Sabtu, 23 Januari 2016

Airmata Bumi Syuhada

Kering sudah airmata
Menatap nestapa dalam tragedi yang menyiksa
Sesak seluruh nafas jiwa
Hilang rasa…tak ada lagi tawa

Dentuman bom yang menghantui malam-malam penuh ketakutan
Jerit peluru yang bersahutan
Hingar bingar suara ledakan
Pembunuhan
Pembantaian
Merenggut nyawa-nyawa tanpa dosa

Merah menyambar di langit dunia
Darah berkesimbah memoles tanah Palestina
Suara hati tertahan dalam dada
Tiada tangis, tanpa suara
Meski luka mengiris pilu sukma

Keberingasan membabi buta
Seakan sebuah jiwa tiada harganya
Di mana hak asasi manusia ?
Adakah iba akan menghentikan penyerangan tanpa sisa ?

Duhai jundi yang memenuhi panggilan Ilahi
Telah mati masa kanak-kanakmu di tangan Yahudi
Keberanianmu menjadi saksi
Perjuangan melawan kezholiman yang membumi
Betapa airmata tak mampu lagi tertahan
Melihat keteguhanmu dalam barisan pertahanan
Menyelamatkan bumi syuhada dari jeratan penguasa
Melangitkan manusia, meniti jalan ke Surga

Hancur lebur bumi Palestina
Rumah-rumah tinggallah debu
Sekolah-sekolah hanya menyisakan kerikil-kerikil batu
Semua lenyap menjadi abu
Tapi kehancuran tak terjadi pada hati mereka
Jiwa-jiwa yang terpanggil raganya
Menjemput syahid yang bergema
Berkawan duka dalam kesakitan yang belum terobati
Kegigihan yang mengisi seutuh ruang hati
Bergerak tanpa takut mati

Wahai negeri para anbiya !
Jejak risalah telah bercerita pada kami
Tentang keagunganmu di antara seluruh penjuru negeri
Tanah suci pemersatu ummat Yahudi, Nasrani, dan Islam
Tapi kini nasibmu harus ditelan oleh kelam
Gejolak perang belum berhenti menyerang
Al-Aqso menjadi taruhan untuk bertahan dalam kepedihan

Bertahan...bertahanlah saudaraku
Sembunyikan derasnya tangisan jiwa dari muka
Simpan seluruh perih sayatan luka
Jangan suarakan derita yang kau rasa
Karena aku tak kuasa menyaksikan semua
Kala sebuah peluru menembus tubuh kecilmu
Ketika tank dengan angkuh menggilas remuk kepalamu
Tubuh-tubuh yang menggelepar di jalan
Menyisakan satu nafas yang berhembus untuk kematian

Episode kehidupan penuh kelaraan
Adalah pemandangan yang aku saksikan
Media mempertontonkan kemalangan
Pantaskan aku hanya diam ?
Tidak !
Sekuat kemampuan akan kuperjuangkan untukmu kemerdekaan
Walau tak banyak yang mampu kulakukan
Meski hanya do’a-do’a yang dapat kukirimkan
Bertahan…bertahanlah saudaraku
Bertahanlah untuk keabadian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar