan tak meninggalkanku
Biar semua cerita kusampaikan pada-Nya
Sampai ku larut dalam dekapan mesra
Di tengah sujud hamba penuh lara

Minggu, 31 Juli 2016

Tangisan Seorang Hamba

Robbi, kudatang padamu dengan luka hati
Setelah berkelana dalam derita yg terasa amat perih
Aku tak terluka raga, tapi aku merintih
Aku tersiksa jiwa dan hampir mati
Ya, aku hampir mati tanpa-Mu
Jasad ini bukan milikku
Maka ketika hati mulai selingkuh
Aku kian runtuh mengingat dosa
Aku hina dalam kelalaian dunia
Duhai Ilahi, sungguh tiada yg lebih berarti selain diri-Mu
Biarkanlah wajahku tersungkur menghamba
Mengisi malam-malam penuh isak tangis
Hanya Engkau tempatku mengemis
Mengharap semua jawaban atas setiap doa
Jangan tinggalkan aku dalam kesesatan
Tetaplah bersamaku menuntun jalan
Bimbing aku mencari cahaya
Menuju jumpa-Mu penuh cita

Senin, 25 Juli 2016

Hilang

Kemana kuharus pergi
Tatkala tiada lagi tempat tuk kusinggahi
Ke mana kuharus berlari
Ketika tak lagi orang menginginkanku kembali

Di mana kudapat berteduh
Saat selaksa badai terasa bergemuruh
Perasaan kacau mengamuk riuh
Mencari jalan, menata langkah yang lumpuh

Siapa kan jadi tempat mengeluh
Bila airmata terpaksa jatuh
Adakah duka kan terhapus sempurna
Setelah lama merebak dalam lubuk jiwa

Di sini ku kembali
Mengayun kaki yang terseok duri
Memelas atas luka yang mendera
Dan sakit yang tak henti menyiksa

Di sini ku kembali
Menghadapkan wajah penuh kesah
Menengadah dengan lemah
Menanti kilau cahaya cerah
Mengusir amarah, membuang gundah

Di sini rupanya
Di sinilah
Di sisi Rabb Mahakuasa
Yang membelaiku mesra
Menghapus airmata dengan cinta-Nya


Selasa, 29 Maret 2016

Cahaya Asa


Pagi menjelang setelah kelam dalam bayang
Bersapu angin asaku melayang
Seperti kelam yang menemukan terang
Setelah menjelajah, kini kembali pulang

Semburat cahaya menyembul dari sarangnya
Menghangatkan jiwa yang merana
Menepis segala resah dalam langkah
Melukis senyum yang kembali merekah

Cahaya merasuk ke dalam qolbu
Hilanglah ragu yang mengundang pilu
Lelah perlahan meninggalkanku
Membiarkan impian terus menggebu

Cahaya di atas cahaya
Memancarkan azzam yang menggelora
Indah nuansa telah tercipta
Tinggallah aku menari di atasnya
Melangitkan asa, meraih cahaya

Bidadari Bumi


Oleh : Salik

Kupandangi pelangi setelah hujan berhenti
Menampakkan ilusi yg terkubur di memori
Keindahan sosok yg selama ini kucari
Menghidupkan asa yg lama telah mati

Bidadari Bumi...
Jiwamu bersinar oleh iman yg suci
Kesantunanmu menghancurkan tirani
Kecantikan akhlaq membuatmu berseri
Bidadari langit takjub memandang iri

Bidadari Bumi...
Gunung tinggi kan kudaki
Lautan luas ku sebrangi
Jalan panjang ku lalui
Demi cinta yg hakiki

Bidadari bumi...
Ku yakin kaulah cinta sejati
Yang kunanti selama ini
Mungkin pada suatu hari
Kau dapat ku temui

Bidadari Bumi...
Bersamamu adalah mimpi
Bersamamu ku punya jati diri
Bersamamu ku meniti,
Jalan yg diridhoi

Bidadari bumi...
Senyumanmu adalah penghilang duka
Keluh kesah menjadi sirna
Senyumanmu adalah syifa
Bagi hati yg terluka

Budadari bumi...
Setiap hari ku berdoa
Agar Tuhan mempersatukan kita
Dalam bahtera penuh cinta

Rabu, 16 Maret 2016

Bersabarlah Wahai Hati

Duhai hati...
Kau bersemayam dalam diri seorang insan yang lemah
Penghuni akhir zaman yang sering mengumbar kesah
Terkadang khilaf menimpali banyak salah
Menantang iman yang kerap terancam goyah

Duhai hati...
Kau berteduh di dalam jiwa yang rapuh
Bersarang di antara jutaan keluh
Bersusah payah meredam angkuh
Mengokohkan tekad yang hampir runtuh

Duhai hati...
Kau terhimpun dalam raga yang ringkih
Sekujur jasad yang mudah teriris perih
Melemah di tengah juang penuh rintang
Tak kuasa hadapi ujian yang menerjang

Duhai hati...
Kutahu kau tak setangguh besi
Tetapi kau dan aku bisa bersinergi
Menghidupkan janji yang sempat teringkari
Membangun hidup dalam keimanan sejati

Duhai hati...
Bersabarlah menahan segala godaan
Jangan tertipu oleh pesona dunia
Kupastikan dunia takkan setia
Ia akan pergi meninggalkan kita dalam kehinaan

Tegarlah wahai hati...
Tak perlu ragui janji
Karena kehidupan akan terus berganti
Menghadirkan kebahagiaan hakiki

Wahai hati...
Tetaplah menemani langkah kaki
Jejak yang hampir tersekat duri
Meski peluh terasa mengaliri nadi
Kuharap kita kan tetap menapaki jalan ini
Sampai mati memaksa kita tuk berhenti

Rintik Hujan yang Bersuara

Entah mengapa hujan selalu mengundang desiran rindu
Sekuntum cinta yang mekar oleh tetesan yang lugu
Resah dan ragu berpadu dalam qolbu
Penuh harap pada kehadiranmu di suatu waktu

Entah mengapa hujan selalu memanggil jiwaku
Menyuburkan sekeping rasa yang melemah layu
Bisikan cinta malu-malu berderu
Harapkan waktu berbaik hati menghadirkanmu

Namun terkadang hujan terasa memilukan
Saat seutas harapan dihadang keraguan
Impian terkubur oleh penantian
Rasa terbungkam menemani keheningan
Menunggumu dalam batas waktu yang dirahasiakan

Hujan tak berarti apa-apa
Ia hanyalah rintikan asa
Yang mengiringi kekhusyuan pinta
Pada perjumpaan kita  di suatu masa

Jumat, 11 Maret 2016

Senja Merindu

Mentari mulai pergi
Jingga menari dalam elegi
Hati sepi seiring berganti hari
Hilang ditelan kesunyian menanti

Gelap terasa relung hati
Hampa tiada keindahan yang mengisi
Suara terbungkam sepi
Mata hanya mampu meratap perih

Duniaku malang dalam kesepian
Tersiksa waktu yang menjanjikan perjumpaan
Jiwa tak berdaya mengikuti gerak permainan
Waktu yang bersenda gurau dalam perputaran

Biarkan waktuku terserak tanpa tujuan
Asal kau tak tinggalkanku di persimpangan
Kan kunanti masa kita bersua
Memadu kasih dalam bahtera cinta menuju Surga

Rabu, 27 Januari 2016

Malam Perpisahan

*(untuk sahabat kecilku yang tengah bermesra dalam pangkuan-Nya.. Semoga Surga menjadi tempatmu. آمين)

Langit tertutup awan gelap
Hitam menjelma dalam senyap
Duniaku mendung
Hati berkabung

Mentari mulai padam
Bumi kian temaram
Datanglah kelam
Menggerayangi malam yang mencekam

Tubuh bergetar kedinginan
Lisan kelu tak mampu digerakkan
Airmata jatuh berlinangan
Kaki lesu tiada dapat memapah jalan
Jiwa bergolak menanggapi kenyataan

Malam itu...
Izrail memintamu dariku

Hari Pernikahanku

Di hari suci yang kunanti
Kukenakan gaun putih berhiaskan melati
Disirami aroma mawar yang mewangi
Bersiap menemui cinta sejati

Hari pernikahanku telah tiba
Menjemputku pergi bersama kekasih belahan jiwa
Iringan do'a kudengar di telinga
Mengantarku menuju singgasana

Aku duduk di pelaminan yang sangat tenang
Hanya sendiri, karena pengantinku belum datang
Seluruh keluarga hanya menunggu di gerbang
Sejenak saja, lalu mereka benar-benar hilang
Setelah kuhirup aroma bunga yang bertaburan
Meninggalkan sebuah nama yang terukir di atas nisan

Selasa, 26 Januari 2016

Rindu Ini Milik-Mu

Seutas rindu membayang dalam qolbu
Imajiku mengembara di atas permainan waktu
Hati bergemuruh mencemburu
Tak ingin Kau menjauh dariku

Setitik ragu terselip dalam pikir
Ketakutan yang menghadang jika datang hari akhir
Sebab rinduku pernah pergi meski ia kembali hadir
Rasa yang tak henti berdesir
Bergemuruh di antara muara airmata
Dalam hening penghambaan menanti jumpa

Rindu ini telah lama bersemayam dalam dada
Sempat aku hampir menukarnya
Dengan kerinduan pada manusia yang kucinta
Tetapi Kau bisikkan rayuan di telinga
Betapa cinta sejati telah ada sejak lama
Hanya aku yang terlambat menyadarinya
Kau adalah Sang Maha Cinta
Yang selalu memberi meski cinta-Mu telah kukhianati
Ampuni aku telah mendustai hati
Melukai janji yang terikat dengan suci
Kini rinduku takkan kubagi
Hanya untuk-Mu, satu Yang Abadi

Senin, 25 Januari 2016

Nafas Dzikir

Udara dingin berhembus pada malam yang hening
Desiran angin mengusik raga yang terbaring
Tanpa suara, mata ini terjaga
Menatap hampa pada setitik cahaya

Inilah sepertiga malam yang dijanjikan Tuhan
Sebagai waktu mustajab do’a tanpa penghalang
Karena Dia akan kabulkan
Karena Dia tak menangguhkan permintaan

Andai tiap malam kuterjaga
Walau lewat mimpi buruk yang menelisik jiwa
Agar aku dapat bercengkrama
Dalam kekhusyuan pinta

Jikalau nanti kubangkit kembali
Dari lelapnya perjalanan mimpi
Kumohon beri aku nafas sekali lagi
Agar mampu kuhembuskan dzikir di kegelapan malam nan sunyi

Minggu, 24 Januari 2016

Rindu Hujan

Hujan menyisakan sekeping kenangan
Serpihan rasa yang hampir mengering ditelan kemalangan
Tetapi hujan datang menyuburkannya
Menabur butir-butir cinta yang kembali bergulir

Hujan mendendangkan alunan simfoni
Harmoni yang mengemas semua rinduku
Memainkan putaran waktu di masa lalu
Sebelum hujan datang mengabarkan perpisahan

Hujan, datanglah lebih sering
Hadirkan kebahagiaan bersama ingatan tentangnya
Walau tak jarang hujan mengundang gerimis airmata
Namun kuselalu merindu hujan
Kupercaya di balik hujan tersimpan keindahan
Meski kuharus sabar menanti
Karena hujan tak selalu menghadirkan pelangi

Setelah Hujan Reda

Setelah hujan reda
Kulihat senyum bahagia sang bunga
Merekah indah dalam sisa-sisa basah
Memesona mata setelah mengering airmata

Setelah hujan reda
Kudengar nyanyian kupu-kupu nan merdu
Menari-nari mengitari bunga-bunga yang tersipu
Lincah beterbangan membawa pergi segumpal kesedihan

Setelah hujan reda
Angin berbisik di telingaku dengan manja
Mengabarkanku tentang dia
dia yang hilang sejak lama

Setelah hujan reda
Mekarlah sekuntum cinta
Benih yang tertinggal setelah kepergiannya
Membekas di relung hati yang beku

Di balik hujan aku berdo'a
Semoga kelak aku kan bersamanya
Melukis pelangi setelah hujan reda

Nikmat-Mu Tak Terdustakan

Tiap pagi kubuka mata
Kurasakan nikmat Tuhan selalu ada
Ketika sekujur tubuh mampu bergerak sempurna
Adalah nikmat lagi yang Allah beri

Kemudian aku keluar menatap mentari
Rasa syukur kembali terbesit di hati
Atas kesempurnaan penglihatan
Pada kemilau cahaya di langit yang mempesona

Aku berjumpa dengan saudara
Kami bersapa dalam bicara
Lagi-lagi Allah menunjukkan kuasa
Pada kenikmatan bersuara tanpa cela
Alangkah banyak nikmat-Mu, Rabbi
Dan betapa buruk rasa syukurku selama ini
Padahal tiada perlu aku ragui
Sebab jalan hidupku telah menjadi suratanmu, Ilahi

Duhai Rabbi Pemilik Hati
Beri aku kenikmatan lagi
Jangan tinggalkan aku dalam kelalaian tak bertepi
Jabat tanganku dalam ketaatan
Dekaplah aku pada manisnya keimanan
Hingga tiada lagi nikmat-Mu yang kudustakan

Sabtu, 23 Januari 2016

Airmata Bumi Syuhada

Kering sudah airmata
Menatap nestapa dalam tragedi yang menyiksa
Sesak seluruh nafas jiwa
Hilang rasa…tak ada lagi tawa

Dentuman bom yang menghantui malam-malam penuh ketakutan
Jerit peluru yang bersahutan
Hingar bingar suara ledakan
Pembunuhan
Pembantaian
Merenggut nyawa-nyawa tanpa dosa

Merah menyambar di langit dunia
Darah berkesimbah memoles tanah Palestina
Suara hati tertahan dalam dada
Tiada tangis, tanpa suara
Meski luka mengiris pilu sukma

Keberingasan membabi buta
Seakan sebuah jiwa tiada harganya
Di mana hak asasi manusia ?
Adakah iba akan menghentikan penyerangan tanpa sisa ?

Duhai jundi yang memenuhi panggilan Ilahi
Telah mati masa kanak-kanakmu di tangan Yahudi
Keberanianmu menjadi saksi
Perjuangan melawan kezholiman yang membumi
Betapa airmata tak mampu lagi tertahan
Melihat keteguhanmu dalam barisan pertahanan
Menyelamatkan bumi syuhada dari jeratan penguasa
Melangitkan manusia, meniti jalan ke Surga

Hancur lebur bumi Palestina
Rumah-rumah tinggallah debu
Sekolah-sekolah hanya menyisakan kerikil-kerikil batu
Semua lenyap menjadi abu
Tapi kehancuran tak terjadi pada hati mereka
Jiwa-jiwa yang terpanggil raganya
Menjemput syahid yang bergema
Berkawan duka dalam kesakitan yang belum terobati
Kegigihan yang mengisi seutuh ruang hati
Bergerak tanpa takut mati

Wahai negeri para anbiya !
Jejak risalah telah bercerita pada kami
Tentang keagunganmu di antara seluruh penjuru negeri
Tanah suci pemersatu ummat Yahudi, Nasrani, dan Islam
Tapi kini nasibmu harus ditelan oleh kelam
Gejolak perang belum berhenti menyerang
Al-Aqso menjadi taruhan untuk bertahan dalam kepedihan

Bertahan...bertahanlah saudaraku
Sembunyikan derasnya tangisan jiwa dari muka
Simpan seluruh perih sayatan luka
Jangan suarakan derita yang kau rasa
Karena aku tak kuasa menyaksikan semua
Kala sebuah peluru menembus tubuh kecilmu
Ketika tank dengan angkuh menggilas remuk kepalamu
Tubuh-tubuh yang menggelepar di jalan
Menyisakan satu nafas yang berhembus untuk kematian

Episode kehidupan penuh kelaraan
Adalah pemandangan yang aku saksikan
Media mempertontonkan kemalangan
Pantaskan aku hanya diam ?
Tidak !
Sekuat kemampuan akan kuperjuangkan untukmu kemerdekaan
Walau tak banyak yang mampu kulakukan
Meski hanya do’a-do’a yang dapat kukirimkan
Bertahan…bertahanlah saudaraku
Bertahanlah untuk keabadian

Hujan Belum Mau Reda

Rintik hujan membasahi wajah bumi yang teduh
Menjatuhkan gemericik air yang melompat perlahan
Bersapu desiran angin yang memoles celah dedaunan
Sejuk mengalun jiwa-jiwa yang rapuh

Hujan masih merintikkan tangisan awan
Berderai meloloskan kesedihan
Bak nyanyian yang memadu irama syahdu
Memainkan harmoni nada-nada pilu

Rintik hujan mendatangkan kenangan
Memori usang dalam ruang ingatan
Pada kebersamaan kita yang telah hilang
Terkikis waktu yang mengelam

Hujan belum mau reda
Menggenangi pijakanku dengan tetesan sucinya
Menjemput airmata keluar dari sarangnya
Dalam isak teriring tetes hujan yang bersahutan

Hujan belum mau pergi
Meninggalkan hati yang sepi
Biarlah membekas sampai berganti sang pelangi
Pelipur luka hati dalam dingin yang menusuk diri
Kini biarlah hujan datang
Menghapus kesedihan yang telah lama bersarang

Jumat, 22 Januari 2016

Akhir Kehidupanku

Akhir kehidupan dunia bukanlah ketika bumi terbelah
Atau saat langit mulai memerah
Bukan pula pada tiupan sangkakala yang memekik
Tak jua guncangan tanah yang menukik

Kehancuran dunia bukan ketika berhentinya almanak manusia
Atau kematian makhluk seluruh semesta
Tidak pula saat pasak bumi memancarkan merah merona
Yang menjadi penanda kehancuran dunia
Ialah ketika tiada lagi kata antara kita
Duniaku hening tak bersuara
Terbungkam dalam cinta yang terpendam

Hari akhir pasti terjadi
Meski waktu masih memainkan misteri
Akan tiba kaki tak sanggup lagi berdiri
Takkan lagi tampak wajah berseri
Semua mati
Semua pergi menuju negeri abadi

Akhir segalanya kan tiba tanpa permisi
Datang tak memberi kabar
Memaksaku mengalah pada takdir
Seperti senyummu yang tak lagi terukir
Dan sapamu yang berhenti mengalir
Menjadi penanda hidupku telah berakhir

Kamis, 21 Januari 2016

Cinta Lelakiku

Tiada alasan bagiku mendua
Cinta yang kupunya telah sempurna tanpa cela
Suci dalam ikatan darah sejak terlahir di dunia
Pada lelaki yang tulus mencinta

Tak tahu ke mana hati akan berlabuh
Jikalau lelakiku kelak pergi menjauh
Hati mungkin kan mati bersama jasad yang terkubur
Entah di mana kan kuletakkan lagi cinta yang subur

Ini tentang lelakiku,
Manusia biasa yang menjelma malaikat cinta
Pelipur segala kisah luka
Pembangkit tawa penyejuk jiwa

Suatu ketika lelakiku berpesan,
Kelak cinta kita akan terputus oleh perpisahan
Bukan oleh kematian
Melainkan sebuah pernikahan

Suatu masa yang dijanjikan Tuhan
Ketika aku harus terlepas dari pelukan
Dan kilah manja mesti kutinggalkan
Merenda hidup baru bersama lelaki pilihan

Misteri waktu yang mengundang kekhawatiran
Adakah ia kan sama dengan lelakiku ?
Ia yang selalu sabar mendengar celotehku  
Ia yang selalu mengusap duka di wajahku
Ia yang tak ingin aku terluka

Andai aku dapat memilih
Tentu aku akan meminta dengan lirih
Lelaki yang takkan membuatku bersedih
Seperti lelakiku kini yang selalu terjaga
Waspada manakala jatuh cinta melukai hati putri tercintanya

Kebahagiaan Kita

*puisi untuk adik kecilku

Bahagia itu sederhana
Ketika kau dan aku bersama
Kita lekat dalam canda
Mengukir tawa menghiasi langit dunia

Bahagia itu tak bersyarat
Selama kita selalu dekat
Berpelukan hangat
Merajut jutaan kisah hebat

Bahagiaku selalu ada
Pada keakraban kita yang terjaga
Di balik senyummu yang merona
Dalam lincahnya tingkahmu yang menggoda

Bahagiaku tak meminta alasan
Biarlah ia menjadi saksi sebuah persahabatan
Karena bahagia telah menjadi milik kita
Dua insan bersaudara yang saling mencinta karena-Nya

Lelaki Perkasaku

(Sebuah puisi untuk lelaki paling perkasa dalam hidupku, yaitu ayah)

Suatu hari kulihat peluh bercucuran melintasi pelipismu
Tubuhmu terbakar terik dalam siang yang mencekik
Berderai tetes demi tetes semangat yang terus memercik
Kau menerjang kerasnya perjuangan dengan gagah
Tanpa peduli pada lelah yang menggodamu untuk menyerah
Kau menapaki  jalan itu dengan perkasa
Jalan mencari keridhoan Ilahi demi sebuah nafkah

Suatu hari yang takkan terlupa dalam memori
Kala bergetar tubuhmu yang kekar
Diterpa derasnya hujan dan kilau petir yang menyambar
Di sana kau tetap berdiri tak gentar Menembus siksaan dingin yang berhembus
Di tengah rintik hujan yang terus menyerang
Kau bertahan mengarungi bahtera mencari penghidupan
Meski wajahmu terkikis ratapan pilu yang menghujam
Kau tak meratapi nasib hidup yang mengelam

Suatu hari kudengar ramai orang menyebut namamu
Segala cerca dan cemooh hina tertuju pada usahamu
Tapi tak tampak olehku wajah muram di garis mukamu
Kau terus membuat jejak
Kau tak memberi ruang pada hati untuk menangisi kekejaman dunia ini
Kau bertahan di tengah terpaan angin dahsyat yang merobohkan banyak impian
Tapi bukan impianmu
Kau tak goyah sedikitpun
Tak kulihat pada dirimu melainkan semangat yang terus menggebu

Suatu hari yang terus membekas di kedalaman ruang hati
Saat senyum ketulusan terukir di bibirmu yang kering
Walau berjuta pedih mengiris batinmu  
Yang terlihat di mataku hanyalah pancaran cinta yang menatapku sendu
Sekeping rasa yang berkilauan di balik jernih bola matamu
Kau menyebutnya cahaya asa
Cahaya yang memancar kala semangatmu redup

Aku telah menjelajah ribuan hari bersamamu
Menjadi saksi kegigihanmu menghidupiku
Pahit getir perjuangan telah kau rasa
Tetapi hanya manis yang kau bagi padaku
Aku terlalu berharga untuk ikut merana, itu katamu
Tetapi kali ini kau tak bisa menutupi lagi kesakitanmu
Luka yang kau kubur jauh dari penglihatanku

Aku telah tumbuh besar di tanganmu
Mataku merekam jelas jutaan memori lalu
Suka dan duka telah berpadu mewarnai kisah kita
Kini bahagia menyelimuti hari kita
Atas izin Sang Kuasa, segenggam kesukesan telah kau raih setelah perjalanan panjang yang menyiksa
Akan kuabadikan kisah hebat ini dalam hidupku
Kisah heroik yang ditorehkan oleh sang lelaki perkasaku

Rabu, 13 Januari 2016

Isi Hati yang Tersembunyi

Aku mengagumimu sejak lama
Saat kita belum saling menyapa
Dan senyuman masih tersembunyi dari muka
Tak ada suara, tanpa kata-kata

Pada hari perjumpaan pertama kita
Ada rasa yang tak bisa kujelaskan maknanya
Tapi ia terus mengisi relung jiwa
Tak pernah mati walau tiada lagi jumpa antara kita

Tiga tahun lalu yang menjadi penanda terpesona
Pada kesholihanmu yang berbinar dalam akhlaq mulia
Pandanganmu yang selalu terjaga
Juga lisan yang tak banyak mengumbar suara

Kau datang memberi kabar pada hati
Tentang kedekatan seorang hamba pada Ilahi
Menjadi penjaga ayat cinta-Nya
Membumikan kalam, melangitkan manusia

Kurasa jelas sebabku memendam rasa
Tak lain karena kesetiaanmu berpegang teguh pada agama
Semoga aku dapat mengambil cinta
Dari akhlaqmu yang seperti mutiara

Kini rasa itu tetap ada
Dengan kesucian yang masih terjaga
Semoga takkan ada noda
Hingga semua asa terwujud dalam nyata

Kutahu Rabb-ku takkan menyiakan do’a
Seperti halnya cinta yang selalu kuminta
Sebuah nama yang sering kusebut dalam harap pinta
Meski ragu dan merasa malu
Selalu kukatakan, semoga..dan semoga…

Terima kasih untukmu, akhi
Yang telah membuatku berbenah diri
Tuk menjadi insan mulia di mata Ilahi
Yang lisannya senantiasa berdzikir tiada henti
Juga tujuan hakiki tentang hidup yang selalu mengisi ruang hati
Sungguh padamu kuberhutang budi
Atas keteladanan yang kau beri
Walau kumengambil darimu secara bersembunyi
Demi menjaga hati agar tak terkotori
Karena kutahu betapa wanita adalah fitnah bagi lelaki

Suatu hari nanti kuharap kita bisa bersama
Mengarungi bahtera cinta dalam ridho-Nya
Aku akan bersabar menanti cara Allah mempersatukan kita  
Agar penantian ini kelak berbuah Surga
Kala semua telah menjadi indah pada waktunya

Jikapun nanti semua harapku tak sama dengan jalan-Nya
Kuyakin Allah kan memberiku ikhwan yang lebih baik menurut-Nya
Baik untukku, baik untuk agamaku

Pesan Juang

Adikku…
Kau mampu melihat dengan mata kepalamu sendiri
Kehancuran yang secara perlahan menghadang kita
Iman kita nyaris binasa dalam arus dunia yang menggila
Lihatlah…saksikanlah beribu pasang mata yang menyorot seorang wanita minim busana
Di atas sebuah pentas ia menjadi pujaan manusia
Miris…miris sekali, adikku

Adikku…
Kiranya kau mampu merasakan kesakitanku
Sebuah luka lama yang tak kunjung terobati sakitnya
Kepedihan atas hilangnya kebersamaan dalam Iman
Kala derasnya pergaulan tanpa batas diam-diam merenggut pejuang kita

Adikku…
Andai kau mampu membaca kebisuanku
Kata hati yang tak sempat tersampaikan oleh lisan yang kelu
Suara jiwa yang tertahan dalam sesak yang menyiksa
Apalagi yang bisa kukatakan saat kulihat perpecahan di antara kita ?

Adikku…
Kuharap kau mampu memahami sebuah mimpi
Imaji yang menghiasi langit malam dalam lelap sebuah peristirahatan
Ialah Islam berjaya di muka bumi
Berkibar panji Ilahi menaungi seluruh negeri

Adikku…
aku telah melewati banyak waktu di dunia
Sudah banyak pilu nestapa yang menjadi ratapan
Pada kezaliman penguasa dan amoral yang seolah menjadi biasa
Maksiat tak lagi jadi pertimbangan berbuah dosa

Adikku…
Meski berliku, jalan ini harus kita lalui
Namun aku tak tahu akankah sampai kejayaan yang kumau tak terbatas usiaku
Jika aku lebih dulu pergi meninggalkanmu juga dunia ini
Jangan berhenti berjuang untuk sebuah kemenangan hakiki

Adikku…
Kaulah pejuang yang dinanti oleh ummat
Berikanlah kemanfaatan terbaik yang kau mampu
Luruskan kesimpangan yang telah lama membeku
Satukan kembali ikatan persaudaraan yang nyaris tak pernah bersatu
Kita adalah sebuah bangunan yang hakikatnya saling menguatkan
Sadarkan saudara kita dari lamunan panjang
Yang memudarkan persatuan dalam barisan perjuangan
Kita hilang
Kita hanyut dalam buai angan
Kita lupa akan kehidupan setelah dunia

Adikku…
Bergeraklah dengan semurninya tujuan
Bayangkan wajah para pewaris risalah yang meletakkan amanah di bahu kita
Ingatlah bagaimana Islam dibangun dengan susah payah
Adakah kita orang-orang yang tak bisa menjaga amanah ?

Adikku…
Ingatlah perjuangan ini bukan pesanku
Melainkan pesan Tuhan yang dibisikkan pada telinga manusia
Allah telah tunjukkan kuasa-Nya pada setiap peristiwa
Hanya kita yang belum tersentuh jiwanya
Padahal tak sekali pula Allah turunkan bencana
Agar kita membaca tanda-tanda kemurkaan-Nya
Tapi kita terlena dengan permainan yang ada
Kita tertidur pada kembara menuju negeri yang sebenarnya

Adikku…
Berjuanglah untuk agama kita
Kuatkan tekad dalam jiwa
Lawanlah berbagai rintangan
Runtuhkan dinding keraguan
Karena janji Tuhan takkan diingkari
Meski langkahmu harus terputus oleh mati
Berjuanglah untuk sebuah cita mulia
Runtuhkanlah angkuhnya keegoan dunia
Semoga kelak gugurmu tercatat sebagai syuhada

Jauh Di Mata Bunda Memandang

Bunda sayang…
Ananda kini jauh dari pandanganmu
Kita terpisah oleh batasan ruang dan waktu
Ananda selalu merindumu
Dalam setiap langkah menuntut ilmu

Bunda sayang…
Di sini ananda dikelilingi banyak teman
Mereka selalu mengingatkanku pada kebaikan
Seperti nasihat bunda yang biasa ananda dengarkan
Begitu banyak orang yang menyayangiku meski tanpa ikatan
Kami dipersatukan hanya dalam persaudaraan iman

Bunda sayang…
Tiap hari ananda pergi mencari ridho Ilahi
Bersungguh-sungguh menjala ilmu sebagai bekal di hari nanti
Namun tak jarang jalan ananda bertabur duri
Kesedihan dan perih pun mulai terasa menggores hati

Bunda sayang…
Sekuatnya ananda mencoba bertahan di sini
Mengejar mimpi yang berulang kali datang dan pergi
Meski tak jarang ananda merasa tak sanggup lagi
Menahan luka hati yang kian tak terobati

Bunda sayang…
Ananda merasa kesulitan
Pada beberapa pelajaran yang baru diperkenalkan
Terkadang putus asa hampir datang menghadang tekad dan iman
Tetapi raut penuh harap bunda di rumah selalu terbayang dalam ingatan

Bunda sayang…
Bukan sekali kerinduan melenyapkanku dari kesadaran
Ananda sering terhanyut dalam tangis yang mendalam
Ananda rindu berjumpa bunda
Ananda rindu dekapan hangat bunda

Bunda sayang…
Jalan ini telah menjadi pilihan
Ananda yakin inilah yang terbaik dari Tuhan
Do’akan ananda mampu bertahan
Melawan kesulitan, menghadang segala rintangan

Bunda sayang…
Suatu hari nanti ananda kan kembali
Membawa sejuta kenyataan dari luasnya samudera mimpi
Semoga bunda selalu diberi kesehatan
Hingga tiba saatnya kuhadiahkan pada bunda kesuksesan

Jika Hari Itu Tiba

Jika hari itu tiba
Siapa kan mampu menunda ?
Jika hari itu tiba
Adakah daya masih bersarang dalam raga ?
Jika hari itu tiba
Akan bercucurankah airmata orang-orang tercinta ?
Jika hari itu tiba
Saatnya kuucap salam perpisahan pada dunia

Jeritan Hati Tanpa Suara

Ayah, bunda…berada di sisimu adalah kehangatan
Senyum dan tawa dalam mesra canda yang selalu mengisi ruang ingatan
Kebersamaan dan keanggunan nuansa kekeluargaan
Aku tak ingin semua ini hilang
Walau hanya terambil sedetik dari bertahun-tahun usia kita

Ayah, bunda…Kini kita tak bisa bersama tiap saat
Di seberang jauh aku telah menetap
Mencari ilmu sebagai bekal kehidupan
Agar kelak bisa mengukir senyum kebahagiaan
Di wajah tulus dua insan yang pertama kulihat di dunia

Ayah, bunda…sungguh pada tiap pertemuan singkat, aku tak ingin perjumpaan kita lenyap
Kerinduanku terlalu erat pada kehangatan dekap cinta
Aku tak kuasa meninggalkan lagi sepasang manusia terhebat yang kupunya
Namun apa daya keadaan menuntutku menjauh
Sekuat jiwa kuredam gejolak rasa demi berjuang menjemput asa yang menguras peluh

Ayah, bunda…betapa airmata tak mampu bertahan dalam sarangnya
Ia terpaksa berjatuhan mengiringi suara hati yang memilu dalam rindu
Langkahku tak lepas dari bayang-bayang suaramu
Langitku kelam tanpa bisikan penguat semangat
Aku tak tentu arah tanpa ayah dan bunda

Ayah, bunda…Aku selalu merindumu dalam do’a
Di kegelapan malam yang mencekam
Karena hatiku menjerit memanggil namamu
Suaraku tertahan dalam isak pilu
Mencoba tegar dalam kesendirian

Ayah, bunda…dalam kepekatan malan nan sunyi, hatiku seolah mati
Terkubur luka kerinduan yang lama tersimpan
Perjumpaan kita tidaklah lama
Sekejap, lalu memudar diterpa hembusan waktu

Ayah, bunda…ini adalah mimpi buruk
Hidup sendiri di tengah keramaian ibukota
Tanpa ditemani orang-orang tercinta
Mengadu nasib dalam kerasnya perjuangan menempuh cita

Ayah, bunda…banyak kata yang tak sanggup tersuarakan
Tentang luka
Tentang duka
Segala kesulitan yang menyesakkan jiwa
Kehancuran batinku yang meronta
Aku belum bisa jauh dari ayah dan bunda

Ayah, bunda…ini terlalu berat bagiku
Aku hanya orang biasa yang memimpikan sekolah tinggi
Aku telah meraihnya
Tapi kesulitan terus menghadang langkah
Aku gemetar tak mampu bertahan
Kala orang-orang memperebutkan nilai sebagai kebanggaan
Aku hanya berfikir, akankah aku bertahan sampai batas waktu yang ditentukan ?

Ayah, bunda…Aku di sini tak sekedar mencari pengetahuan
Aku belajar tentang kehidupan
Belajar menjadi orang yang menghargai perjuangan
Menebar manfaat untuk ummat
 Dan mengarungi kehidupan sehari-hari dengan mandiri

Ayah, bunda…Meski perih mengiris seluruh jiwa
Aku akan mencoba berdiri di atas keteguhanku
Menjemput mimpi tertinggi
Menghadirkan kebahagiaan hakiki
Untuk sepasang manusia yang begitu berarti
Allah ada bersamaku
Allah akan menjagaku dan menjagamu
Allah akan kirimkan pesan-pesan kerinduanku padamu
Dalam kekhusyuan sujud penghambaan pada-Nya
Sekuat semampu ku kan berjuang melawan kerasnya gejolak dunia

Ber-Tuhan Membuatku Bertahan

Tak selalu yang tampak indah ialah tak menyimpan gundah
Mungkin resah tak terlihat di wajah
Pun lelah tak terpandang oleh mata
Padahal ia ada
Luka yang bersembunyi di balik bahagia
Ini fana
Semuanya hanya setitik hina
Kemolekan dunia berselimut fatamorgana

Kesakitan mencari yang tak abadi telah banyak mengiris rasa
Tapi tak cukup mengeringkan airmata Dunia tak layak ditangisi
Karena yang hakiki adalah kehidupan ukhrawi
Seribu rintangan dunia akan kulewati
Meski perih, menguras letih, sedangkan aku ini ringkih
Kutahu Tuhanku takkan henti mengusap duka di muka
Melalui janji-Nya yang tiada dusta
Karena pertemuan dengan-Nya adalah asa tertinggi
Penguat setiap langkah yang dijejakkan kaki

Ya Allah..Rabbi Penguasa Hati Dekap aku dalam kesyahduan cinta-Mu
Jangan biarkan aku jatuh pada manisnya dunia yang menipu
Hanya Engkau tempatku mengadukan segala derita
Juga tempatku mencurahkan segala rasa Rabbi…terangi hati ini dengan cahaya ketegaran
Sampai tiba saatnya mati merenggutku dari kehidupan

Ayah

Kutahu senyummu selalu ada
Seperti halnya cinta yang tersimpan di dada
Hanya untukku, anakmu tercinta
Hanya demiku, sang cahaya asa

Kumengerti ada ketulusan kasih di jiwa Yang bersembunyi di balik lelah yang menyiksa
Meski dalam kau simpan semua rasa Kumampu membaca semua pesan cintamu..

Ayah… mungkin pelukmu tak sehangat sentuhan bunda
Juga tuturmu tak banyak kudengar di telinga
Tapi bukan berarti tak ada cinta
Bukan berarti kau tak pernah ada

Ayah...ajari aku tuk menjadi insan yang mulia
Menjadi cahaya yang menerangi langkahmu ke Surga
Ayah…meski tak banyak waktu kita bersama di dunia
Kuharap jalinan cinta ini abadi selamanya Hingga tiada lagi kusesali sebuah kebodohan diri
Saat terbesit keegoan
Kala nurani disesaki keangkuhan Menuntutmu ada di setiap detik kehidupan Padahal tanpa kumeminta, kau telah ada Kau selalu ada … di balik semua resahku