Rabu, 27 Januari 2016

Malam Perpisahan

*(untuk sahabat kecilku yang tengah bermesra dalam pangkuan-Nya.. Semoga Surga menjadi tempatmu. آمين)

Langit tertutup awan gelap
Hitam menjelma dalam senyap
Duniaku mendung
Hati berkabung

Mentari mulai padam
Bumi kian temaram
Datanglah kelam
Menggerayangi malam yang mencekam

Tubuh bergetar kedinginan
Lisan kelu tak mampu digerakkan
Airmata jatuh berlinangan
Kaki lesu tiada dapat memapah jalan
Jiwa bergolak menanggapi kenyataan

Malam itu...
Izrail memintamu dariku

Hari Pernikahanku

Di hari suci yang kunanti
Kukenakan gaun putih berhiaskan melati
Disirami aroma mawar yang mewangi
Bersiap menemui cinta sejati

Hari pernikahanku telah tiba
Menjemputku pergi bersama kekasih belahan jiwa
Iringan do'a kudengar di telinga
Mengantarku menuju singgasana

Aku duduk di pelaminan yang sangat tenang
Hanya sendiri, karena pengantinku belum datang
Seluruh keluarga hanya menunggu di gerbang
Sejenak saja, lalu mereka benar-benar hilang
Setelah kuhirup aroma bunga yang bertaburan
Meninggalkan sebuah nama yang terukir di atas nisan

Selasa, 26 Januari 2016

Rindu Ini Milik-Mu

Seutas rindu membayang dalam qolbu
Imajiku mengembara di atas permainan waktu
Hati bergemuruh mencemburu
Tak ingin Kau menjauh dariku

Setitik ragu terselip dalam pikir
Ketakutan yang menghadang jika datang hari akhir
Sebab rinduku pernah pergi meski ia kembali hadir
Rasa yang tak henti berdesir
Bergemuruh di antara muara airmata
Dalam hening penghambaan menanti jumpa

Rindu ini telah lama bersemayam dalam dada
Sempat aku hampir menukarnya
Dengan kerinduan pada manusia yang kucinta
Tetapi Kau bisikkan rayuan di telinga
Betapa cinta sejati telah ada sejak lama
Hanya aku yang terlambat menyadarinya
Kau adalah Sang Maha Cinta
Yang selalu memberi meski cinta-Mu telah kukhianati
Ampuni aku telah mendustai hati
Melukai janji yang terikat dengan suci
Kini rinduku takkan kubagi
Hanya untuk-Mu, satu Yang Abadi

Senin, 25 Januari 2016

Nafas Dzikir

Udara dingin berhembus pada malam yang hening
Desiran angin mengusik raga yang terbaring
Tanpa suara, mata ini terjaga
Menatap hampa pada setitik cahaya

Inilah sepertiga malam yang dijanjikan Tuhan
Sebagai waktu mustajab do’a tanpa penghalang
Karena Dia akan kabulkan
Karena Dia tak menangguhkan permintaan

Andai tiap malam kuterjaga
Walau lewat mimpi buruk yang menelisik jiwa
Agar aku dapat bercengkrama
Dalam kekhusyuan pinta

Jikalau nanti kubangkit kembali
Dari lelapnya perjalanan mimpi
Kumohon beri aku nafas sekali lagi
Agar mampu kuhembuskan dzikir di kegelapan malam nan sunyi

Minggu, 24 Januari 2016

Rindu Hujan

Hujan menyisakan sekeping kenangan
Serpihan rasa yang hampir mengering ditelan kemalangan
Tetapi hujan datang menyuburkannya
Menabur butir-butir cinta yang kembali bergulir

Hujan mendendangkan alunan simfoni
Harmoni yang mengemas semua rinduku
Memainkan putaran waktu di masa lalu
Sebelum hujan datang mengabarkan perpisahan

Hujan, datanglah lebih sering
Hadirkan kebahagiaan bersama ingatan tentangnya
Walau tak jarang hujan mengundang gerimis airmata
Namun kuselalu merindu hujan
Kupercaya di balik hujan tersimpan keindahan
Meski kuharus sabar menanti
Karena hujan tak selalu menghadirkan pelangi

Setelah Hujan Reda

Setelah hujan reda
Kulihat senyum bahagia sang bunga
Merekah indah dalam sisa-sisa basah
Memesona mata setelah mengering airmata

Setelah hujan reda
Kudengar nyanyian kupu-kupu nan merdu
Menari-nari mengitari bunga-bunga yang tersipu
Lincah beterbangan membawa pergi segumpal kesedihan

Setelah hujan reda
Angin berbisik di telingaku dengan manja
Mengabarkanku tentang dia
dia yang hilang sejak lama

Setelah hujan reda
Mekarlah sekuntum cinta
Benih yang tertinggal setelah kepergiannya
Membekas di relung hati yang beku

Di balik hujan aku berdo'a
Semoga kelak aku kan bersamanya
Melukis pelangi setelah hujan reda

Nikmat-Mu Tak Terdustakan

Tiap pagi kubuka mata
Kurasakan nikmat Tuhan selalu ada
Ketika sekujur tubuh mampu bergerak sempurna
Adalah nikmat lagi yang Allah beri

Kemudian aku keluar menatap mentari
Rasa syukur kembali terbesit di hati
Atas kesempurnaan penglihatan
Pada kemilau cahaya di langit yang mempesona

Aku berjumpa dengan saudara
Kami bersapa dalam bicara
Lagi-lagi Allah menunjukkan kuasa
Pada kenikmatan bersuara tanpa cela
Alangkah banyak nikmat-Mu, Rabbi
Dan betapa buruk rasa syukurku selama ini
Padahal tiada perlu aku ragui
Sebab jalan hidupku telah menjadi suratanmu, Ilahi

Duhai Rabbi Pemilik Hati
Beri aku kenikmatan lagi
Jangan tinggalkan aku dalam kelalaian tak bertepi
Jabat tanganku dalam ketaatan
Dekaplah aku pada manisnya keimanan
Hingga tiada lagi nikmat-Mu yang kudustakan

Sabtu, 23 Januari 2016

Airmata Bumi Syuhada

Kering sudah airmata
Menatap nestapa dalam tragedi yang menyiksa
Sesak seluruh nafas jiwa
Hilang rasa…tak ada lagi tawa

Dentuman bom yang menghantui malam-malam penuh ketakutan
Jerit peluru yang bersahutan
Hingar bingar suara ledakan
Pembunuhan
Pembantaian
Merenggut nyawa-nyawa tanpa dosa

Merah menyambar di langit dunia
Darah berkesimbah memoles tanah Palestina
Suara hati tertahan dalam dada
Tiada tangis, tanpa suara
Meski luka mengiris pilu sukma

Keberingasan membabi buta
Seakan sebuah jiwa tiada harganya
Di mana hak asasi manusia ?
Adakah iba akan menghentikan penyerangan tanpa sisa ?

Duhai jundi yang memenuhi panggilan Ilahi
Telah mati masa kanak-kanakmu di tangan Yahudi
Keberanianmu menjadi saksi
Perjuangan melawan kezholiman yang membumi
Betapa airmata tak mampu lagi tertahan
Melihat keteguhanmu dalam barisan pertahanan
Menyelamatkan bumi syuhada dari jeratan penguasa
Melangitkan manusia, meniti jalan ke Surga

Hancur lebur bumi Palestina
Rumah-rumah tinggallah debu
Sekolah-sekolah hanya menyisakan kerikil-kerikil batu
Semua lenyap menjadi abu
Tapi kehancuran tak terjadi pada hati mereka
Jiwa-jiwa yang terpanggil raganya
Menjemput syahid yang bergema
Berkawan duka dalam kesakitan yang belum terobati
Kegigihan yang mengisi seutuh ruang hati
Bergerak tanpa takut mati

Wahai negeri para anbiya !
Jejak risalah telah bercerita pada kami
Tentang keagunganmu di antara seluruh penjuru negeri
Tanah suci pemersatu ummat Yahudi, Nasrani, dan Islam
Tapi kini nasibmu harus ditelan oleh kelam
Gejolak perang belum berhenti menyerang
Al-Aqso menjadi taruhan untuk bertahan dalam kepedihan

Bertahan...bertahanlah saudaraku
Sembunyikan derasnya tangisan jiwa dari muka
Simpan seluruh perih sayatan luka
Jangan suarakan derita yang kau rasa
Karena aku tak kuasa menyaksikan semua
Kala sebuah peluru menembus tubuh kecilmu
Ketika tank dengan angkuh menggilas remuk kepalamu
Tubuh-tubuh yang menggelepar di jalan
Menyisakan satu nafas yang berhembus untuk kematian

Episode kehidupan penuh kelaraan
Adalah pemandangan yang aku saksikan
Media mempertontonkan kemalangan
Pantaskan aku hanya diam ?
Tidak !
Sekuat kemampuan akan kuperjuangkan untukmu kemerdekaan
Walau tak banyak yang mampu kulakukan
Meski hanya do’a-do’a yang dapat kukirimkan
Bertahan…bertahanlah saudaraku
Bertahanlah untuk keabadian

Hujan Belum Mau Reda

Rintik hujan membasahi wajah bumi yang teduh
Menjatuhkan gemericik air yang melompat perlahan
Bersapu desiran angin yang memoles celah dedaunan
Sejuk mengalun jiwa-jiwa yang rapuh

Hujan masih merintikkan tangisan awan
Berderai meloloskan kesedihan
Bak nyanyian yang memadu irama syahdu
Memainkan harmoni nada-nada pilu

Rintik hujan mendatangkan kenangan
Memori usang dalam ruang ingatan
Pada kebersamaan kita yang telah hilang
Terkikis waktu yang mengelam

Hujan belum mau reda
Menggenangi pijakanku dengan tetesan sucinya
Menjemput airmata keluar dari sarangnya
Dalam isak teriring tetes hujan yang bersahutan

Hujan belum mau pergi
Meninggalkan hati yang sepi
Biarlah membekas sampai berganti sang pelangi
Pelipur luka hati dalam dingin yang menusuk diri
Kini biarlah hujan datang
Menghapus kesedihan yang telah lama bersarang

Jumat, 22 Januari 2016

Akhir Kehidupanku

Akhir kehidupan dunia bukanlah ketika bumi terbelah
Atau saat langit mulai memerah
Bukan pula pada tiupan sangkakala yang memekik
Tak jua guncangan tanah yang menukik

Kehancuran dunia bukan ketika berhentinya almanak manusia
Atau kematian makhluk seluruh semesta
Tidak pula saat pasak bumi memancarkan merah merona
Yang menjadi penanda kehancuran dunia
Ialah ketika tiada lagi kata antara kita
Duniaku hening tak bersuara
Terbungkam dalam cinta yang terpendam

Hari akhir pasti terjadi
Meski waktu masih memainkan misteri
Akan tiba kaki tak sanggup lagi berdiri
Takkan lagi tampak wajah berseri
Semua mati
Semua pergi menuju negeri abadi

Akhir segalanya kan tiba tanpa permisi
Datang tak memberi kabar
Memaksaku mengalah pada takdir
Seperti senyummu yang tak lagi terukir
Dan sapamu yang berhenti mengalir
Menjadi penanda hidupku telah berakhir

Kamis, 21 Januari 2016

Cinta Lelakiku

Tiada alasan bagiku mendua
Cinta yang kupunya telah sempurna tanpa cela
Suci dalam ikatan darah sejak terlahir di dunia
Pada lelaki yang tulus mencinta

Tak tahu ke mana hati akan berlabuh
Jikalau lelakiku kelak pergi menjauh
Hati mungkin kan mati bersama jasad yang terkubur
Entah di mana kan kuletakkan lagi cinta yang subur

Ini tentang lelakiku,
Manusia biasa yang menjelma malaikat cinta
Pelipur segala kisah luka
Pembangkit tawa penyejuk jiwa

Suatu ketika lelakiku berpesan,
Kelak cinta kita akan terputus oleh perpisahan
Bukan oleh kematian
Melainkan sebuah pernikahan

Suatu masa yang dijanjikan Tuhan
Ketika aku harus terlepas dari pelukan
Dan kilah manja mesti kutinggalkan
Merenda hidup baru bersama lelaki pilihan

Misteri waktu yang mengundang kekhawatiran
Adakah ia kan sama dengan lelakiku ?
Ia yang selalu sabar mendengar celotehku  
Ia yang selalu mengusap duka di wajahku
Ia yang tak ingin aku terluka

Andai aku dapat memilih
Tentu aku akan meminta dengan lirih
Lelaki yang takkan membuatku bersedih
Seperti lelakiku kini yang selalu terjaga
Waspada manakala jatuh cinta melukai hati putri tercintanya

Kebahagiaan Kita

*puisi untuk adik kecilku

Bahagia itu sederhana
Ketika kau dan aku bersama
Kita lekat dalam canda
Mengukir tawa menghiasi langit dunia

Bahagia itu tak bersyarat
Selama kita selalu dekat
Berpelukan hangat
Merajut jutaan kisah hebat

Bahagiaku selalu ada
Pada keakraban kita yang terjaga
Di balik senyummu yang merona
Dalam lincahnya tingkahmu yang menggoda

Bahagiaku tak meminta alasan
Biarlah ia menjadi saksi sebuah persahabatan
Karena bahagia telah menjadi milik kita
Dua insan bersaudara yang saling mencinta karena-Nya

Lelaki Perkasaku

(Sebuah puisi untuk lelaki paling perkasa dalam hidupku, yaitu ayah)

Suatu hari kulihat peluh bercucuran melintasi pelipismu
Tubuhmu terbakar terik dalam siang yang mencekik
Berderai tetes demi tetes semangat yang terus memercik
Kau menerjang kerasnya perjuangan dengan gagah
Tanpa peduli pada lelah yang menggodamu untuk menyerah
Kau menapaki  jalan itu dengan perkasa
Jalan mencari keridhoan Ilahi demi sebuah nafkah

Suatu hari yang takkan terlupa dalam memori
Kala bergetar tubuhmu yang kekar
Diterpa derasnya hujan dan kilau petir yang menyambar
Di sana kau tetap berdiri tak gentar Menembus siksaan dingin yang berhembus
Di tengah rintik hujan yang terus menyerang
Kau bertahan mengarungi bahtera mencari penghidupan
Meski wajahmu terkikis ratapan pilu yang menghujam
Kau tak meratapi nasib hidup yang mengelam

Suatu hari kudengar ramai orang menyebut namamu
Segala cerca dan cemooh hina tertuju pada usahamu
Tapi tak tampak olehku wajah muram di garis mukamu
Kau terus membuat jejak
Kau tak memberi ruang pada hati untuk menangisi kekejaman dunia ini
Kau bertahan di tengah terpaan angin dahsyat yang merobohkan banyak impian
Tapi bukan impianmu
Kau tak goyah sedikitpun
Tak kulihat pada dirimu melainkan semangat yang terus menggebu

Suatu hari yang terus membekas di kedalaman ruang hati
Saat senyum ketulusan terukir di bibirmu yang kering
Walau berjuta pedih mengiris batinmu  
Yang terlihat di mataku hanyalah pancaran cinta yang menatapku sendu
Sekeping rasa yang berkilauan di balik jernih bola matamu
Kau menyebutnya cahaya asa
Cahaya yang memancar kala semangatmu redup

Aku telah menjelajah ribuan hari bersamamu
Menjadi saksi kegigihanmu menghidupiku
Pahit getir perjuangan telah kau rasa
Tetapi hanya manis yang kau bagi padaku
Aku terlalu berharga untuk ikut merana, itu katamu
Tetapi kali ini kau tak bisa menutupi lagi kesakitanmu
Luka yang kau kubur jauh dari penglihatanku

Aku telah tumbuh besar di tanganmu
Mataku merekam jelas jutaan memori lalu
Suka dan duka telah berpadu mewarnai kisah kita
Kini bahagia menyelimuti hari kita
Atas izin Sang Kuasa, segenggam kesukesan telah kau raih setelah perjalanan panjang yang menyiksa
Akan kuabadikan kisah hebat ini dalam hidupku
Kisah heroik yang ditorehkan oleh sang lelaki perkasaku

Rabu, 13 Januari 2016

Isi Hati yang Tersembunyi

Aku mengagumimu sejak lama
Saat kita belum saling menyapa
Dan senyuman masih tersembunyi dari muka
Tak ada suara, tanpa kata-kata

Pada hari perjumpaan pertama kita
Ada rasa yang tak bisa kujelaskan maknanya
Tapi ia terus mengisi relung jiwa
Tak pernah mati walau tiada lagi jumpa antara kita

Tiga tahun lalu yang menjadi penanda terpesona
Pada kesholihanmu yang berbinar dalam akhlaq mulia
Pandanganmu yang selalu terjaga
Juga lisan yang tak banyak mengumbar suara

Kau datang memberi kabar pada hati
Tentang kedekatan seorang hamba pada Ilahi
Menjadi penjaga ayat cinta-Nya
Membumikan kalam, melangitkan manusia

Kurasa jelas sebabku memendam rasa
Tak lain karena kesetiaanmu berpegang teguh pada agama
Semoga aku dapat mengambil cinta
Dari akhlaqmu yang seperti mutiara

Kini rasa itu tetap ada
Dengan kesucian yang masih terjaga
Semoga takkan ada noda
Hingga semua asa terwujud dalam nyata

Kutahu Rabb-ku takkan menyiakan do’a
Seperti halnya cinta yang selalu kuminta
Sebuah nama yang sering kusebut dalam harap pinta
Meski ragu dan merasa malu
Selalu kukatakan, semoga..dan semoga…

Terima kasih untukmu, akhi
Yang telah membuatku berbenah diri
Tuk menjadi insan mulia di mata Ilahi
Yang lisannya senantiasa berdzikir tiada henti
Juga tujuan hakiki tentang hidup yang selalu mengisi ruang hati
Sungguh padamu kuberhutang budi
Atas keteladanan yang kau beri
Walau kumengambil darimu secara bersembunyi
Demi menjaga hati agar tak terkotori
Karena kutahu betapa wanita adalah fitnah bagi lelaki

Suatu hari nanti kuharap kita bisa bersama
Mengarungi bahtera cinta dalam ridho-Nya
Aku akan bersabar menanti cara Allah mempersatukan kita  
Agar penantian ini kelak berbuah Surga
Kala semua telah menjadi indah pada waktunya

Jikapun nanti semua harapku tak sama dengan jalan-Nya
Kuyakin Allah kan memberiku ikhwan yang lebih baik menurut-Nya
Baik untukku, baik untuk agamaku

Pesan Juang

Adikku…
Kau mampu melihat dengan mata kepalamu sendiri
Kehancuran yang secara perlahan menghadang kita
Iman kita nyaris binasa dalam arus dunia yang menggila
Lihatlah…saksikanlah beribu pasang mata yang menyorot seorang wanita minim busana
Di atas sebuah pentas ia menjadi pujaan manusia
Miris…miris sekali, adikku

Adikku…
Kiranya kau mampu merasakan kesakitanku
Sebuah luka lama yang tak kunjung terobati sakitnya
Kepedihan atas hilangnya kebersamaan dalam Iman
Kala derasnya pergaulan tanpa batas diam-diam merenggut pejuang kita

Adikku…
Andai kau mampu membaca kebisuanku
Kata hati yang tak sempat tersampaikan oleh lisan yang kelu
Suara jiwa yang tertahan dalam sesak yang menyiksa
Apalagi yang bisa kukatakan saat kulihat perpecahan di antara kita ?

Adikku…
Kuharap kau mampu memahami sebuah mimpi
Imaji yang menghiasi langit malam dalam lelap sebuah peristirahatan
Ialah Islam berjaya di muka bumi
Berkibar panji Ilahi menaungi seluruh negeri

Adikku…
aku telah melewati banyak waktu di dunia
Sudah banyak pilu nestapa yang menjadi ratapan
Pada kezaliman penguasa dan amoral yang seolah menjadi biasa
Maksiat tak lagi jadi pertimbangan berbuah dosa

Adikku…
Meski berliku, jalan ini harus kita lalui
Namun aku tak tahu akankah sampai kejayaan yang kumau tak terbatas usiaku
Jika aku lebih dulu pergi meninggalkanmu juga dunia ini
Jangan berhenti berjuang untuk sebuah kemenangan hakiki

Adikku…
Kaulah pejuang yang dinanti oleh ummat
Berikanlah kemanfaatan terbaik yang kau mampu
Luruskan kesimpangan yang telah lama membeku
Satukan kembali ikatan persaudaraan yang nyaris tak pernah bersatu
Kita adalah sebuah bangunan yang hakikatnya saling menguatkan
Sadarkan saudara kita dari lamunan panjang
Yang memudarkan persatuan dalam barisan perjuangan
Kita hilang
Kita hanyut dalam buai angan
Kita lupa akan kehidupan setelah dunia

Adikku…
Bergeraklah dengan semurninya tujuan
Bayangkan wajah para pewaris risalah yang meletakkan amanah di bahu kita
Ingatlah bagaimana Islam dibangun dengan susah payah
Adakah kita orang-orang yang tak bisa menjaga amanah ?

Adikku…
Ingatlah perjuangan ini bukan pesanku
Melainkan pesan Tuhan yang dibisikkan pada telinga manusia
Allah telah tunjukkan kuasa-Nya pada setiap peristiwa
Hanya kita yang belum tersentuh jiwanya
Padahal tak sekali pula Allah turunkan bencana
Agar kita membaca tanda-tanda kemurkaan-Nya
Tapi kita terlena dengan permainan yang ada
Kita tertidur pada kembara menuju negeri yang sebenarnya

Adikku…
Berjuanglah untuk agama kita
Kuatkan tekad dalam jiwa
Lawanlah berbagai rintangan
Runtuhkan dinding keraguan
Karena janji Tuhan takkan diingkari
Meski langkahmu harus terputus oleh mati
Berjuanglah untuk sebuah cita mulia
Runtuhkanlah angkuhnya keegoan dunia
Semoga kelak gugurmu tercatat sebagai syuhada

Jauh Di Mata Bunda Memandang

Bunda sayang…
Ananda kini jauh dari pandanganmu
Kita terpisah oleh batasan ruang dan waktu
Ananda selalu merindumu
Dalam setiap langkah menuntut ilmu

Bunda sayang…
Di sini ananda dikelilingi banyak teman
Mereka selalu mengingatkanku pada kebaikan
Seperti nasihat bunda yang biasa ananda dengarkan
Begitu banyak orang yang menyayangiku meski tanpa ikatan
Kami dipersatukan hanya dalam persaudaraan iman

Bunda sayang…
Tiap hari ananda pergi mencari ridho Ilahi
Bersungguh-sungguh menjala ilmu sebagai bekal di hari nanti
Namun tak jarang jalan ananda bertabur duri
Kesedihan dan perih pun mulai terasa menggores hati

Bunda sayang…
Sekuatnya ananda mencoba bertahan di sini
Mengejar mimpi yang berulang kali datang dan pergi
Meski tak jarang ananda merasa tak sanggup lagi
Menahan luka hati yang kian tak terobati

Bunda sayang…
Ananda merasa kesulitan
Pada beberapa pelajaran yang baru diperkenalkan
Terkadang putus asa hampir datang menghadang tekad dan iman
Tetapi raut penuh harap bunda di rumah selalu terbayang dalam ingatan

Bunda sayang…
Bukan sekali kerinduan melenyapkanku dari kesadaran
Ananda sering terhanyut dalam tangis yang mendalam
Ananda rindu berjumpa bunda
Ananda rindu dekapan hangat bunda

Bunda sayang…
Jalan ini telah menjadi pilihan
Ananda yakin inilah yang terbaik dari Tuhan
Do’akan ananda mampu bertahan
Melawan kesulitan, menghadang segala rintangan

Bunda sayang…
Suatu hari nanti ananda kan kembali
Membawa sejuta kenyataan dari luasnya samudera mimpi
Semoga bunda selalu diberi kesehatan
Hingga tiba saatnya kuhadiahkan pada bunda kesuksesan

Jika Hari Itu Tiba

Jika hari itu tiba
Siapa kan mampu menunda ?
Jika hari itu tiba
Adakah daya masih bersarang dalam raga ?
Jika hari itu tiba
Akan bercucurankah airmata orang-orang tercinta ?
Jika hari itu tiba
Saatnya kuucap salam perpisahan pada dunia

Jeritan Hati Tanpa Suara

Ayah, bunda…berada di sisimu adalah kehangatan
Senyum dan tawa dalam mesra canda yang selalu mengisi ruang ingatan
Kebersamaan dan keanggunan nuansa kekeluargaan
Aku tak ingin semua ini hilang
Walau hanya terambil sedetik dari bertahun-tahun usia kita

Ayah, bunda…Kini kita tak bisa bersama tiap saat
Di seberang jauh aku telah menetap
Mencari ilmu sebagai bekal kehidupan
Agar kelak bisa mengukir senyum kebahagiaan
Di wajah tulus dua insan yang pertama kulihat di dunia

Ayah, bunda…sungguh pada tiap pertemuan singkat, aku tak ingin perjumpaan kita lenyap
Kerinduanku terlalu erat pada kehangatan dekap cinta
Aku tak kuasa meninggalkan lagi sepasang manusia terhebat yang kupunya
Namun apa daya keadaan menuntutku menjauh
Sekuat jiwa kuredam gejolak rasa demi berjuang menjemput asa yang menguras peluh

Ayah, bunda…betapa airmata tak mampu bertahan dalam sarangnya
Ia terpaksa berjatuhan mengiringi suara hati yang memilu dalam rindu
Langkahku tak lepas dari bayang-bayang suaramu
Langitku kelam tanpa bisikan penguat semangat
Aku tak tentu arah tanpa ayah dan bunda

Ayah, bunda…Aku selalu merindumu dalam do’a
Di kegelapan malam yang mencekam
Karena hatiku menjerit memanggil namamu
Suaraku tertahan dalam isak pilu
Mencoba tegar dalam kesendirian

Ayah, bunda…dalam kepekatan malan nan sunyi, hatiku seolah mati
Terkubur luka kerinduan yang lama tersimpan
Perjumpaan kita tidaklah lama
Sekejap, lalu memudar diterpa hembusan waktu

Ayah, bunda…ini adalah mimpi buruk
Hidup sendiri di tengah keramaian ibukota
Tanpa ditemani orang-orang tercinta
Mengadu nasib dalam kerasnya perjuangan menempuh cita

Ayah, bunda…banyak kata yang tak sanggup tersuarakan
Tentang luka
Tentang duka
Segala kesulitan yang menyesakkan jiwa
Kehancuran batinku yang meronta
Aku belum bisa jauh dari ayah dan bunda

Ayah, bunda…ini terlalu berat bagiku
Aku hanya orang biasa yang memimpikan sekolah tinggi
Aku telah meraihnya
Tapi kesulitan terus menghadang langkah
Aku gemetar tak mampu bertahan
Kala orang-orang memperebutkan nilai sebagai kebanggaan
Aku hanya berfikir, akankah aku bertahan sampai batas waktu yang ditentukan ?

Ayah, bunda…Aku di sini tak sekedar mencari pengetahuan
Aku belajar tentang kehidupan
Belajar menjadi orang yang menghargai perjuangan
Menebar manfaat untuk ummat
 Dan mengarungi kehidupan sehari-hari dengan mandiri

Ayah, bunda…Meski perih mengiris seluruh jiwa
Aku akan mencoba berdiri di atas keteguhanku
Menjemput mimpi tertinggi
Menghadirkan kebahagiaan hakiki
Untuk sepasang manusia yang begitu berarti
Allah ada bersamaku
Allah akan menjagaku dan menjagamu
Allah akan kirimkan pesan-pesan kerinduanku padamu
Dalam kekhusyuan sujud penghambaan pada-Nya
Sekuat semampu ku kan berjuang melawan kerasnya gejolak dunia

Ber-Tuhan Membuatku Bertahan

Tak selalu yang tampak indah ialah tak menyimpan gundah
Mungkin resah tak terlihat di wajah
Pun lelah tak terpandang oleh mata
Padahal ia ada
Luka yang bersembunyi di balik bahagia
Ini fana
Semuanya hanya setitik hina
Kemolekan dunia berselimut fatamorgana

Kesakitan mencari yang tak abadi telah banyak mengiris rasa
Tapi tak cukup mengeringkan airmata Dunia tak layak ditangisi
Karena yang hakiki adalah kehidupan ukhrawi
Seribu rintangan dunia akan kulewati
Meski perih, menguras letih, sedangkan aku ini ringkih
Kutahu Tuhanku takkan henti mengusap duka di muka
Melalui janji-Nya yang tiada dusta
Karena pertemuan dengan-Nya adalah asa tertinggi
Penguat setiap langkah yang dijejakkan kaki

Ya Allah..Rabbi Penguasa Hati Dekap aku dalam kesyahduan cinta-Mu
Jangan biarkan aku jatuh pada manisnya dunia yang menipu
Hanya Engkau tempatku mengadukan segala derita
Juga tempatku mencurahkan segala rasa Rabbi…terangi hati ini dengan cahaya ketegaran
Sampai tiba saatnya mati merenggutku dari kehidupan

Ayah

Kutahu senyummu selalu ada
Seperti halnya cinta yang tersimpan di dada
Hanya untukku, anakmu tercinta
Hanya demiku, sang cahaya asa

Kumengerti ada ketulusan kasih di jiwa Yang bersembunyi di balik lelah yang menyiksa
Meski dalam kau simpan semua rasa Kumampu membaca semua pesan cintamu..

Ayah… mungkin pelukmu tak sehangat sentuhan bunda
Juga tuturmu tak banyak kudengar di telinga
Tapi bukan berarti tak ada cinta
Bukan berarti kau tak pernah ada

Ayah...ajari aku tuk menjadi insan yang mulia
Menjadi cahaya yang menerangi langkahmu ke Surga
Ayah…meski tak banyak waktu kita bersama di dunia
Kuharap jalinan cinta ini abadi selamanya Hingga tiada lagi kusesali sebuah kebodohan diri
Saat terbesit keegoan
Kala nurani disesaki keangkuhan Menuntutmu ada di setiap detik kehidupan Padahal tanpa kumeminta, kau telah ada Kau selalu ada … di balik semua resahku