Penantian panjang sejak 12 Mei
2012 hingga 08 Mei 2015 bukanlah hal yang mudah kujalani. Menanti kepulangan
abang tercinta selama 3 tahun telah menyisakan kesedihan yang mendalam. Rentang
ukhuwwah sepanjang Indonesia-Jepang hanya bersatu dalam do’a-do’a, karena aku
dan abang tak punya banyak waktu untuk saling berkomunikasi. Tinggallah sepi
mengurungku dalam kerinduan.
Abangku mendapat beasiswa untuk
melanjutkan studi ke Jepang sekaligus magang di perusahaan Oshima Taci di
Saitama-Shi, Saitama, Jepang. Beasiswa itu adalah mimpinya sejak lama, dan ia
berhasil menjemput mimpi setelah berjuang selama kurang lebih 6 bulan proses
seleksi dan masa karantina. Perjalanan di Jepang pun dimulai sejak satu tahun
setelah kelulusannya dari SMKN 58 Jakarta. Sebagai seorang adik, meski hanya
adik sepupu, aku sangat bangga pada perjuangan dan kerja keras abang. Aku tahu
betul bagaimana pahitnya perjuangan yang ia lakukan, mulai dari meluluhkan hati
orangtua yang semula tak memberinya izin, menebalkan telinga atas cibiran
orang, dan masih banyak lagi rintangan yang terkadang hampir memerosokkannya
pada jurang keputusasaan.
Aku belajar banyak dari sosok
abangku. Ia adalah anak yang pendiam, tidak banyak keluar rumah, santun, dan religius.
Terlebih prestasi luar biasa itu membuatku semakin mengagumi sosok abang
sepupuku itu. Kami memang dekat sejak kecil, karena itu aku terbiasa
menganggapnya sebagai abang kandungku. Rasa teramat kehilangan pun menyerang
batinku kala Sabtu pagi di pertengahan tahun 2012 kekuatan tekadnya merenggut
raganya dari sisiku.
Kini abang memang telah kembali
bersama keluarga kami. Dan 3 tahun tanpanya telah menorehkan banyak kisah dalam
hidupku. Kisah-kisah itu di antaranya kuukir dalam bait-bait puisi penuh cinta.
Inilah puisi-puisi yang kutulis khusus untuk abangku tercinta, Abdoel Rahman (Bang Doel)
:)
Setia
Untukmu
*Fildzah Nur Amalina*
Aku menantimu dalam gusar
Untuk tetap sabar menunggu bagiku terlalu sukar
Hanya kau satu-satunya bintang yang mampu membuat senyumku mekar
Untuk tetap sabar menunggu bagiku terlalu sukar
Hanya kau satu-satunya bintang yang mampu membuat senyumku mekar
Aku menangisimu
senantiasa parau
Tak ingin sedetikpun tentangmu aku terlampau
Berkawan pilu hati yang galau
Kumasih setia menanti cahayamu berkilau
Tak ingin sedetikpun tentangmu aku terlampau
Berkawan pilu hati yang galau
Kumasih setia menanti cahayamu berkilau
Aku mengharapkanmu datang segera
Tuk menghapus segala luka dalam sukma
Agar kudapatkan lagi keutuhan bahagia dalam jiwa
Tuk menghapus segala luka dalam sukma
Agar kudapatkan lagi keutuhan bahagia dalam jiwa
Senin, 14 Juli 2014
pukul 14.00 WIB
Puisi di bawah ini adalah ungkapan kebahagiaanku saat pertama kali abang menelponku secara langsung setelah bertahun-tahun meninggalkan tanah kelahiran. Malam itu menjadi sangat berarti untukku karena saat itu aku sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan di sebuah tempat Medical Check Up di Bekasi Barat. Malam itu kuceritakan masa PKL ku dengan penuh keluh kesah, intinya aku mengungkapkan ketidaknyamananku melakukan praktik kerja di sana. Lalu abang bertanya "Memangnya berapa lama PKLnya ?", kujawab "2 bulan". Abangpun memberikan petuah yang hingga kini terus terngiang di kepalaku, "Cuma 2 bulan aja kok udah gak betah, gimana di sini nanti, 3 tahun lho. Katanya mau nyusul abang ?". Ya, aku memang bermimpi untuk menjejakkan kaki di bumi sakura seperti abangku. Aku pun malu pada kata-kata abangku. Sejak saat itu aku mulai mencoba untuk memperbaiki diri dan memperbanyak rasa syukur, aku harus ingat bahwa ditempatkan di lahan PKL tertentu adalah bagian dari rencana Allah untuk mengajariku banyak hal. Setiap detik kejadian yang mampir dalam kehidupan ini tak pernah luput dari campur tangan Allah, dan Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.
Bisikan
Rindu
Di Keheningan malam
Dalam kepekatan kelam
Hatiku merona bagai rembulan
Saat perlahan mulai kudengar suaramu
Dalam kepekatan kelam
Hatiku merona bagai rembulan
Saat perlahan mulai kudengar suaramu
Tahun demi tahun
berlalu dalam dekapan rindu
Kuterpasung dalam lembah nestapa
Menanti hadirmu kala gundah melanda
Resah karena kita tak bersama
Kuterpasung dalam lembah nestapa
Menanti hadirmu kala gundah melanda
Resah karena kita tak bersama
Bukan dalam hitungan hari kau pergi
Jalinan waktu nan panjang masih kan kau lalui
Menyisakan serpihan luka yang mengemis rasa
Jalinan waktu nan panjang masih kan kau lalui
Menyisakan serpihan luka yang mengemis rasa
Di keheningan
malam
Dalam kepekatan kelam
Kudapatkan bahagia
Saat pertama kuulang canda kita setelah lama tak bersua
Dalam kepekatan kelam
Kudapatkan bahagia
Saat pertama kuulang canda kita setelah lama tak bersua
Bekasi
Selasa, 05 Agustus 2014
pukul 23.07 WIB
Selasa, 05 Agustus 2014
pukul 23.07 WIB
Menanti Cintaku
Tiga tahun lamanya kita tak saling
bertatap muka
Kau dan aku terpenjara dalam batas-batas negara
Tersandera dalam ingatan rupa
Meninggalkanku dalam kegelapan ruang hati yang hampa
Kau dan aku terpenjara dalam batas-batas negara
Tersandera dalam ingatan rupa
Meninggalkanku dalam kegelapan ruang hati yang hampa
Kuingat
saat pertama kali kau melangkah pergi
Terlalu jelas memang masih membekas
Itu adalah mimpimu
Mengenang masa indah kita dalam rimbunan sakura
Terlalu jelas memang masih membekas
Itu adalah mimpimu
Mengenang masa indah kita dalam rimbunan sakura
Mungkin kau tak pernah tahu
Salam rinduku telah kusampaikan pada Tuhan
Hanya agar kau kembali ke sisiku
Membawa sejuta cerita bahagia dalam menjemput asa
Salam rinduku telah kusampaikan pada Tuhan
Hanya agar kau kembali ke sisiku
Membawa sejuta cerita bahagia dalam menjemput asa
Aku
menantimu dengan segenap kerinduan yang kian menyergap
Masih dengan kesempurnaan cintaku
Tetap bersama ingatan tentangmu
Masih dengan kesempurnaan cintaku
Tetap bersama ingatan tentangmu
Aku menantimu kembali ke sisiku …
Bekasi
Selasa, 08 Juli 2014
pukul 08.45 WIB
Selasa, 08 Juli 2014
pukul 08.45 WIB





Tidak ada komentar:
Posting Komentar