Selasa, 06 Maret 2012

*Terpesona*



           

Pagi masih terasa sejuk. Udara segar merefleksi pikiranku dari galau. Namun semangatku masih lumpuh sejak kuterima hasil ulangan semester I lalu. Rasanya, tak ingin aku  lakukannya tuk kedua kali. Kecewa, sedih, marah, semuanya menyatu menjadi adonan di pikiranku. Langkahku pun sulit untuk kuajak menuju sekolah. Aku malu dengan buku-buku paket di perpustakaan. Mereka sering kupinjam, namun tak berguna, jutaan kata yang kubaca tak pernah masuk dalam pikiranku. Selalu kacau.
Tapi aku harus memperbaiki semua kesalahan itu mulai sekarang.
Hari ini aku berangkat ke sekolah hanya berdua dengan motor matic-ku. Dewi yang biasanya menemaniku sudah berangkat duluan bersama kakaknya. Huh, lagi-lagi harus bete.
            Kepulan asap yang berhembus di tengah lalu lintas semakin membuatku kacau. Semakin gak karuan.
            Panas, macet,…Belum lagi aku harus ngejar waktu supaya gak terlambat ke sekolah. Ugh…rasanya bom atom udah ada di atas kepala.
Aku tengak-tengok mencari jalan untuk mendahului kendaraan-kendaraan yang macet ini. Tanpa pikir panjang, aku terobos jalan dengan nyelip-nyelip.
Akhirnya, bebas sudah dari macet.
            Brakkkkk ! “Astagfirullah….!”
aku tak mampu mengendalikan motorku dalam kelajuan kencang, pikiranku hanya cepat sampai sekolah.
            “Maaf ya mbak….”
Suara merdu keluar dari mulut  seorang lelaki seraya membuka helm-nya.
Aku diam seribu bahasa memandangi wajahnya, terlihat jiwa yang manis dan lembut.
            “Oh, ya…saya yang minta maaf. Saya yang nabrak motor kamu.”
“Gak ko mbak, saya yang gak hati-hati. Jadi, saya yang salah.”
Lelaki sweety itu lagi-lagi mengeluarkan suara lembutnya.
Tak ada kata yang melintas di pikiranku untuk membalas perkataan itu.
“Mbak gak apa-apa ?”
Kali ini suara itu bikin jantungku deg-degan setengah mati.
Tatapanku masih konsentrasi ke arah wajahnya. Hingga suasana hening menyelimuti pinggirang perempatan jalan, tempat kita tabrakan.
            Wajah manis itu tiba-tiba berubah menjadi tegang setelah melihat jam tangannya.
Mungkin dia masih menunggu jawabanku, tapi kayaknya dia udah terlambat ke sekolah.
            “Mbak…maaf saya sudah telat. Permisi mbak…”
Tanpa buang-buang waktu, dia segera tancap gas dan pergi meninggalkan aku.
Baru kusadari, ternyata aku pun sudah terlambat. Segera kualihkan pikiranku dari lelaki itu.
“Lelaki itu ramah banget. Ahh, sayang dia sudah pergi. Percuma aku meneruskan ke sekolah, paling juga disuruh pulang lagi sama si kumis (Satpam sekolah).”
Lengkap banget kesialan hari ini.
            Aku memutar balik ke arah toko buku, sekalian baca-baca, usaha buat memperbaiki nilai yang anjlok parah.

***
(di toko buku)
            “Maaf…”
Suaraku berbarengan dengan seseorang. Lagi-lagi terjadi tabrakan, namun kali ini bukan antar motor, tapi antar tangan. Hampir aja aku megang tangan seseorang karena mau ngambil buku yang sama.
            “Maaf, kalau begitu kamu duluan aja !”
Aku masih belum menyadari siapa orang yang sedang kuajak bicara. Pandanganku masih tertunduk.
            “Ya, saya lagi butuh banget buku ini. Maaf ya..”
Suara itu mengingatkanku pada lelaki di perempatan tadi, yang bertabrakan denganku. Aku menoleh ke arah wajahnya, dan ternyata benar, dia adalah lelaki tadi, yang di perempatan itu.
            “Mbak…? Emmh, mbak yang tadi tabrakan itu kan?” tanyanya penuh heran.
“Ya, saya yang tadi. Kebetulan kita ketemu lagi.” Gak nyangka, aku ketemu sama cowok sweety ini lagi. Grogi sih.
“Yah, daripada saya gak belajar sama sekali, mendingan ke sini aja. Kalau mbak kenapa, ko gak ke sekolah, telat juga?”  dia bertanya detail.
“Iya, telat juga. Jadi, ke sini deh.” Sebenernya sih gugup, tapi tenyata dia gak kaku, enak ko jadi teman ngobrol.
            “ O’iya, saya Ahmad. Boleh tau nama mbak ?”
Nah, ini dia pertanyaan yang dari tadi aku tunggu-tunggu, akhirnya dia nanya nama juga.
“Saya Nina, dan kayaknya kamu panggil Nina aja, gak usah mbak. Kayaknya kita seumuran.”
“Ya, kalau gitu.”
Akhirnya kenalan juga. Bukan cuma parasnya yang bikin aku terpesona, tapi keramahannya yang paling bikin aku kepincut abis. Beruntung banget bisa ketemu orang kayak dia. Temen-temen aku sih langka banget yang kayak gitu.
            Aku jadi ngobrol panjang sama dia. Padahal, udah bisa kenal aja, aku dah seneng banget, tapi ternyata aku bisa berteman dengannya.
“Ke sini mau cari buku apa?” tanyanya di tengah obrolan kami.
“Buku-buku  pengayaan. Buat nambah-nambah pengetahuan.”
“Wah, kreatif banget tuh !” ujarnya.
Dia gak tau aja kalau sebenarnya aku lagi proses rehabilitasi nilai. Kalau dia tau, aku pasti malu banget.
            “Kamu suka baca ya? Pilihan bukumu itu tebal banget. Kalau saya sih gak sanggup baca sebanyak itu.”
“Ya, enggak juga sih. Ini tuntutan aja, persiapan olimpiade. Bukan yang pertama kalinya sih, tapi SMP Citra Pusaka kan selalu menang dalam olimpiade setiap tahunnya. Jadi, saya gak mau bikin kecewa.” Jelasnya.
“ SMP Citra Pusaka?”
“ iya, ada apa ?” tanyanya bingung.
“ Kamu sekolah di sana?”
“iya.” Jawabnya singkat.
“ Kamu Ahmad Kholili?”
“ Ya, ko kamu tau sih?” jawabnya makin bingung.
“Aku sisiwi kls VIII D di SMP Citra Pusaka. Nama kamu tuh nge-trend banget sejak kemenangan sekolah kita waktu olimpiade tahun lalu. Ternyata orang yang bikin aku penasaran, sekarang ada di depan aku.”
Aku kegirangan. Sampai heboh menjelaskan identitasku yang ternyata satu sekolah dengannya.
“ Alhamdulillah kalau nge-trendnya bisa ngasih motivasi buat teman-teman.” Ujarnya dengan manis.
            Obrolanku berlangsung seru dengannya. Sampai-sampai, tujuanku untuk baca-baca gak kecapai. Tapi, ya gak apa-apalah.
Sebenarnya, aku tuh udah lama nyari tau siapa pemilik nama Ahmad Kholili itu. Aku iri banget sama dia, karena dia slalu menangin olimpiade sains tingkat nasional yang diikuti sekolahku setiap 1 semester sekali. Tapi aku sadar. Aku gak punya kepintaran seperti dia. Tapi aku lagi berusaha ko, untuk ngembaliin semangatku yang ambruk gara-gara selalu dapat nilai jelek. Mungkin, aku bisa dapetin salah satunya dari dia.

***

            Hari ini menjadi hari yang berkesan dalam hidupku. Yah, walaupun banyak hal yang aku gak inginkan terjadi. Tapi, aku rasa semua ada hikmahnya.
            Sebelum mengenal Ahmad, aku penasaran banget pengen saingan nilai sama dia, padahal udah pasti aku cuma malu-maluin diri aku sendiri nantinya. Tapi aku nekat, karena aku juga pengen banget ikut olimpiade kayak dia, rasanya dunia ini tuh gak adil.
            Sekarang aku udah tau siapa seorang Ahmad itu, aku sudah mengenalnya dan menjadi teman barunya. Aku memang terpesona dengannya, tapi bukan berarti aku nyerah gitu aja. Aku bakalan tetap mau bersaing dengan dia, kupikir ini bisa bikin aku semangat belajar supaya nilai-nilai bagus itu gak lagi cuma ada di mimpi.

***
           
            Pagi ini aku kembali berangkat ke sekolah, namun tak lagi seperti kemarin, aku malah tak sabar menanti pelajaran-pelajaran yang akan hadir.
            Di dalam kelas, kudapat informasi bahwa olimpiade sains tahun ini akan berlangsung  satu minggu lagi. Aku berfikir  nanti akan hadir memberikan dukungan kepada Ahmad & team bersama teman-teman dan guru-guru.
            Saat istirahat, aku menuju ke perpustakaan. Kuyakin dia ada di sana. Dan benar saja, dia tengah membaca buku.
“Hai…maaf, ganggu gak ?”
Aku menyapanya
“Nina…gak koq, dusuk sini !” tuturnya ramah.
“Iya, makasih. Emmh…gimana, satu minggu lagi lho ! udah siap belum ?”
“InsyaAllah siap, tapi deg-degan sich, doa’in aja ya…!” jawabnya sedikit tegang membahas olimpiade itu.
“Ya, tengang ja… !”
“Tapi sebenarnya aku gak mau menang. Karena aku….” Ucapannya terputus.
Aku pun bingung.
“Kenapa, katanya kamu mau bikin sekolah kita bangga lagi ?”
Ahmad hanya terdiam dan pandangannya tertunduk. Dia tak menjawab. Aku semakin bingung.
“Kamu mau ikut team sains ?” tanyanya dengan mengalihkan pertanyaan tadi tanpa menjawabnya.
“Iya, tapi gak mungkin.”
“Kenapa ?” tanyanya penasaran.
“Aku kan gak pinter kayak kamu, jadi belum pantas masuk team sains.”
“Aku rasa mungkin-mungkin aja, kenapa nggak. Asal kita rajin dan punya niat. Percaya deh !” balasnya dengan memberikan semangat untukku.
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Kata-katanya itu membuatku berfikir, gak akan ada orang bodoh di dunia ini, kalau semua orang itu rajin.
            Obrolanku berhenti sampai di situ. Aku gak mau ganggu dia yang tadinya lagi baca buku. Lagian, aku juga mau baca buku.

***

            Sepulang sekolah, aku masih menikmati senyumku yang beberapa hari ini terasa berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku gak mau berfikir yang aneh-aneh, biarin aja semua kebahagiaan ini berjalan sendirinya.
            Di sudut jendela kamarku, aku memandang ke luar. Aku melamun. Aku gak pernah mengira kalau pertemuanku dengan Ahmad begitu cepat terjadi. Sampai-sampai, bisa dibilang sekarang dia adalah sahabatku. Padahal, aku baru saja beberapa hari mengenalnya lewat tabrakan yang lalu itu. Rasanya waktu sangat berbaik hati padaku yang sedang terpuruk oleh hasil belajar yang buruk. Karena, tak butuh waktu lama untuk aku berteman dengannya, semua berjalan secara praktis.
            Tapi, aku merasa resah dengan keadaan ini. Salah satunya dengan sikap aneh Ahmad di perpustakaan tadi.
            Kukhawatirkan satu hal. Apakah pertemuan yan terjadi secara singkat akan berakhir perpisahan yang singkat pula ?
            Akh, Entahlah…

***

            Akhirnya hari yang kutunggu-tunggupun tiba. Tak sabar ingin melihat team sainsku bertanding demi kebanggaan sekolah. Meskipun sedikit kecewa, karena mungkin aku akan lebih bangga jika aku termasuk di antara mereka. Tapi, ya sudahlah.
“Nina…” Ahmad yang sudah datang terlebih dahulu menyapaku.
“Eh, Ahmad. Lakukan yang terbaik ya !”
Lagi-lagi Ahmad tak menjawab dan hanya tertunduk.
“Pokoknya, apapun yang terjadi, kamu udah bikin sekolah bangga koq. Eitss, kamu gak serius kan sama omongan kamu waktu itu (yang di perpustakaan sekolah) ?”
Sekali lagi dia tak menjawab. Kemudian dia pergi meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Mungkin dia udah ditunggu rekan-rekannya.
            Tentu saja hal ini semakin membuatku bertanya-tanya., ada apa sebenarnya di balik olimpiade ini. Apa dia gak siap menghadapinya. Kurasa hanya dia yang tau jawabannya.
            Setelah beberapa jam, akhirnya aku pulang duluan. Tiba-tiba saja aku sedikit gak enak badan. Aku rasa, aku gak bisa hadir untuk 2 hari berikutnya. Tapi, aku gak berharap seperti itu.

***

            Berlalu sudah olimpiade. Benar saja, aku gak hadir dalam dua hari berikutnya, aku harus istirahat karena demam. Tapi, aku masih menunggu kabar dari temanku tentang olimpiade itu.
Handphone-ku berdering.
“Assalamu’alaikum, Azki..ada apa?”
“Wa’alaikum salam. Nin, gimana kabarmu sekarang ?” tanyanya di telepon.
“Alhamdulillah dah baikan. Oyh, ada apa ya ?”
“Aku mau kasih tau kalau sekolah kita berhasil jadi juara 1 lagi !” jelasnya heboh.
“Hah,, yang bener ?”
Aku gak nyangka.
“iya, 100% nyata.” Jawabnya.
“Syukur deh kalau gitu. Makasih ya infonya.”
“Ya, sama-sama. Yaudah deh, aku cuma mau kasih tau itu aja. Cepat sembuh ya ‘n sampai jumpa besok di sekolah. Wassalamu’alaikum.”
Azki mengakhiri pembicaraannya denganku.
“Ya, Wa’alaikum salam.”
            Aku bener-bener gak nyangka kalau Ahmad & team bisa meraih juara 1 lagi. Kabar ini sejenak mengurangi kebingunganku pada sikap Ahmad yang aneh akhir-akhir ini. Jadi pengen cepet-cepet sekolah nih.

***

(di sekolah)
            Pagi ini aku gak sabar pengen ngucapin selamat ke Ahmad & team.
“Nina !” azki memanggilku dari kejauhan.
Aku berhenti melangkah dan menunggunya sampai di hadapanku.
“Kamu udah ketemu team sains ?” tanya Azki.
Aku menggeleng memberi isyarat.
“Sayang banget kemarin kamu gak dateng sih. Kemarin tuh kita makan-makan sama guru-guru, ngerayain kemenangan kita.” Azki bercerita.
“Ya.” Jawabku singkat.
            Kemudian aku dan Azki berjalan bersama-sama menuju perpustakaan. Tak ada pelajaran hari ini, hanya pentas seni, namun sepertinya tahun ini akan lebih meriah, karena ditambah dengan kemenangan olimpiade itu lagi.
            Karena acara belum dimulai, aku memutuskan untuk mencari Ahmad di perpustakaan. Aku tengak-tengok ke sana ke mari, tapi sepertinya gak ada tanda-tanda kehidupan di sini, alias sepi. Akhirnya, aku beralih ke kantin, kemudian ke halaman tempat pentas seni akan digelar. Tapi, masih sama. Aku gak nemuin salah satupun dari team sains.
“Pada ke mana ya mereka?”
“Tau nih, dah pegel juga nyariin.” Jawab Azki mengeluh.
            Aku terus berjalan melewati setiap lorong-lorong sekolah. Tiba-tiba, aku mendengar suara berisik dari arah ruang kepala sekolah. Aku dan Azki menuju tempat itu. Lalu, keluarlah Ahmad & team bersama orang tuanya masing-masing. Kulihat dia berwajah sedih. Padahal kan seharusnya dia senang.
            Dia baru menyadari kalau aku dan Azki sedang memperhatikannya. Dia memandangku tanpa ekspresi. Aku membalasnya dengan senyum. Dan dia pun senyum sedikit.
Aku menghampirinnya dan menyalami Bapak Kepala Sekolah dan Wali murid yang ada di situ.
“Selamat ya kalian berhasil menang lagi.”
“Iya, makasih. Ini juga berkat dukungan dan do’a teman-teman semua koq.” Jawab Iwan mewakili rekan-rekannya.
            Tak lama kemudian, mereka pergi meninggalkan aku dan Azki, kecuali Ahmad. Dia masih berdiam diri dan tiba-tiba mengusap air matanya.
“Kenapa nangis ? Harusnya kan kamu senang seperti mereka.”
“Ya, seharusnya aku senang.” Jawabnya membuatku heran.
“Ada masalah apa ?”
“Masih ingat ucapanku di perpustakaan waktu itu?” dia bertanya balik padaku.
“Ya.” Jawabku singkat.
“Kemenangan ini emang hal terindah, apalagi bisa bikin bangga banyak orang. Tapi, aku harus pergi.” Ucapnya masih meninggalkan tanda tanya.
“Ke mana?”
“Singapore. Dari 5 siswa yang tergabung dalam team sains, hanya aku dan Iwan yang terpilih. Aku akan melanjutkan sekolah di sana dan akan bergabung dengan team sains Asia Tenggara.” Jelasnya.
“Selamat ya…”
Padahal aku terkejut banget, dan rasanya pengen ikutan nangis.
“Aku sedih ninggalin sekolah ini, yang udah bikin aku bisa kayak gini. Semua kenangannya gak bakal aku lupain. Termasuk kamu, sahabat lucuku.” Ujarnya.
Aku hanya tersenyum lebar.
“Kalau aku udah pergi, ingat ya pesan aku. Kamu harus jadi penerus team sains di sekolah ini.” Ucapnya.
“Sukses ya di sana.”
“Ya, makasih. Aku pasti rindu dengan kalian.” Dia mengakhiri kata-katanya dengan memberikan senyuman manis, yang mungkin takkan kutemui lagi di sekolah ini.
            Aku sangat kehilangan. Ternyata, benar. Pertemuan yang singkat akan berakhir singkat pula. Namun, apa guna kutangisi, karena takkan mengubah keadaan. Tapi, sebagai sahabat, aku kan slalu mendukung yang terbaik buat sahabatku, walau perih.
            Ahmad udah bikin aku semangat dan memberiku motivasi. Bahkan, beberapa waktu mengenalnya, dia sedikit mengubah pemikiranku yang sempit. Aku bangga banget punya teman seperti dia.
            Tapi, Dia akan pergi. Kalau dia pergi, apakah semangat belajarku ikut pergi ? Butuh waktu lama bagiku untuk memikirkan hal itu.
            Tapi… Akh, kurasa tidak !***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar