Kamis, 05 Juli 2018

Jalan Langit


 
Saat pintu langit terbuka,
kuterbangkan namamu dalam doa
Benar, kamu...
Seseorang yang telah Allah pilihkan untukku



Pada setiap detik kehidupan...
Aku sangatlah mengerti... bahwa semua akan berganti
Kelam tak selalu berujung suram
Adakalanya cahaya turut bersulam
Membiarkan masa lalu meredam
Telah kusaksikan kegigihan perjuanganmu
Mengelola iman demi pencarian atas cinta Tuhan
Sejak itu... kutinggalkan semua ingatan tentangmu dahulu
Tanpa ragu... sebab kamu telah bertekad dengan sungguh
Jauh...jauh sekali telah kau tutup masa lalu
Kepada langit kini kusebut namamu
Dalam penghambaan sepertiga malam nan syahdu
Semoga istiqomah tertanam pada jiwamu
Sampai akhirnya Tuhan kan angkat bicara
Siapa di balik doa yang selalu diterbangkan penuh lara
Adalah aku yang selalu menukar malam...dengan tangis doa saat jalan langit (arsy) terbuka

Selamat malam untukmu yang masih terjaga. . .

Goresan Rindu (untuk sahabat)


Pada senja telah kuteguk secangkir rindu
Saat paling menyakitkan...
Merelakan sang biru terbenam
Berganti jingga bersama nyanyian penuh sayatan



Sahabat... Bagaimana kabarmu?
Hari ini aku benar-benar merindu
Apakah masih kau inginkan perjumpaan seperti dahulu?
Saat kita tak pernah berpikir pada sebuah perpisahan
          Sahabat... Seperti apa rupamu kini?
          Batas negara telah memisahkan kita
          Kau di sana, tetapi aku tetap sama...
          Menyayangimu walau telah lama tiada jumpa
Sahabat kecilku... Kuharap engkau tidak lupa
Dahulu kita pernah berjanji... akan bercerita pada hari ini
Ya, hari ini
Ketika kau kembali menemui tanah lahir
Tempat sejuta cerita pernah terukir
          Sahabatku... aku masih di sini
          Menanti dirimu berkenan membagi waktu
          Tuk mengulang masa indah yang amat kurindu

Rabu, 04 Juli 2018

...Tetapi Cinta Itu Karunia-Nya


(Oleh Ustadz Salim A. Fillah, dalam buku Agar Bidadari Cemburu Padamu)

“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa yang diingini (syahwat) dari wanita-wanita, anak-anak, dan harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, ternak, dan sawah ladang...”(Ali ‘Imran :14)

Cinta, ruh yang mengalir lembut, menyenangkan, bersinar, jernih, dan ceria. Terkadang juga bermanifestasi menjadi luh yang mengalir lembut, menyesakkan, berderai, jerih, dan badai... Tak pernah ia dihukumi haram. Karena ia bukan virus yang memberikan penyakit pada jiwa seperti yang kita salahtafsirkan. Justru cinta adalah makhluq Allah yang harus dijaga kesehatannya dari setiap penyakit yang mencoba menungganginya. Penyakit yang datang dari syahwat, syaithan, maupun syubhat.

Dua remaja di singsingan fajar risalah, Fathimah dan ‘Ali mencontohkan bagaimana cinta hidup, dengan sehat, tanpa penyakit yang mengganggu kekhusyu’an. Ia menjadi rahasia hati, simpati, ketertarikan, kontrol diri, do’a, dan harapan. Saking rahasianya, sampai syaithan pun tak tahu.
Begitu pun, saat Muhammad ibn ‘Abdullah ditanya, maukah ia menikah dengan Khadijah, ia berkata segera, “Bagaimana caranya?”. Perhatikanlah intonasi penuh antusiasme ini. Cinta itu sudah tumbuh dan bersemai dalam dirinya. Persis seperti siratan makna dari sabdanya bertahun-tahun kemudian:
“Tiada terlihat, bagi dua orang yang saling mencintai..Yang seperti pernikahan.” (HR Ibnu Majah)

Seperti bunga, cinta sejati takkan mampu menyembunyikan semerbak wanginya. Eksistensi cinta mengejawantah dalam kelembutan, kecerdasan, perbaikan diri, keshalihan, dan tentu juga keikhlasan. Tanpa keikhlasan yang digantungkan pada Pemilik ‘Arsy Maha Tinggi, ia akan mati. Ia mati, persis seperti setangkai mawar yang dipotong hanya untuk dipersembahkan pada kekasih.

“Dan hendaklah menjaga kesucian dirinya, orang-orang yang belum mampu menikah, hingga Allah mengayakan mereka dari karunia-Nya.” (An Nuur :33)

Pastinya engkau tahu apa makna keikhlasan dalam setiap amal. Dan ketidaktahuan adalah isyarat agar kita mengkaji. Cinta yang tercerabut dari tangkai keikhlasan akan menjadi bunga potong yang mungkin sesaat merona, dan selanjutnya masuk ke tempat sampah.

Saat kemampuan menikah belum di tangan, biarlah cinta berekspresi menjadi keshalihan, perbaikan diri hari demi hari. Karena samapta janji Ilahi telah terukir dipelataran wahyu: keshalihan menjumpai keshalihan dan kebusukan menjumpai kebusukan.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan lelaki yang keji adalah untuk perempuan yang keji. Dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik, dan lelaki yang baik adalah untuk wanita yang baik...” (An Nuur :26)

Bagaimana dengan yang saling cinta dan berkomitmen untuk tidak pacaran? Pada beberapa kasus, tetap saja ia tumbuh tidak sehat. Apalagi jika tetap berada dalam satu lingkungan yang keterjangkauan komunikasinya tinggi. Kecuali beberapa yang sangat sedikit jumlahnya. Jebakan-jebakan syaithan terlalu rumit untuk kita pahami terlebih dahulu hingga kita punya solusi dan prevensi. Sejak zaman Adam dan Hawa, hanya kata taqwa, termasuk taqwa dalam interaksi, yang mampu meredam makar syaithan.

Tak perlulah berkata, “Tunggu aku tiga tahun lagi!”. Apa perlunya menjanji yang tak pasti. Tak diminta pun bidadari pasti menanti. Dan lelaki langit akan datang bersama cahaya. . .

Sulitkah mencintainya?

Wallaahu a’lam

Bukan Cinta Dunia


Adakalanya dalam hidup ini, ingin kutengok masa lalu
Sekedar mengira, seberapa jauh aku telah melaju
Agar dapat kuingat lagi betapa sulit kala memulai untuk melangkah
Mengokohkan tekad bersambut raga yang siap menempuh hijrah

Andai kusadari sejak dahulu
Betapa dunia dengan cantiknya telah menipu
Yang kucari tak kunjung menentramkan jiwa
Hanya melintas sesaat, lalu dilema menampakkan muka

Pada dunia telah sengaja kulempar permusuhan
Agar padanya, cintaku tak tumbuh membesar
Bukan ia yang mampu mendamaikan hati
Melainkan Allah...di jalan-Nya kurengkuh kebahagiaan hakiki