Rabu, 14 Oktober 2015

Keangkuhanku


Puisi ini kutulis karena terinspirasi dari sosok “Getun”, gadis kecil berusia 11 tahun yang terlahir tanpa kedua tangan. Namun semangatnya tak pernah padam. Ia tak jadikan kekurangan sebagai hal yang harus disesalkan, karena bagaimanapun ialah pemberian Tuhan. Getun bahkan memiliki kemampuan layaknya anak manusia dengan organ tubuh sempurna. Ia bisa menulis, memainkan keyboard, melukis, dan membantu ibunya dalam berbagai pekerjaan rumah. Sungguh Getun adalah sosok yang amat menginspirasi, terutama untukku. SubhaanAllah … Terima kasih Getun.

Cukup !
Jangan kau sembunyikan nestapa dari muka
Kumohon jangan kau ulangi membuat luka dalam sukma
Kau terlalu kecil
Kau teramat belia
Bagiku Kau tak kurang sempurna
Cukup sudah kisahmu membuatku menangis meraung

            Hentikan !
            Sudahilah kenyataan ini
            Jangan paksa diri ini yang kian tertatih
            Hadirmu telah menghantam keras batinku

Senandung indah yang mengalun dari bibir manismu
Seuntai kata yang menggelitik hati
Segala hebat yang kau perlihatkan pada kami

Baik…baiklah …
Aku menyerah
Bukan untuk kalah
Aku menangis
Tak berarti aku lemah
Aku menjerit
Aku sakit
Karena Kau …
Karena kau telah sadarkan aku dari keangkuhan
Karena kau telah ajarkan aku agar mendekat pada Tuhan
Menikmati pemberian tanpa menyesali yang tak dimiliki
Seperti dirimu, hai gadis kecil tak bertangan tak berlengan

Kumohon sekali lagi, hentikan !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar