Minggu, 18 Oktober 2015

Aku Muslimah



Aku muslimah
Meski belum menjadi shalihah
Aku tengah menempuh hijrah
Dalam perjalanan meraih berkah

Aku muslimah
Yang penuh khilaf dan salah
Tak jarang diperbudak oleh amarah
Seringkali pada nafsu aku kalah

Aku muslimah
Pemilik hati dan jiwa yang lemah
Keimananku belum sampai pada istiqomah
Ketaatanku sering dibayangi resah gundah
Atas cobaan yang tak jarang menjejal langkah

Aku muslimah
Yang merindukan perjumpaan indah
Dengan Allah Rabbul Izzah
Berbekal setitik mujahadah penuh lelah
Demi keabadian negeri Jannah

Lingkaran Cinta



Seindah pelangi pada hujan yang reda
Seanggun jingga menghiasi langit senja
Setenang alunan hembusan angin
Nafas-nafas cinta di antara kita terjalin

Sebuah persaudaraan titipan Tuhan
Pada jiwa-jiwa kita
Untuk saling menguatkan iman
Bergandengan tangan menuju Surga impian

Kita telah memilih jalan ini
Jalan yang bertabur duri-duri
Perih luka kan banyak dirasa
Berkawan derasnya airmata

Kita berada di jalan dakwah
Bersatu membina ukhuwwah
Atas cinta yang menggerakkan raga
Tanpa ragu pada rintangan yang ada

Ingatlah cinta kan mengobati sesak pedih
Pada janji Ilahi penuh kasih
Amanah ini harus dijalankan
Sebagai bekal menuju keabadian

Sehangat mentari pagi
Sekokoh janji pada hati
Selagi nyawa belum terenggut mati
Langkah perjuangan ini takkan terhenti
Karena dakwah adalah cinta
Yang kan mengantar kita pada ridho Sang Pencipta
Dalam panji mujahadah
Semoga Allah bekali kita istiqomah

Rabu, 14 Oktober 2015

Cinta Dalam Ukhuwwah




Duhai Ukhty shaleha
Sepenuh rasa syukur kupanjatkan pada Tuhan
atas pertemuan kita yang begitu mengagumkan
Diiringi salam dan sambutan kehangatan
Ukhuwwah terjalin dalam bingkai ketaatan

Ukhtiku sayang
Aku terkesan dengan ketulusanmu membumikan cinta
Kumengenal Rabb-ku lebih dekat melalui tuturmu
Kumengerti pesan Tuhan dari keikhlasan bimbinganmu
Dan kuresapi makna persaudaraan dari indahnya akhlaqmu

Duhai ukhty
Terima kasih untuk kisah hebat ini
Kisah perjuangan kita menembus kegelapan
Sebuah episode cinta dalam meraih cahaya
Semoga Allah Ridhoi
Semoga Allah cintai kita

Ukhty fillah
Teruslah berjalan di atas titian kebenaran
Bawalah aku pada perjalanan menempuh manisnya Iman
Kelak saat kefanaan dunia telah berhasil kita lewati
Moga kita bernaung di bawah cahaya, dalam dekapan Rabb Sang Maha Cinta

Muara Cintaku



Ya Rabb…
Telah lama sebuah rasa menjejal dada
Seperti misteri yang tak pernah kumengerti maknanya
Akupun ragu, adakah rasa itu anugrah atau bencana

Ya Allah…
Jika yang kurasa adalah cinta
Lindungilah aku dari godaan nafsu durjana
Jangan biarkan aku terjerat kotornya cinta tak halal
Agar tak ternodai hati ini oleh angan kekosongan

Duhai Sang Maha Cinta
Aku telah menabur duri dalam hati
Meski tahu mungkin kusendiri akan tersakiti
Ampuni khilafku karena telah menduakan kesetiaanku

Rasaku pernah berpaling
Taatku pernah tertunda
Untuk kehampaan
Hanya untuk kefanaan
Dalam bayang-bayang cinta seorang ikhwan

Duhai Rabbi Pemilik Hati
Kusadari cinta adalah fitrah
Datangnya ialah sebagai anugrah indah
Cinta berasal dari-Mu
Maka akan kuabdikan hanya untuk keridhoan-Mu
 
Wahai Dzat Yang Maha Menyatukan Hati
Jagalah ia yang telah mencuri rasa ini
Sucikan rasaku dari noda dalam cinta
Biarlah rasa ini menjadi rahasiaku dengan-Mu
Kuyakin Kau takkan mengabarinya walau dengan berbisik

Ya Rabb …
Ajari aku tuk mencintaimu
Hingga tiada lagi kan mengganggu kekhusyuanku
Dalam sujud penghambaan di keheningan malam

Keangkuhanku


Puisi ini kutulis karena terinspirasi dari sosok “Getun”, gadis kecil berusia 11 tahun yang terlahir tanpa kedua tangan. Namun semangatnya tak pernah padam. Ia tak jadikan kekurangan sebagai hal yang harus disesalkan, karena bagaimanapun ialah pemberian Tuhan. Getun bahkan memiliki kemampuan layaknya anak manusia dengan organ tubuh sempurna. Ia bisa menulis, memainkan keyboard, melukis, dan membantu ibunya dalam berbagai pekerjaan rumah. Sungguh Getun adalah sosok yang amat menginspirasi, terutama untukku. SubhaanAllah … Terima kasih Getun.

Cukup !
Jangan kau sembunyikan nestapa dari muka
Kumohon jangan kau ulangi membuat luka dalam sukma
Kau terlalu kecil
Kau teramat belia
Bagiku Kau tak kurang sempurna
Cukup sudah kisahmu membuatku menangis meraung

            Hentikan !
            Sudahilah kenyataan ini
            Jangan paksa diri ini yang kian tertatih
            Hadirmu telah menghantam keras batinku

Senandung indah yang mengalun dari bibir manismu
Seuntai kata yang menggelitik hati
Segala hebat yang kau perlihatkan pada kami

Baik…baiklah …
Aku menyerah
Bukan untuk kalah
Aku menangis
Tak berarti aku lemah
Aku menjerit
Aku sakit
Karena Kau …
Karena kau telah sadarkan aku dari keangkuhan
Karena kau telah ajarkan aku agar mendekat pada Tuhan
Menikmati pemberian tanpa menyesali yang tak dimiliki
Seperti dirimu, hai gadis kecil tak bertangan tak berlengan

Kumohon sekali lagi, hentikan !