Kamis, 29 Juni 2017

Jejak di Ujung Pena

Dalam sunyi penaku menari merangkai aksara
Hitam tinta berangkulan menyulam makna dari setiap kata
Sebab lisan tak lagi mampu bersuara
Hanya ratapan pilu yang terus mengemis rasa dalam sukma
Ada gerimis yang membasahi lubuk jiwa
Menyaksikan redupnya cahaya yang pernah bersinar di atas dunia
Nyala kemenangan berabad tahun silam, kini kian padam
Putih mulai berganti kelam, bak semburat wajah muram
Ini tentang Islamku, agama tanpa ragu
Bagaimana hati tak ingin merintih, melihat pemuda masa kini semakin acuh
Masjid tak lagi didatangi, Al-qur’an tak banyak disentuh
Haruskah aku terus mengeluh
Sedangkan ‘azzam masih terus tumbuh
Walau iman terkadang rapuh
Aku masih menantikan cahaya
Kemilau Islam yang lama didamba
Akankah kembali merona, menyambar langit dunia?
Tidak tahu
Tetapi penaku takkan berhenti mengukir jejak
Menata untaian dakwah di tengah rasa sesak
Jejak hitam akan terus menggores lembar kehidupan
Mengukir kisah pergolakan iman dalam pahit getir perjuangan
Masa ini, masa di mana cahaya Islam belum pulih
Sebab ia terhalang oleh sikap ummatnya sendiri
Terkadang malu pun aku rasa
Adakah aku bagian dari mereka?
Namun ini pula realita
Aku tak bisa menutup mata
Meski bertubi-tubi harus meloloskan airmata
Melihat para muslimah menampakkan auratnya
Juga lelaki dan perempuan tiada berbatas dalam bercengkrama
Inilah alasan mengapa aku tak banyak bersuara
Karena kelu terasa mencekat lisan
Maka biarlah kugerakkan ujung pena ini
Tuk melukiskan gambaran hati yang gamang dirundung sedih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar