Rabu, 25 Januari 2017

Potret Kesetiaan Na'ilah binti Al-Farafishah

(dikisahkan dalam buku 30 Sirah Tokoh Wanita Tabi’in karangan Ahmad Khalil Jum’ah)

Na’ilah binti Al-Farafishah adalah istri Khalifah Utsman bin Affan, seorang penyair, berlisan fasih, cakap berpidato, setia, dan do’a-doanya dikabulkan.

Na’ilah bukanlah seorang yang terkenal di masa awal Islam. Beliau hanya dikenal di antara keluarga dan handai taulannya. Kampung halaman beliau adalah sebuah daerah bernama Samawah, di dekat Kufah. Namun, beliau memulai sebuah perjalanan menuju ketenaran. Perjalanan itu dimulai sejak beliau menjadi istri Khalifah Utsman bin Affan ra, yakni saat keduanya menikah pada tahun 28 Hijriah.

Sejak hidup di Madinah, beliau mulai sering mengunjungi Ibunda Aisyah ra. Telah tercatat, beberapa hadits beliau riwayatkan dari Ibunda Aisyah, selaian dari suami beliau sendiri, Utsman bin Affan. Sedangkan para perawi yang meriwayatkan dari beliau antara lain An-Nu’man bin Basyir Al-Anshari, Ummu Hilal binti Waki’, dan yang lainnya. Di antara hadits yang beliau riwayatkan adalah beliau berkata, “Ibunda Aisyah mengimami shalat bersama kami dan beliau berdiri di depan, bagian tengah.”

Selama hidup bersama Utsman, beliau menunjukkan diri sebagai istri yang paling baik, taat, dan amanah. Beliau berusaha sebisa mungkin mencintai dan membahagiakan suaminya, sehingga beliau benar-benar mendapatkan tempat yang sangat istimewa di hati suaminya. Salah satu pujian Utsman kepada Na’ilah adalah perkataan Utsman, “Aku tidak pernah bertemu dengan wanita yang lebih cerdas dari Na’ilah. Bahkan kecerdasannya bisa mengalahkan kecerdasanku.” 

Pada perang zaman fitnah, yaitu tahun 35 Hijriah, Na’ilah mempunyai sebuah sikap yang menunjukkan bahwa beliau adalah wanita yang berani dan penuh pengorbanan. Ketika para pemberontak sudah tersebar di Madinah, mereka bermaksud membunuh Utsman bin Affan. Saat itu Na’ilah rela melindungi Utsman, walaupun dirinya menjadi taruhan.

Saat para pemberontak berhasil masuk rumah Utsman, mereka menyerang beliau dengan pedang. Saat itu, Na’ilah menjadikan dirinya sebagai tameng untuk menghalangi suaminya dari ayunan pedang. Namun pedang itu tidak terhalang, tubuh dan tangan Utsman terkena, dan mengeluarkan darah. Tetesan pertama darah jatuh pada Al-Qur’an dan tepat mengenai ayat,

فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللّٰهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mangetahui.” (Al-Baqarah: 137)

Beberapa saat kemudian, datang lagi seorang pemberontak dengan menghunuskan pedangnya. Laki-laki itu dihadang oleh Na’ilah agar tidak dapat sampai pada suaminya. Pedang yang ada di tangan pemberontak itu direbutnya, namun jemari Na’ilah justru terkena dan putus dari tangannya. Laki-laki itu pun berhasil sampai kepada Utsman dan mengayunkan pedangnya, mengenai tubuh Utsman hingga beliau syahid dengan dizalimi oleh para pemberontak tersebut. Peristiwa itu terjadi pada waktu dhuha hari Jum’at.

Pada saat itu terjadi huru-hara yang hebat, sehingga jenazah Utsman tidak dapat dikubur pada siang hari. Na’ilah menangis dengan sangat sedih. Karena ingin menghormati jenazah suaminya, beliau bersikeras untuk turut mengubur dan menshalatinya. Shalat jenazah diimami oleh Jubair bin Muth’im. Yang turut hadir dalam sholat tersebut di antaranya Na’ilah dan istri lain Utsman yang bernama Ummul Banin binti ‘Uyainah bin Hishn. Kedua wanita tersebutlah yang mengangkat jenazah untuk diberikan kepada orang-orang laki-laki yang sudah berada di dalam lubang kubur. Setelah menutup kuburan, mereka segera meninggalkan tempat itu.

Ketika masa iddah yang berlangsung selama empat bulan sepuluh hari, Na’ilah tidak berhias diri, dan tidak keluar rumah walaupun ke rumah ayahnya sendiri. Semua ini adalah salah satu gambaran kesetiaan beliau kepada suaminya. Na’ilah pun berkomentar tentang pembunuhan suaminya, “Kalian telah membunuh Utsman, padahal beliau selalu selalu melaksanakan qiyamul-lail dengan mengkhatamkan Al-Qur’an.” Na’ilah pun merasa enggan untuk menikah kembali. Rasa cinta dan kesetiannya kepada suami yang sudah meninggal membuatnya ingin kenangan bersama suaminya tetap kekal.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari beberapa gurunya yang berasal dari bani Rasib. Beliau berkata, “Ketika kau sedang melakukan thawaf di Ka’bah, kulihat ada seorang buta yang juga melakukan thawaf. Orang itu berdo’a, ‘Ya Allah, ampunilah aku. Tapi aku lihat Engkau tidak mengampuniku.’ 

Aku segera berkata kepadanya, “Wahai saudaraku, bertakwalah kepada Allah, mengapa engkau berkata seperti itu?” Laki-laki itu menjawab, “Aku mempunyai sebuah masalah. Aku dan seorang temanku pernah bersumpah, kalau Utsman bin Affan terbunuh, kami akan menampar wajahnya. Setelah beliau terbunuh, kami masuk rumahnya. Kami dapati Utsman sudah terbujur, dipangku oleh istrinya, Na’ilah binti Al-Farafishah.

Temanku berkata kepada wanita itu, “Bukalah wajahnya.” Na’ilah bertanya, “Untuk apa??” “Aku ingin menampar wajahnya,” jawab temanku. Maka Na’ilah berkata, “Apa engkau tidak tahu tentang laki-laki ini? Tentang beliau, tentang Rasulullah SAW pernah berkata banyak hal tentang keutamaan laki-laki ini?” Maka temanku pun malu dan mundur pergi.

Aku maju mendekati. Kukatakan pada Na’ilah, “Bukalah wajahnya.” Na’ilah pun bangkit bermaksud untuk mengusirku. Aku berhasil menampar wajah Utsman dan Na’ilah marah. Beliau berdo’a, “Semoga Allah SWT mematikan tanganmu, membutakan matamu, dan tidak mengampunimu.”

“Demi Allah, tidak lama kemudian, tanganku tidak lagi bisa digerakkan, dan mataku tak lagi bisa melihat. Aku pun tahu bahwa Allah SWT tidak akan mengampuniku.”

Demikianlah, do’a Na’ilah dikabulkan Allah SWT. Allah SWT tidak menyia-nyiakan pahala wanita sholihah ini yang selalu berjalan dengan kebenaran, sehingga Allah pun mengabulkan doanya atas orang yang telah berbuat kezaliman kepada suaminya. 

Senin, 23 Januari 2017

Cahaya di Atas Cahaya

بسم اللّه الرّحمن الرّحيم

اللّهمّ صلّى على سيّدنا محمّد و على اله

Goresan kali ini adalah tentang Keutamaan Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam, Sang Pembawa Cahaya dan Sumber Cahaya bagi seluruh alam.

Catatan ini diperoleh dari ta'lim mingguan majelis TA'ARUF (Cinta Agama Remaja Al-Ma'ruf) yang dilaksanakan tiap Ahad malam. Nah, pada pekan ini kitab yang dipelajari adalah kitab Mizanul Kubro yang disampaikan oleh guru kami, al-mukarrom ustadz Sainan.

Sebagai remaja yang peduli agama... (pencitraan banget sih, wkwk) aku ingin berbagi sedikit 'ilmu yang telah kuterima di majelis TA'ARUF tercinta.

Ini dia.................. 👇👇👇

Ada sebuah bait syair yang berbunyi :
مُحَمّدٌ بَشَرٌ لَيْسَ كَالْبَشَرِ

Artinya: Nabi Muhammad adalah manusia yang tidak seperti manusia biasa.

Dari bait syair tersebut, tentunya akan muncul pertanyaan dalam benak kita. Mengapa dikatakan bahwa Nabi Muhammad tidak seperti manusia biasa?

Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah karena Nabi Muhammad memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya di seluruh dunia pada seluruh zaman, yakni sebagai berikut.

1. Nabi Muhammad tidak pernah bermimpi sampai mengeluarkan air mani seumur hidupnya.

2. Nabi Muhammad tidak pernah menguap (karena mengantuk) sepanjang zaman.

3. Binatang kecil yang melata di muka bumi tidak menjauhi Nabi Muhammad. Bila berada di dekat Nabi Muhammad, binatang-binatang itu tampak tenang sambil bersholawat kepada Nabi Muhammad.

  • Dikisahkan dalam sebuah perjalanan hijrah Nabi Muhammad bersama dengan sahabatnya, Abu Bakar dari Mekkah ke Madinah, keduanya bersembunyi di dalam gua tsur guna menyelamatkan diri dari kejaran kaum kafir Quraisy. Di dalam gua, Nabi Muhammad tertidur. Abu Bakar yang selalu siap siaga menjaga Nabi Muhammad terkejut saat melihat ada lubang ular di dalam gua, ia pun khawatir bahwa nanti akan ada ular yang keluar dari lubang itu dan menyakiti Nabi Muhammad. Abu Bakar pun berinisiatif untuk menutup lubang tersebut dengan telapak kakinya. Namun apa yang terjadi? Ular yang berada di dalam lubang itu menggigit kaki Abu Bakar, lalu ular itu protes kepada Abu Bakar, "Mengapa kamu menghalangiku untuk melihat wajah teduh Nabi Muhammad Sang Rasul Pilihan Allah? Sesungguhnya aku ingin sekali melihat wajahnya dan berada di dekatnya."

SubhaanAllaah...

Kisah tersebut menggambarkan betapa terkesimanya binatang-binatang terhadap Nabi Muhammad. Itu merupakan salah satu bukti bahwa hadirnya Nabi Muhammad adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam. صلّو على محمّد  

Masih fokus kan, readers? Jangan ikutan terkesima gitu deh sama penulis catatan ini 😆😜 (astaghfirullaahal 'azhiim)

Oke, kita lanjutkan yaa ... keistimewaan Nabi Muhammad yang berikutnya adalah..

4. Seekor lalat tidak pernah hinggap di tubuh Nabi Muhammad karena harumnya tubuh Nabi Muhammad SAW.

5. Nabi Muhammad memiliki kemampuan melihat apa yang ada di belakangnya. Sehingga beliau berpenglihatan ganda, yakni depan dan belakang.

6. Bekas buang air kecil Nabi Muhammad tidak terlihat bekasnya di alam terbuka.

7. Hati Nabi Muhammad tidak pernah tidur sekalipun dalam keadaan mata terpejam (tidur).

8. Bayangan tubuh Nabi Muhammad tidak dapat dilihat di bawah terik matahari. Hal ini dikarenakan cahaya matahari terkalahkan oleh cahaya Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ (Cahaya di atas cahaya).

يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، أَنْتَ شَمْسٌ
 أَنْتَ بَدْرٌ، أَنْتَ نُوْرٌ فَوْقَ نُوْرٍ

9. Kedua pundak Nabi Muhammad lebih tinggi dari suatu kaum apabila duduk bersama.

10. Nabi Muhammad lahir sudah dalam keadaan khitan, sehingga beliau terjaga (suci) dari campur tangan manusia.

Demikian itulah 10 keistimewaan Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam. Semoga menambah wawasan readers dan bermanfaat untuk semua, serta menambah kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW😊 Aamiin

وَصَلَّ اللّٰهُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

 سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، اَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا أَنْتَ  
 اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ     

Jumat, 13 Januari 2017

Pendampingku

Merengkuh-Mu dalam gelap
Meraih-Mu walau pengap
Bersama-Mu aku akan tetap berdiri tegak
Meski telah lama tersiksa dalam sesak

Kau...
Penentu kisah hidupku 
Hidup dan matiku di tangan-Mu
Jangan biarkan iman ini runtuh
Diterpa cobaan nan silih bergemuruh

Kan kucari Engkau dalam khidmat
Tuk akhir sebuah perjalanan berbuah nikmat

Kata Hati

Kata hati...
Suara yang tak pernah terdengar
Meski terus membisik sayup

Kata hati...
Serpihan cerita yang menyusup di balik sepi

Kata hati...
Kau merasakannya meski entah dari mana asalnya

Kata hati...
Tempat bermula kau hadirkan cinta atau benci

Selasa, 10 Januari 2017

Meniti Terang

(Puisi untuk murid-muridku tercinta, para bintang kecil penghias jejakku di atas bumi. Always love u all, dears)



Semilir udara berhembus menyapu sang biru
Jingga pun menampakkan diri pada ufuk senja
Kian sendu bak raut bermuram durja
Menata irama jejak simfoni dunia

Senandung rindu membawa pergi isyarat hati
Menghinggapi kepingan rasa yang bersembunyi
Merdu terdengar di relung jiwa yang sunyi

Detak cinta kian riuh menggelora
Berdegup menggebu dalam sukma
Tahukah kiranya mengapa 
Sebab kita lekat dalam hangatnya cengkrama

Jumpa kita ialah pelipur segala lara
Penawar resah dan gundah gulana

Bila hariku ibarat langit malam 
Maka setiap kata yang meluncur saat mata beradu pandang
Ialah cahaya yang berpendar dalam suram
Jangan biarkan ia tenggelam
Tetaplah menerangi jejak impian yang hampir mengelam
Jadilah rembulan dan bintang
Yang selalu dirindukan malam tuk menghapus kelam

Senin, 09 Januari 2017

Sepenggal Rindu

Sepenggal rindu biarlah berlalu
Meninggi menjauh di atas lazuardi biru
Sebab rindu tak lain bayang semu
Yang memenjara kata-kata dalam lisan kelu

Sepenggal rindu biarlah usang
Terpendam lalu hilang
Sebab rindu hanyalah sebuah angan
Tiada rupa, tanpa pertanda

Sepenggal rindu biarlah pergi
Berpulang pada Sang Penguasa Hati
Sebab rindu tak pantas dimiliki
Hingga sang waktu memecah kesunyian menanti

Selasa, 03 Januari 2017

Memandangmu Dari Jauh


Memandangmu dari jauh
Menelusuri lintasan do’a dan sujud panjang
Pada keheningan waktu di atas sajadah yang terbentang

Memandangmu dari jauh
Melewati padang gersang sebuah pencarian
Mengembara angan nan tinggi meninggalkan daratan

Menemukanmu suatu waktu
Tidak tahu kapan
Biarlah menunggu meski tanpa kepastian
Ada masanya yang dinanti kan datang berlabuh
Walau kini hanya dapat dipandang dari jauh