Minggu, 30 April 2017

Kisah Keteladanan Sang Amirul Mu'minin 'Umar bin Khattab

Bismillaahirrohmaanirrohiim.
Allaahumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa ash-haabihi wa dzurriyyatih.

(Kisah ini dikutip dari buku Nisa' Min 'Ashr At-Tabi'in karya Ahmad Khalil Jum'ah)

     Pada suatu malam, ketika para penduduk sudah tertidur pulas, Umar bin Khattab ra. berjalan-jalan mengelilingi kota Madinah. Hal itu beliau lakukan untuk mengetahui kondisi rakyatnya, sehingga bila ada kekurangan, beliau bisa langsung memperbaiki.
     Ketika sampai di pinggiran kota, beliau melihat sebuah kemah yang terbuat dari kulit binatang ternak. Suasana malam sangat gelap, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Beliau segera mendekati kemah itu. Dari arahnya terdengar suara seorang perempuan sedang merintih kesakitan. Terlihat juga seorang laki-laki yang duduk termenung.
     Umar bin Khattab ra. mendekati laki-laki tersebut dan bertanya kepadanya, "Siapakah kamu?" Dia menjawab, "Aku seorang penduduk daerah Badui, yang datang kemari untuk meminta bantuan kepada Amirul Mu'minin." Umar kembali bertanya, "Suara apa yang berasal dari kemahmu itu?"
     Laki-laki itu menjawab, "Sudahlah, sebaiknya engkau pergi untuk menyelesaikan urusanmu." Umar ra. berkata, "Tentu, tapi apa yang sedang terjadi?" Laki-laki itu akhirnya berkata, "Istriku akan melahirkan." Umar ra. langsung bertanya lagi, "Apa ada orang yang sedang mmbantunya?" Jawab laki-laki itu, "Tidak ada. Kami di sini hanya berdua, karena di sini kami orang asing."
     Umar ra. pun segera pulang ke rumahnya. Beliau berkata kepada istrinya, "Wahai istriku, Ummu Kultsum binti 'Ali, maukah engkau menerima pahala yang Allah swt. datangkan kepadamu malam ini?" Ummu Kultsum menjawab, "Tentu, apa itu?" Umar menjawab, "Ada seorang wanita asing yang akan melahirkan. Tidak ada orang sama sekali yang membantunya."
     Ummu Kultsum berkata, "Baiklah, aku mau membantu jika memang engkau menginginkannya, wahai Amirul Mu'minin." Umar ra. pun berkata, "Kalau begitu, bawalah segala hal yang dibutuhkan wanita yang melahirkan, baik kapas maupun minyak. Setelah itu, tolong ambilkan periuk untuk memasak, mentega, tepung, dan biji-bijian."
     Setelah semuanya siap, beliau berkata kepada istrinya, "Ayo kita berangkat, engkau ikuti aku." Mereka pun berjalan. Umar ra. memikul sendiri periuk untuk masak, mentega, dan tepung, sedangkan Ummu Kultsum mengikuti di belakangnya sambil membawa peralatan yang dibutuhkan wanita itu. Setelah sampai di kemah tersebut, Umar segera berkata kepada Ummu Kultsum, "Sekarang engkau masuk ke dalam kemah itu."
     Beliau sendiri duduk dan menyiapkan periuk untuk segera memasak. Beliau berkata kepada laki-laki yang berada di dekatnya, "Tolong engkau nyalakan api." Laki-laki itu pun segera menyalakan api di bawah periuk, lalu mengaduk isi periuk hingga masak.
     Tak lama kemudian, wanita itu pun berhasil melahirkan. Segera terdengar tangisan seorang bayi dari dalam kemah. Ummu Kultsum keluar dan berkata, "Wahai Amirul Mu'minin, berilah kabar gembira kepada temanmu itu, bayinya laki-laki."
     Laki-laki itu terkejut ketika mendengar kata 'Amirul Mu'minin'. Dia langsung bergerak minggir karena rasa malu. Berkali-kali lelaki itu meminta maaf karena ketidaktahuannya. Umar berkata kepadanya, "Tidak apa-apa. Tetaplah di sana. Tidak usah menjauh seperti itu."
     Umar membawa periuk yang berisi masakan yang sudah matang ke depan pintu kemah. Beliau memanggil istrinya, "Ambillah periuk ini dan suapi temanmu itu." Setelah selesai menyuapi perempuan Badui yang baru saja melahirkan, Ummu Kultsum meletakkan periuk di depan pintu kemah. Umar mengambil periuk dan memberikannya kepada laki-laki itu, "Sekarang giliranmu. Makanlah. Kamu terlihat letih karena begadang sepanjang malam." Laki-laki Badui itu pun segera makan.
     Setelah itu, Umar memanggil istrinya, "Ayo keluarlah." Umar berkata kepada laki-laki itu, "Besok datanglah kepadaku. Insya Allah Baitul Mal akan memberikan semua yang engkau butuhkan."

     Kebahagiaan besar pun dirasakan oleh laki-laki Badui. Ada pun perasaan bahagia dirasakan oleh Ummu Kultsum karena pahala yang Allah swt. berikan pada malam itu. Sebuah amal kebaikan yang sangat besar.

Wallaahu a'lam

Senin, 24 April 2017

Kembara Dua Jiwa


Di sini ku berdiam menanti hadirmu
Merindumu dalam untaian doa
Melipur resah andai kita takkan bersatu
Menajamkan iman manakala takdir tak seindah yang kumau

Di sana kau berjalan mencapai tujuan
Entah aku ataukah bukan
Yang kutau, kau melangkah mendekati ridho Tuhan
Takkan kujadikan insan manapun sebagai tandingan
Sebab cinta telah kutitipkan seutuhnya
Pada Rabb pemilik jiwa
Andai kembaramu tak pernah sampai pada penantianku
Tidaklah mengapa ...
Mungkin harapku terlalu berlebih
Aku takkan bersedih
Kurelakan jiwa kita berjalan sendiri-sendiri
Berkelana menemukan sesosok tambatan hati


Jumat, 21 April 2017

Sepasang Sayap


Di langit biru kulepaskan harapan
Berpalinglah rindu berganti keikhlasan melupakan
Bukan tanda cintaku telah padam
Hanya saja kusadari perasaanku terlalu dalam

Di langit biru kuhamparkan isi hati
Tentangmu, tentangku...
Kisah kita yang tabu

Di langit biru kukepakkan sepasang sayap
Ialah iman bersama kepasrahan
Sebab denganmu kumerasa tak pantas
Meski hati sesekali berbisik mengharap

Biarkan kuhempas semua rasa ini
Biarlah membentang menaungi lazuardi
Menujumu memang yang kumau
Tetapi menerka takdir Tuhan siapakah yang mampu

Di langit biru kuhembuskan nafas cinta
Memburu kenyataan yang tiada terkira
Kamu... kutunggu...
Tuk membersamaiku terbang tinggi meraih Surga