Sabtu, 01 Juli 2017

Malam Minggu


Kepada malam minggu
Diutuslah rindu
Menyelinap qalbu
Melemah lesu

Kepada bulan purnama
Direntangkan cahaya
Lentera jiwa
Penuntun raga yang terjaga

Kepadamu pemburu asmara
Bukalah mata
Tataplah semesta
Adakah mimpimu telah membentang di sana

Jika tak kaudapati ia
Mimpimu yang telah lama diasa
Raihlah ….
Lupakan sejenak perkara cinta
Malam minggumu tiadalah nista
Andaikata kau abaikannya demi meraih cita-cita

Kamis, 29 Juni 2017

Jejak di Ujung Pena

Dalam sunyi penaku menari merangkai aksara
Hitam tinta berangkulan menyulam makna dari setiap kata
Sebab lisan tak lagi mampu bersuara
Hanya ratapan pilu yang terus mengemis rasa dalam sukma
Ada gerimis yang membasahi lubuk jiwa
Menyaksikan redupnya cahaya yang pernah bersinar di atas dunia
Nyala kemenangan berabad tahun silam, kini kian padam
Putih mulai berganti kelam, bak semburat wajah muram
Ini tentang Islamku, agama tanpa ragu
Bagaimana hati tak ingin merintih, melihat pemuda masa kini semakin acuh
Masjid tak lagi didatangi, Al-qur’an tak banyak disentuh
Haruskah aku terus mengeluh
Sedangkan ‘azzam masih terus tumbuh
Walau iman terkadang rapuh
Aku masih menantikan cahaya
Kemilau Islam yang lama didamba
Akankah kembali merona, menyambar langit dunia?
Tidak tahu
Tetapi penaku takkan berhenti mengukir jejak
Menata untaian dakwah di tengah rasa sesak
Jejak hitam akan terus menggores lembar kehidupan
Mengukir kisah pergolakan iman dalam pahit getir perjuangan
Masa ini, masa di mana cahaya Islam belum pulih
Sebab ia terhalang oleh sikap ummatnya sendiri
Terkadang malu pun aku rasa
Adakah aku bagian dari mereka?
Namun ini pula realita
Aku tak bisa menutup mata
Meski bertubi-tubi harus meloloskan airmata
Melihat para muslimah menampakkan auratnya
Juga lelaki dan perempuan tiada berbatas dalam bercengkrama
Inilah alasan mengapa aku tak banyak bersuara
Karena kelu terasa mencekat lisan
Maka biarlah kugerakkan ujung pena ini
Tuk melukiskan gambaran hati yang gamang dirundung sedih

Untukmu Kawanku

Aku tidak akan pernah bosan menyuarakan semangat untukmu, kawanku
Tidak ada kesedihan yang lebih berarti bagi seorang teman selain melihat sang sahabat tercinta termenung meratapi kegagalan perjuangan
Kau tak perlu putus asa, sayang
Kau tak perlu hentikan langkah
Inilah perjuangan, menguras tenaga bahkan mengeringkan airmata
Pandanglah ke depan, kau masih punya harapan
Bangkitlah dan usap semua duka
Tak perlulah berlama-lama berkubang luka
Aku akan selalu menopangmu saat kau mulai letih mengayunkan langkah
Teruslah bergerak, kawanku
Jangan menyerah oleh rasa lelah
Impian besar menantimu di masa depan
Maka jangan pernah kau kembali menoleh masa lalu
Biarkan ia pergi
Jangan izinkan ia datang lagi walau hanya sesaat lamanya

Minggu, 30 April 2017

Kisah Keteladanan Sang Amirul Mu'minin 'Umar bin Khattab

Bismillaahirrohmaanirrohiim.
Allaahumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa ash-haabihi wa dzurriyyatih.

(Kisah ini dikutip dari buku Nisa' Min 'Ashr At-Tabi'in karya Ahmad Khalil Jum'ah)

     Pada suatu malam, ketika para penduduk sudah tertidur pulas, Umar bin Khattab ra. berjalan-jalan mengelilingi kota Madinah. Hal itu beliau lakukan untuk mengetahui kondisi rakyatnya, sehingga bila ada kekurangan, beliau bisa langsung memperbaiki.
     Ketika sampai di pinggiran kota, beliau melihat sebuah kemah yang terbuat dari kulit binatang ternak. Suasana malam sangat gelap, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Beliau segera mendekati kemah itu. Dari arahnya terdengar suara seorang perempuan sedang merintih kesakitan. Terlihat juga seorang laki-laki yang duduk termenung.
     Umar bin Khattab ra. mendekati laki-laki tersebut dan bertanya kepadanya, "Siapakah kamu?" Dia menjawab, "Aku seorang penduduk daerah Badui, yang datang kemari untuk meminta bantuan kepada Amirul Mu'minin." Umar kembali bertanya, "Suara apa yang berasal dari kemahmu itu?"
     Laki-laki itu menjawab, "Sudahlah, sebaiknya engkau pergi untuk menyelesaikan urusanmu." Umar ra. berkata, "Tentu, tapi apa yang sedang terjadi?" Laki-laki itu akhirnya berkata, "Istriku akan melahirkan." Umar ra. langsung bertanya lagi, "Apa ada orang yang sedang mmbantunya?" Jawab laki-laki itu, "Tidak ada. Kami di sini hanya berdua, karena di sini kami orang asing."
     Umar ra. pun segera pulang ke rumahnya. Beliau berkata kepada istrinya, "Wahai istriku, Ummu Kultsum binti 'Ali, maukah engkau menerima pahala yang Allah swt. datangkan kepadamu malam ini?" Ummu Kultsum menjawab, "Tentu, apa itu?" Umar menjawab, "Ada seorang wanita asing yang akan melahirkan. Tidak ada orang sama sekali yang membantunya."
     Ummu Kultsum berkata, "Baiklah, aku mau membantu jika memang engkau menginginkannya, wahai Amirul Mu'minin." Umar ra. pun berkata, "Kalau begitu, bawalah segala hal yang dibutuhkan wanita yang melahirkan, baik kapas maupun minyak. Setelah itu, tolong ambilkan periuk untuk memasak, mentega, tepung, dan biji-bijian."
     Setelah semuanya siap, beliau berkata kepada istrinya, "Ayo kita berangkat, engkau ikuti aku." Mereka pun berjalan. Umar ra. memikul sendiri periuk untuk masak, mentega, dan tepung, sedangkan Ummu Kultsum mengikuti di belakangnya sambil membawa peralatan yang dibutuhkan wanita itu. Setelah sampai di kemah tersebut, Umar segera berkata kepada Ummu Kultsum, "Sekarang engkau masuk ke dalam kemah itu."
     Beliau sendiri duduk dan menyiapkan periuk untuk segera memasak. Beliau berkata kepada laki-laki yang berada di dekatnya, "Tolong engkau nyalakan api." Laki-laki itu pun segera menyalakan api di bawah periuk, lalu mengaduk isi periuk hingga masak.
     Tak lama kemudian, wanita itu pun berhasil melahirkan. Segera terdengar tangisan seorang bayi dari dalam kemah. Ummu Kultsum keluar dan berkata, "Wahai Amirul Mu'minin, berilah kabar gembira kepada temanmu itu, bayinya laki-laki."
     Laki-laki itu terkejut ketika mendengar kata 'Amirul Mu'minin'. Dia langsung bergerak minggir karena rasa malu. Berkali-kali lelaki itu meminta maaf karena ketidaktahuannya. Umar berkata kepadanya, "Tidak apa-apa. Tetaplah di sana. Tidak usah menjauh seperti itu."
     Umar membawa periuk yang berisi masakan yang sudah matang ke depan pintu kemah. Beliau memanggil istrinya, "Ambillah periuk ini dan suapi temanmu itu." Setelah selesai menyuapi perempuan Badui yang baru saja melahirkan, Ummu Kultsum meletakkan periuk di depan pintu kemah. Umar mengambil periuk dan memberikannya kepada laki-laki itu, "Sekarang giliranmu. Makanlah. Kamu terlihat letih karena begadang sepanjang malam." Laki-laki Badui itu pun segera makan.
     Setelah itu, Umar memanggil istrinya, "Ayo keluarlah." Umar berkata kepada laki-laki itu, "Besok datanglah kepadaku. Insya Allah Baitul Mal akan memberikan semua yang engkau butuhkan."

     Kebahagiaan besar pun dirasakan oleh laki-laki Badui. Ada pun perasaan bahagia dirasakan oleh Ummu Kultsum karena pahala yang Allah swt. berikan pada malam itu. Sebuah amal kebaikan yang sangat besar.

Wallaahu a'lam

Senin, 24 April 2017

Kembara Dua Jiwa


Di sini ku berdiam menanti hadirmu
Merindumu dalam untaian doa
Melipur resah andai kita takkan bersatu
Menajamkan iman manakala takdir tak seindah yang kumau

Di sana kau berjalan mencapai tujuan
Entah aku ataukah bukan
Yang kutau, kau melangkah mendekati ridho Tuhan
Takkan kujadikan insan manapun sebagai tandingan
Sebab cinta telah kutitipkan seutuhnya
Pada Rabb pemilik jiwa
Andai kembaramu tak pernah sampai pada penantianku
Tidaklah mengapa ...
Mungkin harapku terlalu berlebih
Aku takkan bersedih
Kurelakan jiwa kita berjalan sendiri-sendiri
Berkelana menemukan sesosok tambatan hati


Jumat, 21 April 2017

Sepasang Sayap


Di langit biru kulepaskan harapan
Berpalinglah rindu berganti keikhlasan melupakan
Bukan tanda cintaku telah padam
Hanya saja kusadari perasaanku terlalu dalam

Di langit biru kuhamparkan isi hati
Tentangmu, tentangku...
Kisah kita yang tabu

Di langit biru kukepakkan sepasang sayap
Ialah iman bersama kepasrahan
Sebab denganmu kumerasa tak pantas
Meski hati sesekali berbisik mengharap

Biarkan kuhempas semua rasa ini
Biarlah membentang menaungi lazuardi
Menujumu memang yang kumau
Tetapi menerka takdir Tuhan siapakah yang mampu

Di langit biru kuhembuskan nafas cinta
Memburu kenyataan yang tiada terkira
Kamu... kutunggu...
Tuk membersamaiku terbang tinggi meraih Surga

Minggu, 19 Maret 2017

Mendaki Waktu


Seutas rindu bersimpul pada sisi terdalam hati
Bersilang waktu penantianku disesaki kekhawatiran yang tak henti menghantui
Bilamana datangmu ku pun tak tahu
Hanyalah sunyi sesekali menyergap perasaanku

Benarkah cerita kita kan membuahkan jumpa
Ataukah angan tiada akan mendatangi dunia nyata
Berpasrahlah rasa ini pada pemilik-Nya
Hingga sebuah kisah kan menemui akhirnya

Rabu, 01 Februari 2017

Sirah Kemuliaan Hafshah binti Sirin, Wanita yang Dido'akan oleh Tiga Istri Rasulullah

(Dikisahkan dalam buku 30 Sirah Tokoh Wanita Tabi'in yang ditulis oleh Ahmad Khalil Jum'ah)

Huzail adalah anak yang sangat berbakti kepada ibunya. Beliau selalu berusaha agar ibunya hidup tenang dan bahagia. Segala sesuatu yang dapat mendatangkan keridhaan dan kebahagiaan ibunya, beliau lakukan. 

Ada sebuah kisah menarik yang terjadi antara Huzail dengan ibunya, Hafshah binti Sirin. Kisah yang menunjukkan bahwa Hafshah benar-benar telah berhasil mendidik anaknya, dan Huzail adalah benar-benar anak yang berbakti. 

Kisah tersebut disampaikan oleh Hisyam bin Hassan.

“Huzail selalu mencari kayu bakar pada musim panas. Beliau kupasi kayu tersebut, dan yang diambil adalah kayu bagian dalam. Beliau memotong-motong batang tersebut hingga menjadi kecil. Hal itu beliau lakukan karena Hafshah merasa kedinginan kalau datang musim dingin. Jika Hafshah sedang shalat dan beribadah di mushallanya, Huzail selalu menyalakan tungku api, kemudian membakar kayu-kayu yang telah disiapkan sebelumnya dengan cara membuang kulitnya. Jika dibakar, kayu tersebut tidak banyak mengeluarkan asap. Dengan begitu, ibunya merasakan kehangatan dan tidak terganggu dengan asap. Huzail selalu melakukan hal yang sama setiap malam di musim dingin sebagai rasa hormat dan bakti kepada ibunya.”

Ternyata ajal lebih dulu menjemput Huzail. Namun, Allah swt. juga memberikan Hafshah kekuatan untuk bersabar menerima suratan tersebut. Suatu malam ketika Hafshah membaca Al-Qur’an, ia sampai pada ayat:

وَلَا تَشْتَرُوْا بِعَهْدِ اللّٰهِ ثَمَنًاقَلِيْلًا إِنَّمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَاللّٰهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 95-96)

Hafshah mengulang-ulang ayat tersebut sehingga Allah swt. benar-benar menghilangkan kesedihan yang sebelumnya ia rasakan.

Siapakah sosok Hafshah binti Sirin? Mengapa namanya begitu diagungkan di kalangan Tabi’in? Mari kita simak sirah wanita hebat yang disebut-sebut sebagai wanita pemilik warisan sejati.

Sosok yang kita bahas sekarang adalah wanita yang benar-benar dapat mewarisi keistimewaan keluarganya. Keistimewaan yang dimaksud adalah kecintaan kepada ilmu, dan kesungguhan dalam membaca.

Beliau lahir dan tumbuh dewasa dalam sebuah keluarga yang penuh dengan ilmu, takwa, wara’, dan kezuhudan. Beliau juga telah lulus dari madrasah para sahabat. Beliau adalah seorang ahli fiqih, wanita Anshar dan Bashrah. 

Ayah beliau bernama Sirin, seorang hamba sahaya yang dimiliki oleh Anas bin Malik ra. Sebelumnya, beliau adalah hamba sahaya milik Khalid bin Walid ra. Beliau menjadi hamba sahaya setelah ditawan dalam sebuah perang di ‘Ain Tamar, sebuah wilayah di Anbar Irak. Ketika dalam kepemilikan Anas bin Malik ra., beliau berusaha menebus dirinya hingga akhirnya menjadi seorang yang merdeka.

Tidak lama kemudian, Sirin menikahi seorang wanita bernama Shafiah, seorang hamba sahaya yang dimiliki Abu Bakar Ash-Shidiq ra. Shafiah adalah seorang wanita yang sangat baik. Beliau juga seorang wanita yang sangat beruntung karena didoakan oleh tiga orang istri Rasulullah saw.

Demikianlah, Hafshah terlahir pada sebuah keluarga yang sangat mulia. Cukuplah menjadi kebanggaan bahwa tuan mereka adalah seorang sahabat yang sangat agung, yaitu Anas bin Malik ra. Keluarga ini dibentuk dan dipelihara dalam bimbingan beliau. Banyak juga sahabat yang turut memeliharanya, di antaranya adalah Ibunda Aisyah ra. dan Ummu Athiyah Al-Anshariyah ra.

Hafshah menuntut ilmu dan haditsnya dari para tabi’in. Beliau meriwayatkan hadits dari Yahya (saudaranya), juga dari Abul Aliyah Rafi’ bin Mahran Al-Bashari, seorang imam ahli qira’at, penghafal hadits, dan juga mufassir. Adapun yang meriwayatkan hadits dari Hafshah terdapat sejumlah tokoh tabi’in seperti Muhammad bin Sirin (saudaranya sendiri), Qatadah, Ayyub. Ibnu ‘Aun, Hisyam bin Hassan, dan masih banyak yang lainnya.

Hadits-hadits beliau banyak tertulis dalam kitab-kitab shahih, sunan, dan musnad. Di antara hadits yang diriwayatkannya adalah sebuah hadits yang menerangkan masalah cara memandikan mayat, yang diriwayatkan dari Ummu Athiyah Al-Anshariyah ra. Beliau berkata, “Ketika Zainab putri Rasulullah saw. meninggal dunia, Rasulullah bersabda, ‘Mandikanlah dia dengan jumlah yang ganjil, tiga atau lima kali. Pada kali yang terakhir, campurkanlah dengan wewangian. Jika kalian sudah selesai memandikan, beri tahu aku.” Setelah selesai memandikannya, beliau memberi kami selembar kain.

Selain meriwayatkan banyak hadits, Hafshah juga merupakan wanita yang sangat memahami ilmu Al-Qur’an. Beliau dapat memahami dan menghafalkan Al-Qur’an, sehingga tidak mengherankan jika banyak orang yang berdatangan menemui beliau untuk menanyakan masalah apa saja yang menyulitkan mereka. Beliau telah hafal Al-Qur’an sejak berumur dua belas tahun. Sejak itu pula beliau hidup siang malam dalam naungan Al-Qur’an. Beliau mempunyai hati yang selalu terhubung dengan Allah swt. Al-Qur’an menjadi wirid harian yang membasahi bibirnya. Setiap malam, belum lagi fajar menyingsing, beliau telah membaca setengah Al-Qur’an. Beliau tidak pernah meninggalkan wirid Al-Qur’annya.

Hafshah termasuk wanita yang paling baik dalam hal ibadah, agama, menjaga kemuliaan diri, kemurahan hati, dan kebaikan akhlak. Beliau selalu mengkhususkan sekian waktu di malam hari untuk melaksanakan tahajjud dan munajat. Mahdi bin Maimun pernah bercerita tentang Hafshah, “Selama tiga puluh tahun, Hafshah tidak pernah keluar dari tempat ibadahnya, kecuali untuk menemui tamu dan untuk menyelesaikan urusannya.”

Hisyam bin Hassan dengan demikian indah menerangkan bagaimana Hafshah beribadah, “Beliau pergi ke masjid pada siang hari untuk melaksanakan shalat zuhur, kemudian beliau melanjutkannya dengan shalat ashar, maghrib, isya dan subuh. Baru setelah matahari agak tinggi, beliau keluar dari masjid setelah sebelumnya melaksanakan shalat sunnah terlebih dahulu. Saat keluar itulah beliau gunakan untuk tidur dan mengambil air wudhu. Jika waktu zuhur tiba, beliau kembali ke masjid dan melakukan seperti yang dilakukan sebelumnya.”

Selain shalat dan keshalihannya, Hafshah juga dikenal sebagai salah seorang yang berpuasa setiap harinya. Sejak beliau dewasa, tidak pernah sehari pun beliau tidak berpuasa, kecuali pada dua hari raya dan hari-hari tasyriq, karena pada hari-hari itu diharamkan berpuasa.

Ada sebuah cerita yang dapat menjadi bukti bahwa Hafshah berpuasa setiap hari. Cerita itu, anak beliau yang bernama Huzail mempunyai seekor unta yang bisa menghasilkan susu sangat banyak. Pada suatu siang, beliau mengirimkan satu baskom susu kepada ibunya. Ketika diberi, Hafshah menolak dan berkata, “Wahai anakku, engkau tidak tahu kalau aku tidak akan meminumnya? Aku sedang berpuasa.” Huzail pun berkata lagi, “Wahai ibuku, ini adalah susu yang paling enak. Ambillah sesuka hatimu.” Akan tetapi, Hafshah lebih memilih ridha Allah swt. daripada susu itu. Beliau kemudian membagi-bagikan susu itu kepada para fakir miskin.

Hafshah hidup hingga berumur tujuh puluh tahun. Sepanjang tujuh puluh tahun juga, beliau menjadi teladan bagi wanita muslimah. Teladan bahwa seorang wanita harus wara’, shalihah, dan bertakwa kepada Allah swt. Tujuh puluh tahun tersebut telah menjadikan Hafshah sebagai wanita tabi’in yang akan selalu dikenang dengan perasaan penuh bahagia. Semoga Allah merahmati Hafshah dan menempatkannya di tempat yang mulia. 

Semoga kita sebagai ummat manusia yang tidak hidup bersama Rasulullah saw maupun para sahabat, dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari sirah seorang wanita tabi’in mulia, Hafshah binti Sirin.

Rabu, 25 Januari 2017

Potret Kesetiaan Na'ilah binti Al-Farafishah

(dikisahkan dalam buku 30 Sirah Tokoh Wanita Tabi’in karangan Ahmad Khalil Jum’ah)

Na’ilah binti Al-Farafishah adalah istri Khalifah Utsman bin Affan, seorang penyair, berlisan fasih, cakap berpidato, setia, dan do’a-doanya dikabulkan.

Na’ilah bukanlah seorang yang terkenal di masa awal Islam. Beliau hanya dikenal di antara keluarga dan handai taulannya. Kampung halaman beliau adalah sebuah daerah bernama Samawah, di dekat Kufah. Namun, beliau memulai sebuah perjalanan menuju ketenaran. Perjalanan itu dimulai sejak beliau menjadi istri Khalifah Utsman bin Affan ra, yakni saat keduanya menikah pada tahun 28 Hijriah.

Sejak hidup di Madinah, beliau mulai sering mengunjungi Ibunda Aisyah ra. Telah tercatat, beberapa hadits beliau riwayatkan dari Ibunda Aisyah, selaian dari suami beliau sendiri, Utsman bin Affan. Sedangkan para perawi yang meriwayatkan dari beliau antara lain An-Nu’man bin Basyir Al-Anshari, Ummu Hilal binti Waki’, dan yang lainnya. Di antara hadits yang beliau riwayatkan adalah beliau berkata, “Ibunda Aisyah mengimami shalat bersama kami dan beliau berdiri di depan, bagian tengah.”

Selama hidup bersama Utsman, beliau menunjukkan diri sebagai istri yang paling baik, taat, dan amanah. Beliau berusaha sebisa mungkin mencintai dan membahagiakan suaminya, sehingga beliau benar-benar mendapatkan tempat yang sangat istimewa di hati suaminya. Salah satu pujian Utsman kepada Na’ilah adalah perkataan Utsman, “Aku tidak pernah bertemu dengan wanita yang lebih cerdas dari Na’ilah. Bahkan kecerdasannya bisa mengalahkan kecerdasanku.” 

Pada perang zaman fitnah, yaitu tahun 35 Hijriah, Na’ilah mempunyai sebuah sikap yang menunjukkan bahwa beliau adalah wanita yang berani dan penuh pengorbanan. Ketika para pemberontak sudah tersebar di Madinah, mereka bermaksud membunuh Utsman bin Affan. Saat itu Na’ilah rela melindungi Utsman, walaupun dirinya menjadi taruhan.

Saat para pemberontak berhasil masuk rumah Utsman, mereka menyerang beliau dengan pedang. Saat itu, Na’ilah menjadikan dirinya sebagai tameng untuk menghalangi suaminya dari ayunan pedang. Namun pedang itu tidak terhalang, tubuh dan tangan Utsman terkena, dan mengeluarkan darah. Tetesan pertama darah jatuh pada Al-Qur’an dan tepat mengenai ayat,

فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللّٰهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mangetahui.” (Al-Baqarah: 137)

Beberapa saat kemudian, datang lagi seorang pemberontak dengan menghunuskan pedangnya. Laki-laki itu dihadang oleh Na’ilah agar tidak dapat sampai pada suaminya. Pedang yang ada di tangan pemberontak itu direbutnya, namun jemari Na’ilah justru terkena dan putus dari tangannya. Laki-laki itu pun berhasil sampai kepada Utsman dan mengayunkan pedangnya, mengenai tubuh Utsman hingga beliau syahid dengan dizalimi oleh para pemberontak tersebut. Peristiwa itu terjadi pada waktu dhuha hari Jum’at.

Pada saat itu terjadi huru-hara yang hebat, sehingga jenazah Utsman tidak dapat dikubur pada siang hari. Na’ilah menangis dengan sangat sedih. Karena ingin menghormati jenazah suaminya, beliau bersikeras untuk turut mengubur dan menshalatinya. Shalat jenazah diimami oleh Jubair bin Muth’im. Yang turut hadir dalam sholat tersebut di antaranya Na’ilah dan istri lain Utsman yang bernama Ummul Banin binti ‘Uyainah bin Hishn. Kedua wanita tersebutlah yang mengangkat jenazah untuk diberikan kepada orang-orang laki-laki yang sudah berada di dalam lubang kubur. Setelah menutup kuburan, mereka segera meninggalkan tempat itu.

Ketika masa iddah yang berlangsung selama empat bulan sepuluh hari, Na’ilah tidak berhias diri, dan tidak keluar rumah walaupun ke rumah ayahnya sendiri. Semua ini adalah salah satu gambaran kesetiaan beliau kepada suaminya. Na’ilah pun berkomentar tentang pembunuhan suaminya, “Kalian telah membunuh Utsman, padahal beliau selalu selalu melaksanakan qiyamul-lail dengan mengkhatamkan Al-Qur’an.” Na’ilah pun merasa enggan untuk menikah kembali. Rasa cinta dan kesetiannya kepada suami yang sudah meninggal membuatnya ingin kenangan bersama suaminya tetap kekal.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari beberapa gurunya yang berasal dari bani Rasib. Beliau berkata, “Ketika kau sedang melakukan thawaf di Ka’bah, kulihat ada seorang buta yang juga melakukan thawaf. Orang itu berdo’a, ‘Ya Allah, ampunilah aku. Tapi aku lihat Engkau tidak mengampuniku.’ 

Aku segera berkata kepadanya, “Wahai saudaraku, bertakwalah kepada Allah, mengapa engkau berkata seperti itu?” Laki-laki itu menjawab, “Aku mempunyai sebuah masalah. Aku dan seorang temanku pernah bersumpah, kalau Utsman bin Affan terbunuh, kami akan menampar wajahnya. Setelah beliau terbunuh, kami masuk rumahnya. Kami dapati Utsman sudah terbujur, dipangku oleh istrinya, Na’ilah binti Al-Farafishah.

Temanku berkata kepada wanita itu, “Bukalah wajahnya.” Na’ilah bertanya, “Untuk apa??” “Aku ingin menampar wajahnya,” jawab temanku. Maka Na’ilah berkata, “Apa engkau tidak tahu tentang laki-laki ini? Tentang beliau, tentang Rasulullah SAW pernah berkata banyak hal tentang keutamaan laki-laki ini?” Maka temanku pun malu dan mundur pergi.

Aku maju mendekati. Kukatakan pada Na’ilah, “Bukalah wajahnya.” Na’ilah pun bangkit bermaksud untuk mengusirku. Aku berhasil menampar wajah Utsman dan Na’ilah marah. Beliau berdo’a, “Semoga Allah SWT mematikan tanganmu, membutakan matamu, dan tidak mengampunimu.”

“Demi Allah, tidak lama kemudian, tanganku tidak lagi bisa digerakkan, dan mataku tak lagi bisa melihat. Aku pun tahu bahwa Allah SWT tidak akan mengampuniku.”

Demikianlah, do’a Na’ilah dikabulkan Allah SWT. Allah SWT tidak menyia-nyiakan pahala wanita sholihah ini yang selalu berjalan dengan kebenaran, sehingga Allah pun mengabulkan doanya atas orang yang telah berbuat kezaliman kepada suaminya. 

Senin, 23 Januari 2017

Cahaya di Atas Cahaya

بسم اللّه الرّحمن الرّحيم

اللّهمّ صلّى على سيّدنا محمّد و على اله

Goresan kali ini adalah tentang Keutamaan Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam, Sang Pembawa Cahaya dan Sumber Cahaya bagi seluruh alam.

Catatan ini diperoleh dari ta'lim mingguan majelis TA'ARUF (Cinta Agama Remaja Al-Ma'ruf) yang dilaksanakan tiap Ahad malam. Nah, pada pekan ini kitab yang dipelajari adalah kitab Mizanul Kubro yang disampaikan oleh guru kami, al-mukarrom ustadz Sainan.

Sebagai remaja yang peduli agama... (pencitraan banget sih, wkwk) aku ingin berbagi sedikit 'ilmu yang telah kuterima di majelis TA'ARUF tercinta.

Ini dia.................. 👇👇👇

Ada sebuah bait syair yang berbunyi :
مُحَمّدٌ بَشَرٌ لَيْسَ كَالْبَشَرِ

Artinya: Nabi Muhammad adalah manusia yang tidak seperti manusia biasa.

Dari bait syair tersebut, tentunya akan muncul pertanyaan dalam benak kita. Mengapa dikatakan bahwa Nabi Muhammad tidak seperti manusia biasa?

Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah karena Nabi Muhammad memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya di seluruh dunia pada seluruh zaman, yakni sebagai berikut.

1. Nabi Muhammad tidak pernah bermimpi sampai mengeluarkan air mani seumur hidupnya.

2. Nabi Muhammad tidak pernah menguap (karena mengantuk) sepanjang zaman.

3. Binatang kecil yang melata di muka bumi tidak menjauhi Nabi Muhammad. Bila berada di dekat Nabi Muhammad, binatang-binatang itu tampak tenang sambil bersholawat kepada Nabi Muhammad.

  • Dikisahkan dalam sebuah perjalanan hijrah Nabi Muhammad bersama dengan sahabatnya, Abu Bakar dari Mekkah ke Madinah, keduanya bersembunyi di dalam gua tsur guna menyelamatkan diri dari kejaran kaum kafir Quraisy. Di dalam gua, Nabi Muhammad tertidur. Abu Bakar yang selalu siap siaga menjaga Nabi Muhammad terkejut saat melihat ada lubang ular di dalam gua, ia pun khawatir bahwa nanti akan ada ular yang keluar dari lubang itu dan menyakiti Nabi Muhammad. Abu Bakar pun berinisiatif untuk menutup lubang tersebut dengan telapak kakinya. Namun apa yang terjadi? Ular yang berada di dalam lubang itu menggigit kaki Abu Bakar, lalu ular itu protes kepada Abu Bakar, "Mengapa kamu menghalangiku untuk melihat wajah teduh Nabi Muhammad Sang Rasul Pilihan Allah? Sesungguhnya aku ingin sekali melihat wajahnya dan berada di dekatnya."

SubhaanAllaah...

Kisah tersebut menggambarkan betapa terkesimanya binatang-binatang terhadap Nabi Muhammad. Itu merupakan salah satu bukti bahwa hadirnya Nabi Muhammad adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam. صلّو على محمّد  

Masih fokus kan, readers? Jangan ikutan terkesima gitu deh sama penulis catatan ini 😆😜 (astaghfirullaahal 'azhiim)

Oke, kita lanjutkan yaa ... keistimewaan Nabi Muhammad yang berikutnya adalah..

4. Seekor lalat tidak pernah hinggap di tubuh Nabi Muhammad karena harumnya tubuh Nabi Muhammad SAW.

5. Nabi Muhammad memiliki kemampuan melihat apa yang ada di belakangnya. Sehingga beliau berpenglihatan ganda, yakni depan dan belakang.

6. Bekas buang air kecil Nabi Muhammad tidak terlihat bekasnya di alam terbuka.

7. Hati Nabi Muhammad tidak pernah tidur sekalipun dalam keadaan mata terpejam (tidur).

8. Bayangan tubuh Nabi Muhammad tidak dapat dilihat di bawah terik matahari. Hal ini dikarenakan cahaya matahari terkalahkan oleh cahaya Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ (Cahaya di atas cahaya).

يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، أَنْتَ شَمْسٌ
 أَنْتَ بَدْرٌ، أَنْتَ نُوْرٌ فَوْقَ نُوْرٍ

9. Kedua pundak Nabi Muhammad lebih tinggi dari suatu kaum apabila duduk bersama.

10. Nabi Muhammad lahir sudah dalam keadaan khitan, sehingga beliau terjaga (suci) dari campur tangan manusia.

Demikian itulah 10 keistimewaan Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam. Semoga menambah wawasan readers dan bermanfaat untuk semua, serta menambah kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW😊 Aamiin

وَصَلَّ اللّٰهُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

 سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، اَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا أَنْتَ  
 اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ     

Jumat, 13 Januari 2017

Pendampingku

Merengkuh-Mu dalam gelap
Meraih-Mu walau pengap
Bersama-Mu aku akan tetap berdiri tegak
Meski telah lama tersiksa dalam sesak

Kau...
Penentu kisah hidupku 
Hidup dan matiku di tangan-Mu
Jangan biarkan iman ini runtuh
Diterpa cobaan nan silih bergemuruh

Kan kucari Engkau dalam khidmat
Tuk akhir sebuah perjalanan berbuah nikmat

Kata Hati

Kata hati...
Suara yang tak pernah terdengar
Meski terus membisik sayup

Kata hati...
Serpihan cerita yang menyusup di balik sepi

Kata hati...
Kau merasakannya meski entah dari mana asalnya

Kata hati...
Tempat bermula kau hadirkan cinta atau benci

Selasa, 10 Januari 2017

Meniti Terang

(Puisi untuk murid-muridku tercinta, para bintang kecil penghias jejakku di atas bumi. Always love u all, dears)



Semilir udara berhembus menyapu sang biru
Jingga pun menampakkan diri pada ufuk senja
Kian sendu bak raut bermuram durja
Menata irama jejak simfoni dunia

Senandung rindu membawa pergi isyarat hati
Menghinggapi kepingan rasa yang bersembunyi
Merdu terdengar di relung jiwa yang sunyi

Detak cinta kian riuh menggelora
Berdegup menggebu dalam sukma
Tahukah kiranya mengapa 
Sebab kita lekat dalam hangatnya cengkrama

Jumpa kita ialah pelipur segala lara
Penawar resah dan gundah gulana

Bila hariku ibarat langit malam 
Maka setiap kata yang meluncur saat mata beradu pandang
Ialah cahaya yang berpendar dalam suram
Jangan biarkan ia tenggelam
Tetaplah menerangi jejak impian yang hampir mengelam
Jadilah rembulan dan bintang
Yang selalu dirindukan malam tuk menghapus kelam

Senin, 09 Januari 2017

Sepenggal Rindu

Sepenggal rindu biarlah berlalu
Meninggi menjauh di atas lazuardi biru
Sebab rindu tak lain bayang semu
Yang memenjara kata-kata dalam lisan kelu

Sepenggal rindu biarlah usang
Terpendam lalu hilang
Sebab rindu hanyalah sebuah angan
Tiada rupa, tanpa pertanda

Sepenggal rindu biarlah pergi
Berpulang pada Sang Penguasa Hati
Sebab rindu tak pantas dimiliki
Hingga sang waktu memecah kesunyian menanti

Selasa, 03 Januari 2017

Memandangmu Dari Jauh


Memandangmu dari jauh
Menelusuri lintasan do’a dan sujud panjang
Pada keheningan waktu di atas sajadah yang terbentang

Memandangmu dari jauh
Melewati padang gersang sebuah pencarian
Mengembara angan nan tinggi meninggalkan daratan

Menemukanmu suatu waktu
Tidak tahu kapan
Biarlah menunggu meski tanpa kepastian
Ada masanya yang dinanti kan datang berlabuh
Walau kini hanya dapat dipandang dari jauh