(Oleh Ustadz Salim A. Fillah, dalam buku Agar Bidadari Cemburu Padamu)
“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan terhadap
apa yang diingini (syahwat) dari wanita-wanita, anak-anak, dan harta yang banyak
dari jenis emas, perak, kuda pilihan, ternak, dan sawah ladang...”(Ali ‘Imran :14)
Cinta, ruh yang mengalir lembut, menyenangkan,
bersinar, jernih, dan ceria. Terkadang juga bermanifestasi menjadi luh yang
mengalir lembut, menyesakkan, berderai, jerih, dan badai... Tak pernah ia
dihukumi haram. Karena ia bukan virus yang memberikan penyakit pada jiwa seperti
yang kita salahtafsirkan. Justru cinta adalah makhluq Allah yang harus dijaga
kesehatannya dari setiap penyakit yang mencoba menungganginya. Penyakit yang
datang dari syahwat, syaithan, maupun syubhat.
Dua remaja di singsingan fajar risalah, Fathimah
dan ‘Ali mencontohkan bagaimana cinta hidup, dengan sehat, tanpa penyakit yang
mengganggu kekhusyu’an. Ia menjadi rahasia hati, simpati, ketertarikan, kontrol
diri, do’a, dan harapan. Saking rahasianya, sampai syaithan pun tak tahu.
Begitu pun, saat Muhammad ibn ‘Abdullah ditanya, maukah ia menikah dengan
Khadijah, ia berkata segera, “Bagaimana caranya?”. Perhatikanlah intonasi penuh
antusiasme ini. Cinta itu sudah tumbuh dan bersemai dalam dirinya. Persis
seperti siratan makna dari sabdanya bertahun-tahun kemudian:
“Tiada terlihat, bagi dua orang yang saling
mencintai..Yang seperti pernikahan.” (HR Ibnu Majah)
Seperti bunga, cinta sejati takkan mampu
menyembunyikan semerbak wanginya. Eksistensi cinta mengejawantah dalam
kelembutan, kecerdasan, perbaikan diri, keshalihan, dan tentu juga keikhlasan.
Tanpa keikhlasan yang digantungkan pada Pemilik ‘Arsy Maha Tinggi, ia akan
mati. Ia mati, persis seperti setangkai mawar yang dipotong hanya untuk
dipersembahkan pada kekasih.
“Dan hendaklah menjaga
kesucian dirinya, orang-orang yang belum mampu menikah, hingga Allah mengayakan
mereka dari karunia-Nya.” (An Nuur :33)
Pastinya engkau tahu apa makna keikhlasan dalam
setiap amal. Dan ketidaktahuan adalah isyarat agar kita mengkaji. Cinta yang
tercerabut dari tangkai keikhlasan akan menjadi bunga potong yang mungkin
sesaat merona, dan selanjutnya masuk ke tempat sampah.
Saat kemampuan menikah belum di tangan, biarlah
cinta berekspresi menjadi keshalihan, perbaikan diri hari demi hari. Karena
samapta janji Ilahi telah terukir dipelataran wahyu: keshalihan menjumpai
keshalihan dan kebusukan menjumpai kebusukan.
“Wanita-wanita yang keji
adalah untuk laki-laki yang keji, dan lelaki yang keji adalah untuk perempuan
yang keji. Dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik, dan lelaki yang
baik adalah untuk wanita yang baik...” (An Nuur :26)
Bagaimana dengan yang saling cinta dan berkomitmen
untuk tidak pacaran? Pada beberapa kasus, tetap saja ia tumbuh tidak sehat.
Apalagi jika tetap berada dalam satu lingkungan yang keterjangkauan
komunikasinya tinggi. Kecuali beberapa yang sangat sedikit jumlahnya. Jebakan-jebakan
syaithan terlalu rumit untuk kita pahami terlebih dahulu hingga kita punya
solusi dan prevensi. Sejak zaman Adam dan Hawa, hanya kata taqwa, termasuk
taqwa dalam interaksi, yang mampu meredam makar syaithan.
Tak perlulah berkata, “Tunggu aku tiga tahun lagi!”. Apa perlunya menjanji
yang tak pasti. Tak diminta pun bidadari pasti menanti. Dan lelaki langit akan
datang bersama cahaya. . .
Sulitkah mencintainya?
Wallaahu a’lam