Pagi masih terasa sejuk. Udara segar merefleksi pikiranku dari
galau. Namun semangatku masih lumpuh sejak kuterima hasil ulangan semester I lalu.
Rasanya, tak ingin aku lakukannya tuk
kedua kali. Kecewa, sedih, marah, semuanya menyatu menjadi adonan di pikiranku.
Langkahku pun sulit untuk kuajak menuju sekolah. Aku malu dengan buku-buku
paket di perpustakaan. Mereka sering kupinjam, namun tak berguna, jutaan kata
yang kubaca tak pernah masuk dalam pikiranku. Selalu kacau.
Tapi aku harus memperbaiki
semua kesalahan itu mulai sekarang.
Hari ini aku berangkat ke sekolah hanya berdua dengan motor matic-ku.
Dewi yang biasanya menemaniku sudah berangkat duluan bersama kakaknya. Huh, lagi-lagi
harus bete.
Kepulan asap yang berhembus di
tengah lalu lintas semakin membuatku kacau. Semakin gak karuan.
Panas, macet,…Belum lagi aku harus
ngejar waktu supaya gak terlambat ke sekolah. Ugh…rasanya bom atom udah ada di
atas kepala.
Aku
tengak-tengok mencari jalan untuk mendahului kendaraan-kendaraan yang macet
ini. Tanpa pikir panjang, aku terobos jalan dengan nyelip-nyelip.
Akhirnya, bebas
sudah dari macet.
Brakkkkk ! “Astagfirullah….!”
aku tak mampu
mengendalikan motorku dalam kelajuan kencang, pikiranku hanya cepat sampai sekolah.
“Maaf ya mbak….”
Suara merdu
keluar dari mulut seorang lelaki seraya
membuka helm-nya.
Aku diam seribu
bahasa memandangi wajahnya, terlihat jiwa yang manis dan lembut.
“Oh, ya…saya yang minta maaf. Saya
yang nabrak motor kamu.”
“Gak ko mbak, saya
yang gak hati-hati. Jadi, saya yang salah.”
Lelaki sweety
itu lagi-lagi mengeluarkan suara lembutnya.
Tak ada kata
yang melintas di pikiranku untuk membalas perkataan itu.
“Mbak gak
apa-apa ?”
Kali ini suara
itu bikin jantungku deg-degan setengah mati.
Tatapanku masih
konsentrasi ke arah wajahnya. Hingga suasana hening menyelimuti pinggirang
perempatan jalan, tempat kita tabrakan.
Wajah manis itu tiba-tiba berubah
menjadi tegang setelah melihat jam tangannya.
Mungkin dia
masih menunggu jawabanku, tapi kayaknya dia udah terlambat ke sekolah.
“Mbak…maaf saya sudah telat. Permisi
mbak…”
Tanpa
buang-buang waktu, dia segera tancap gas dan pergi meninggalkan aku.
Baru kusadari,
ternyata aku pun sudah terlambat. Segera kualihkan pikiranku dari lelaki itu.
“Lelaki itu ramah banget. Ahh, sayang dia sudah pergi. Percuma aku
meneruskan ke sekolah, paling juga disuruh pulang lagi sama si kumis (Satpam
sekolah).”
Lengkap banget
kesialan hari ini.
Aku memutar balik ke arah toko buku,
sekalian baca-baca, usaha buat memperbaiki nilai yang anjlok parah.
***
(di toko buku)
“Maaf…”
Suaraku
berbarengan dengan seseorang. Lagi-lagi terjadi tabrakan, namun kali ini bukan
antar motor, tapi antar tangan. Hampir aja aku megang tangan seseorang karena
mau ngambil buku yang sama.
“Maaf, kalau begitu kamu duluan aja
!”
Aku masih belum
menyadari siapa orang yang sedang kuajak bicara. Pandanganku masih tertunduk.
“Ya, saya lagi butuh banget buku
ini. Maaf ya..”
Suara itu
mengingatkanku pada lelaki di perempatan tadi, yang bertabrakan denganku. Aku
menoleh ke arah wajahnya, dan ternyata benar, dia adalah lelaki tadi, yang di
perempatan itu.
“Mbak…? Emmh, mbak yang tadi
tabrakan itu kan?” tanyanya penuh heran.
“Ya, saya yang
tadi. Kebetulan kita ketemu lagi.” Gak nyangka, aku ketemu sama cowok sweety
ini lagi. Grogi sih.
“Yah, daripada
saya gak belajar sama sekali, mendingan ke sini aja. Kalau mbak kenapa, ko gak
ke sekolah, telat juga?” dia bertanya
detail.
“Iya, telat
juga. Jadi, ke sini deh.” Sebenernya sih gugup, tapi tenyata dia gak kaku, enak
ko jadi teman ngobrol.
“ O’iya, saya Ahmad. Boleh tau nama
mbak ?”
Nah, ini dia
pertanyaan yang dari tadi aku tunggu-tunggu, akhirnya dia nanya nama juga.
“Saya Nina, dan
kayaknya kamu panggil Nina aja, gak usah mbak. Kayaknya kita seumuran.”
“Ya, kalau
gitu.”
Akhirnya kenalan juga. Bukan cuma parasnya yang bikin aku terpesona,
tapi keramahannya yang paling bikin aku kepincut abis. Beruntung banget bisa
ketemu orang kayak dia. Temen-temen aku sih langka banget yang kayak gitu.
Aku jadi ngobrol panjang sama dia.
Padahal, udah bisa kenal aja, aku dah seneng banget, tapi ternyata aku bisa
berteman dengannya.
“Ke sini mau
cari buku apa?” tanyanya di tengah obrolan kami.
“Buku-buku pengayaan. Buat nambah-nambah pengetahuan.”
“Wah, kreatif
banget tuh !” ujarnya.
Dia gak tau aja kalau
sebenarnya aku lagi proses rehabilitasi nilai. Kalau dia tau, aku pasti malu
banget.
“Kamu suka baca ya? Pilihan bukumu
itu tebal banget. Kalau saya sih gak sanggup baca sebanyak itu.”
“Ya, enggak juga
sih. Ini tuntutan aja, persiapan olimpiade. Bukan yang pertama kalinya sih,
tapi SMP Citra Pusaka kan selalu menang dalam olimpiade setiap tahunnya. Jadi,
saya gak mau bikin kecewa.” Jelasnya.
“ SMP Citra
Pusaka?”
“ iya, ada apa
?” tanyanya bingung.
“ Kamu sekolah
di sana?”
“iya.” Jawabnya
singkat.
“ Kamu Ahmad Kholili?”
“ Ya, ko kamu tau
sih?” jawabnya makin bingung.
“Aku sisiwi kls VIII
D di SMP Citra Pusaka. Nama kamu tuh nge-trend
banget sejak kemenangan sekolah kita waktu olimpiade tahun lalu. Ternyata orang
yang bikin aku penasaran, sekarang ada di depan aku.”
Aku kegirangan.
Sampai heboh menjelaskan identitasku yang ternyata satu sekolah dengannya.
“ Alhamdulillah
kalau nge-trendnya bisa ngasih
motivasi buat teman-teman.” Ujarnya dengan manis.
Obrolanku berlangsung seru
dengannya. Sampai-sampai, tujuanku untuk baca-baca gak kecapai. Tapi, ya gak apa-apalah.
Sebenarnya, aku tuh udah lama nyari tau siapa pemilik nama Ahmad Kholili
itu. Aku iri banget sama dia, karena dia slalu menangin olimpiade sains tingkat
nasional yang diikuti sekolahku setiap 1 semester sekali. Tapi aku sadar. Aku
gak punya kepintaran seperti dia. Tapi aku lagi berusaha ko, untuk ngembaliin
semangatku yang ambruk gara-gara selalu dapat nilai jelek. Mungkin, aku bisa
dapetin salah satunya dari dia.
***
Hari ini menjadi hari yang berkesan
dalam hidupku. Yah, walaupun banyak hal yang aku gak inginkan terjadi. Tapi, aku
rasa semua ada hikmahnya.
Sebelum mengenal Ahmad, aku
penasaran banget pengen saingan nilai sama dia, padahal udah pasti aku cuma
malu-maluin diri aku sendiri nantinya. Tapi aku nekat, karena aku juga pengen
banget ikut olimpiade kayak dia, rasanya dunia ini tuh gak adil.
Sekarang aku udah tau siapa seorang Ahmad
itu, aku sudah mengenalnya dan menjadi teman barunya. Aku memang terpesona
dengannya, tapi bukan berarti aku nyerah gitu aja. Aku bakalan tetap mau
bersaing dengan dia, kupikir ini bisa bikin aku semangat belajar supaya
nilai-nilai bagus itu gak lagi cuma ada di mimpi.
***
Pagi ini aku kembali berangkat ke
sekolah, namun tak lagi seperti kemarin, aku malah tak sabar menanti
pelajaran-pelajaran yang akan hadir.
Di dalam kelas, kudapat informasi
bahwa olimpiade sains tahun ini akan berlangsung satu minggu lagi. Aku berfikir nanti akan hadir memberikan dukungan kepada Ahmad
& team bersama teman-teman dan guru-guru.
Saat istirahat, aku menuju ke perpustakaan.
Kuyakin dia ada di sana. Dan benar saja, dia tengah membaca buku.
“Hai…maaf, ganggu
gak ?”
Aku menyapanya
“Nina…gak koq,
dusuk sini !” tuturnya ramah.
“Iya, makasih.
Emmh…gimana, satu minggu lagi lho ! udah siap belum ?”
“InsyaAllah
siap, tapi deg-degan sich, doa’in aja ya…!” jawabnya sedikit tegang membahas
olimpiade itu.
“Ya, tengang ja…
!”
“Tapi sebenarnya
aku gak mau menang. Karena aku….” Ucapannya terputus.
Aku pun bingung.
“Kenapa, katanya
kamu mau bikin sekolah kita bangga lagi ?”
Ahmad hanya
terdiam dan pandangannya tertunduk. Dia tak menjawab. Aku semakin bingung.
“Kamu mau ikut
team sains ?” tanyanya dengan mengalihkan pertanyaan tadi tanpa menjawabnya.
“Iya, tapi gak
mungkin.”
“Kenapa ?”
tanyanya penasaran.
“Aku kan gak
pinter kayak kamu, jadi belum pantas masuk team sains.”
“Aku rasa
mungkin-mungkin aja, kenapa nggak. Asal kita rajin dan punya niat. Percaya deh
!” balasnya dengan memberikan semangat untukku.
Aku hanya
tersenyum menanggapinya. Kata-katanya itu membuatku berfikir, gak akan ada
orang bodoh di dunia ini, kalau semua orang itu rajin.
Obrolanku berhenti sampai di situ.
Aku gak mau ganggu dia yang tadinya lagi baca buku. Lagian, aku juga mau baca
buku.
***
Sepulang sekolah, aku masih
menikmati senyumku yang beberapa hari ini terasa berbeda dengan hari-hari
sebelumnya. Aku gak mau berfikir yang aneh-aneh, biarin aja semua kebahagiaan
ini berjalan sendirinya.
Di sudut jendela kamarku, aku memandang
ke luar. Aku melamun. Aku gak pernah mengira kalau pertemuanku dengan Ahmad
begitu cepat terjadi. Sampai-sampai, bisa dibilang sekarang dia adalah
sahabatku. Padahal, aku baru saja beberapa hari mengenalnya lewat tabrakan yang
lalu itu. Rasanya waktu sangat berbaik hati padaku yang sedang terpuruk oleh
hasil belajar yang buruk. Karena, tak butuh waktu lama untuk aku berteman
dengannya, semua berjalan secara praktis.
Tapi, aku merasa resah dengan
keadaan ini. Salah satunya dengan sikap aneh Ahmad di perpustakaan tadi.
Kukhawatirkan satu hal. Apakah
pertemuan yan terjadi secara singkat akan berakhir perpisahan yang singkat pula
?
Akh, Entahlah…
***
Akhirnya hari yang
kutunggu-tunggupun tiba. Tak sabar ingin melihat team sainsku bertanding demi
kebanggaan sekolah. Meskipun sedikit kecewa, karena mungkin aku akan lebih
bangga jika aku termasuk di antara mereka. Tapi, ya sudahlah.
“Nina…” Ahmad
yang sudah datang terlebih dahulu menyapaku.
“Eh, Ahmad.
Lakukan yang terbaik ya !”
Lagi-lagi Ahmad
tak menjawab dan hanya tertunduk.
“Pokoknya,
apapun yang terjadi, kamu udah bikin sekolah bangga koq. Eitss, kamu gak serius
kan sama omongan kamu waktu itu (yang di perpustakaan sekolah) ?”
Sekali lagi dia
tak menjawab. Kemudian dia pergi meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Mungkin
dia udah ditunggu rekan-rekannya.
Tentu saja hal ini semakin membuatku
bertanya-tanya., ada apa sebenarnya di balik olimpiade ini. Apa dia gak siap
menghadapinya. Kurasa hanya dia yang tau jawabannya.
Setelah beberapa jam, akhirnya aku
pulang duluan. Tiba-tiba saja aku sedikit gak enak badan. Aku rasa, aku gak
bisa hadir untuk 2 hari berikutnya. Tapi, aku gak berharap seperti itu.
***
Berlalu sudah olimpiade. Benar saja,
aku gak hadir dalam dua hari berikutnya, aku harus istirahat karena demam. Tapi,
aku masih menunggu kabar dari temanku tentang olimpiade itu.
Handphone-ku
berdering.
“Assalamu’alaikum,
Azki..ada apa?”
“Wa’alaikum salam.
Nin, gimana kabarmu sekarang ?” tanyanya di telepon.
“Alhamdulillah
dah baikan. Oyh, ada apa ya ?”
“Aku mau kasih
tau kalau sekolah kita berhasil jadi juara 1 lagi !” jelasnya heboh.
“Hah,, yang
bener ?”
Aku gak nyangka.
“iya, 100%
nyata.” Jawabnya.
“Syukur deh
kalau gitu. Makasih ya infonya.”
“Ya, sama-sama.
Yaudah deh, aku cuma mau kasih tau itu aja. Cepat sembuh ya ‘n sampai jumpa
besok di sekolah. Wassalamu’alaikum.”
Azki mengakhiri
pembicaraannya denganku.
“Ya, Wa’alaikum salam.”
Aku bener-bener gak nyangka kalau
Ahmad & team bisa meraih juara 1 lagi. Kabar ini sejenak mengurangi kebingunganku
pada sikap Ahmad yang aneh akhir-akhir ini. Jadi pengen cepet-cepet sekolah
nih.
***
(di sekolah)
Pagi ini aku gak sabar pengen
ngucapin selamat ke Ahmad & team.
“Nina !” azki
memanggilku dari kejauhan.
Aku berhenti
melangkah dan menunggunya sampai di hadapanku.
“Kamu udah
ketemu team sains ?” tanya Azki.
Aku menggeleng
memberi isyarat.
“Sayang banget
kemarin kamu gak dateng sih. Kemarin tuh kita makan-makan sama guru-guru,
ngerayain kemenangan kita.” Azki bercerita.
“Ya.” Jawabku
singkat.
Kemudian aku dan Azki berjalan
bersama-sama menuju perpustakaan. Tak ada pelajaran hari ini, hanya pentas
seni, namun sepertinya tahun ini akan lebih meriah, karena ditambah dengan
kemenangan olimpiade itu lagi.
Karena acara belum dimulai, aku
memutuskan untuk mencari Ahmad di perpustakaan. Aku tengak-tengok ke sana ke
mari, tapi sepertinya gak ada tanda-tanda kehidupan di sini, alias sepi.
Akhirnya, aku beralih ke kantin, kemudian ke halaman tempat pentas seni akan
digelar. Tapi, masih sama. Aku gak nemuin salah satupun dari team sains.
“Pada ke mana ya
mereka?”
“Tau nih, dah
pegel juga nyariin.” Jawab Azki mengeluh.
Aku terus berjalan melewati setiap
lorong-lorong sekolah. Tiba-tiba, aku mendengar suara berisik dari arah ruang
kepala sekolah. Aku dan Azki menuju tempat itu. Lalu, keluarlah Ahmad &
team bersama orang tuanya masing-masing. Kulihat dia berwajah sedih. Padahal
kan seharusnya dia senang.
Dia baru menyadari kalau aku dan
Azki sedang memperhatikannya. Dia memandangku tanpa ekspresi. Aku membalasnya
dengan senyum. Dan dia pun senyum sedikit.
Aku
menghampirinnya dan menyalami Bapak Kepala Sekolah dan Wali murid yang ada di
situ.
“Selamat ya
kalian berhasil menang lagi.”
“Iya, makasih.
Ini juga berkat dukungan dan do’a teman-teman semua koq.” Jawab Iwan mewakili
rekan-rekannya.
Tak lama kemudian, mereka pergi
meninggalkan aku dan Azki, kecuali Ahmad. Dia masih berdiam diri dan tiba-tiba
mengusap air matanya.
“Kenapa nangis ?
Harusnya kan kamu senang seperti mereka.”
“Ya, seharusnya
aku senang.” Jawabnya membuatku heran.
“Ada masalah apa
?”
“Masih ingat
ucapanku di perpustakaan waktu itu?” dia bertanya balik padaku.
“Ya.” Jawabku
singkat.
“Kemenangan ini
emang hal terindah, apalagi bisa bikin bangga banyak orang. Tapi, aku harus
pergi.” Ucapnya masih meninggalkan tanda tanya.
“Ke mana?”
“Singapore. Dari
5 siswa yang tergabung dalam team sains, hanya aku dan Iwan yang terpilih. Aku
akan melanjutkan sekolah di sana dan akan bergabung dengan team sains Asia
Tenggara.” Jelasnya.
“Selamat ya…”
Padahal aku
terkejut banget, dan rasanya pengen ikutan nangis.
“Aku sedih
ninggalin sekolah ini, yang udah bikin aku bisa kayak gini. Semua kenangannya
gak bakal aku lupain. Termasuk kamu, sahabat lucuku.” Ujarnya.
Aku hanya
tersenyum lebar.
“Kalau aku udah
pergi, ingat ya pesan aku. Kamu harus jadi penerus team sains di sekolah ini.” Ucapnya.
“Sukses ya di
sana.”
“Ya, makasih.
Aku pasti rindu dengan kalian.” Dia mengakhiri kata-katanya dengan memberikan
senyuman manis, yang mungkin takkan kutemui lagi di sekolah ini.
Aku sangat kehilangan. Ternyata,
benar. Pertemuan yang singkat akan berakhir singkat pula. Namun, apa guna
kutangisi, karena takkan mengubah keadaan. Tapi, sebagai sahabat, aku kan slalu
mendukung yang terbaik buat sahabatku, walau perih.
Ahmad udah bikin aku semangat dan
memberiku motivasi. Bahkan, beberapa waktu mengenalnya, dia sedikit mengubah
pemikiranku yang sempit. Aku bangga banget punya teman seperti dia.
Tapi, Dia akan pergi. Kalau dia
pergi, apakah semangat belajarku ikut pergi ? Butuh waktu lama bagiku untuk
memikirkan hal itu.
Tapi… Akh, kurasa tidak !***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar