(Dikisahkan dalam buku 30 Sirah Tokoh Wanita Tabi'in yang ditulis oleh Ahmad Khalil Jum'ah)
Huzail adalah anak yang sangat berbakti kepada ibunya. Beliau selalu berusaha agar ibunya hidup tenang dan bahagia. Segala sesuatu yang dapat mendatangkan keridhaan dan kebahagiaan ibunya, beliau lakukan.
Ada sebuah kisah menarik yang terjadi antara Huzail dengan ibunya, Hafshah binti Sirin. Kisah yang menunjukkan bahwa Hafshah benar-benar telah berhasil mendidik anaknya, dan Huzail adalah benar-benar anak yang berbakti.
Kisah tersebut disampaikan oleh Hisyam bin Hassan.
“Huzail selalu mencari kayu bakar pada musim panas. Beliau kupasi kayu tersebut, dan yang diambil adalah kayu bagian dalam. Beliau memotong-motong batang tersebut hingga menjadi kecil. Hal itu beliau lakukan karena Hafshah merasa kedinginan kalau datang musim dingin. Jika Hafshah sedang shalat dan beribadah di mushallanya, Huzail selalu menyalakan tungku api, kemudian membakar kayu-kayu yang telah disiapkan sebelumnya dengan cara membuang kulitnya. Jika dibakar, kayu tersebut tidak banyak mengeluarkan asap. Dengan begitu, ibunya merasakan kehangatan dan tidak terganggu dengan asap. Huzail selalu melakukan hal yang sama setiap malam di musim dingin sebagai rasa hormat dan bakti kepada ibunya.”
Ternyata ajal lebih dulu menjemput Huzail. Namun, Allah swt. juga memberikan Hafshah kekuatan untuk bersabar menerima suratan tersebut. Suatu malam ketika Hafshah membaca Al-Qur’an, ia sampai pada ayat:
وَلَا تَشْتَرُوْا بِعَهْدِ اللّٰهِ ثَمَنًاقَلِيْلًا إِنَّمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَاللّٰهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 95-96)
Hafshah mengulang-ulang ayat tersebut sehingga Allah swt. benar-benar menghilangkan kesedihan yang sebelumnya ia rasakan.
Siapakah sosok Hafshah binti Sirin? Mengapa namanya begitu diagungkan di kalangan Tabi’in? Mari kita simak sirah wanita hebat yang disebut-sebut sebagai wanita pemilik warisan sejati.
Sosok yang kita bahas sekarang adalah wanita yang benar-benar dapat mewarisi keistimewaan keluarganya. Keistimewaan yang dimaksud adalah kecintaan kepada ilmu, dan kesungguhan dalam membaca.
Beliau lahir dan tumbuh dewasa dalam sebuah keluarga yang penuh dengan ilmu, takwa, wara’, dan kezuhudan. Beliau juga telah lulus dari madrasah para sahabat. Beliau adalah seorang ahli fiqih, wanita Anshar dan Bashrah.
Ayah beliau bernama Sirin, seorang hamba sahaya yang dimiliki oleh Anas bin Malik ra. Sebelumnya, beliau adalah hamba sahaya milik Khalid bin Walid ra. Beliau menjadi hamba sahaya setelah ditawan dalam sebuah perang di ‘Ain Tamar, sebuah wilayah di Anbar Irak. Ketika dalam kepemilikan Anas bin Malik ra., beliau berusaha menebus dirinya hingga akhirnya menjadi seorang yang merdeka.
Tidak lama kemudian, Sirin menikahi seorang wanita bernama Shafiah, seorang hamba sahaya yang dimiliki Abu Bakar Ash-Shidiq ra. Shafiah adalah seorang wanita yang sangat baik. Beliau juga seorang wanita yang sangat beruntung karena didoakan oleh tiga orang istri Rasulullah saw.
Demikianlah, Hafshah terlahir pada sebuah keluarga yang sangat mulia. Cukuplah menjadi kebanggaan bahwa tuan mereka adalah seorang sahabat yang sangat agung, yaitu Anas bin Malik ra. Keluarga ini dibentuk dan dipelihara dalam bimbingan beliau. Banyak juga sahabat yang turut memeliharanya, di antaranya adalah Ibunda Aisyah ra. dan Ummu Athiyah Al-Anshariyah ra.
Hafshah menuntut ilmu dan haditsnya dari para tabi’in. Beliau meriwayatkan hadits dari Yahya (saudaranya), juga dari Abul Aliyah Rafi’ bin Mahran Al-Bashari, seorang imam ahli qira’at, penghafal hadits, dan juga mufassir. Adapun yang meriwayatkan hadits dari Hafshah terdapat sejumlah tokoh tabi’in seperti Muhammad bin Sirin (saudaranya sendiri), Qatadah, Ayyub. Ibnu ‘Aun, Hisyam bin Hassan, dan masih banyak yang lainnya.
Hadits-hadits beliau banyak tertulis dalam kitab-kitab shahih, sunan, dan musnad. Di antara hadits yang diriwayatkannya adalah sebuah hadits yang menerangkan masalah cara memandikan mayat, yang diriwayatkan dari Ummu Athiyah Al-Anshariyah ra. Beliau berkata, “Ketika Zainab putri Rasulullah saw. meninggal dunia, Rasulullah bersabda, ‘Mandikanlah dia dengan jumlah yang ganjil, tiga atau lima kali. Pada kali yang terakhir, campurkanlah dengan wewangian. Jika kalian sudah selesai memandikan, beri tahu aku.” Setelah selesai memandikannya, beliau memberi kami selembar kain.
Selain meriwayatkan banyak hadits, Hafshah juga merupakan wanita yang sangat memahami ilmu Al-Qur’an. Beliau dapat memahami dan menghafalkan Al-Qur’an, sehingga tidak mengherankan jika banyak orang yang berdatangan menemui beliau untuk menanyakan masalah apa saja yang menyulitkan mereka. Beliau telah hafal Al-Qur’an sejak berumur dua belas tahun. Sejak itu pula beliau hidup siang malam dalam naungan Al-Qur’an. Beliau mempunyai hati yang selalu terhubung dengan Allah swt. Al-Qur’an menjadi wirid harian yang membasahi bibirnya. Setiap malam, belum lagi fajar menyingsing, beliau telah membaca setengah Al-Qur’an. Beliau tidak pernah meninggalkan wirid Al-Qur’annya.
Hafshah termasuk wanita yang paling baik dalam hal ibadah, agama, menjaga kemuliaan diri, kemurahan hati, dan kebaikan akhlak. Beliau selalu mengkhususkan sekian waktu di malam hari untuk melaksanakan tahajjud dan munajat. Mahdi bin Maimun pernah bercerita tentang Hafshah, “Selama tiga puluh tahun, Hafshah tidak pernah keluar dari tempat ibadahnya, kecuali untuk menemui tamu dan untuk menyelesaikan urusannya.”
Hisyam bin Hassan dengan demikian indah menerangkan bagaimana Hafshah beribadah, “Beliau pergi ke masjid pada siang hari untuk melaksanakan shalat zuhur, kemudian beliau melanjutkannya dengan shalat ashar, maghrib, isya dan subuh. Baru setelah matahari agak tinggi, beliau keluar dari masjid setelah sebelumnya melaksanakan shalat sunnah terlebih dahulu. Saat keluar itulah beliau gunakan untuk tidur dan mengambil air wudhu. Jika waktu zuhur tiba, beliau kembali ke masjid dan melakukan seperti yang dilakukan sebelumnya.”
Selain shalat dan keshalihannya, Hafshah juga dikenal sebagai salah seorang yang berpuasa setiap harinya. Sejak beliau dewasa, tidak pernah sehari pun beliau tidak berpuasa, kecuali pada dua hari raya dan hari-hari tasyriq, karena pada hari-hari itu diharamkan berpuasa.
Ada sebuah cerita yang dapat menjadi bukti bahwa Hafshah berpuasa setiap hari. Cerita itu, anak beliau yang bernama Huzail mempunyai seekor unta yang bisa menghasilkan susu sangat banyak. Pada suatu siang, beliau mengirimkan satu baskom susu kepada ibunya. Ketika diberi, Hafshah menolak dan berkata, “Wahai anakku, engkau tidak tahu kalau aku tidak akan meminumnya? Aku sedang berpuasa.” Huzail pun berkata lagi, “Wahai ibuku, ini adalah susu yang paling enak. Ambillah sesuka hatimu.” Akan tetapi, Hafshah lebih memilih ridha Allah swt. daripada susu itu. Beliau kemudian membagi-bagikan susu itu kepada para fakir miskin.
Hafshah hidup hingga berumur tujuh puluh tahun. Sepanjang tujuh puluh tahun juga, beliau menjadi teladan bagi wanita muslimah. Teladan bahwa seorang wanita harus wara’, shalihah, dan bertakwa kepada Allah swt. Tujuh puluh tahun tersebut telah menjadikan Hafshah sebagai wanita tabi’in yang akan selalu dikenang dengan perasaan penuh bahagia. Semoga Allah merahmati Hafshah dan menempatkannya di tempat yang mulia.
Semoga kita sebagai ummat manusia yang tidak hidup bersama Rasulullah saw maupun para sahabat, dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari sirah seorang wanita tabi’in mulia, Hafshah binti Sirin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar