Sabtu, 16 Februari 2019

Kesempatan Kedua

(Puisi ini terinspirasi dari Warga Binaan di Rutan Pondok Bambu saat saya dan tim komunitas datang untuk mengajarkan salah satu metode menghafal Qur'an. Sungguh, ada banyak hikmah yang membuat airmata tak henti bercucuran. Salah satu yang sangat melekat di ingatan saya adalah saat salah seorang WB berbisik perlahan sesaat sebelum kami berpamitan, "Ustadzah...do'akan yang terbaik untuk hidup saya ya. Terbaik menurut Allah.")

Terimakasih telah mengizinkanku bertandang
Mereguk hikmah dari kisah-kisah usang
Biarlah yang lalu menghilang
Tanpa berbekas tiada kenang

Pada senja aku telah bercerita
Tentang sekelumit kisah lara
Berbekas kelabu pertanda dosa
Iringan masa lalu dalam kubang nista

Kurangkai jalinan asa
Yang terpenjara dalam sesal rasa
Lanjutkan cerita meski didera
Mengemis waktu tuk kembali pada semesta

Hari itu tak kuhirup aroma senja
Hanya kudapati setitik cahaya jingga
Menelisik celah sempit jeruji baja
Sejak itu, senja urung hadirkan tawa

Tetapi esok senja kan meminta
Pijaran warna setelah hujan air mata
Saat Tuhan hadirkan kesempatan kedua
Dan kusadari, masih ada jalan menuju Surga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar