Selasa, 13 Maret 2012

Kenyataan Pahit


"Katakanlah kebenaran walaupun pahit." (HR. Ibnu Hibban)
Semanis apapun dusta, tetap saja ia bohong adanya. Dan seburuk2 kenyataan, tetaplah ia yang lebih baik, jika dikatakan dengan benar.

Saat kita ditimpa suatu persoalan yang membuat kita repot mengurusnya, yang membuat kita pusing, bingung harus berkata apa jika ditaya, sedang kita dalam kepanikan ? Apa yang akan kita lakukan ? Berbohong-kah ?

Berbohong seringkali aku lakukan ketika takut kena marah dari orangtua, takut dicaci teman, dll yang menurut pemikiran pendek akan mendatangkan kekecewaan seseorang. Namun, ternyata setelah berlalu berhari2 kebohongan yang telah kukatakan, akibat yang lebih dahsyat menyusulku dengan marahnya orangtua, dan cacinya teman setelah mereka mengetahui kebohonganku.
Sungguh, kebohongan tiada pernah membawa kebaikan. Dalam kehidupan dunia ini, masalah2 yang hadir kepada kita tidaklah seberat beban para Nabi & Rasul terdahulu. Jadi, saya rasa kita masih bisa jujur. Kecuali ketika dalam urusan agama dan keyakinan yang keadaannya sangat genting.
 
Pada Zaman Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam, ada kisah seorang anak bernama Ammar bin Yasir yang disandera oleh kaum kafir Quraisy karena Ia memeluk Islam, selama perjalanan hidupnya menjadi seorang muslim, Ammar beserta ayah dan ibunya menjalani hari2 dalam siksaan kafir Quraisy. Suatu ketika, pemuka kafir Quraisy memerintahkan Ammar bin Yasir untuk mengimani agama yang mereka anut, maka dalam kepayahan, tidak berdaya, Ammar menyatakan diri memeluk agama Yahudi bersama mereka. Maka, siksaannya pun diringankan. Mengetahui hal ini, salah seorang sahabat menemui Rasulullaah SAW dan mengadukan hal tersebut. Keesokan harinya, Rasulullaah SAW datang menemui Ammar dan menayakan hal kemarin tersebut. Ketika Rasul bertanya, Ammar pun dengan takut mengatakan 'Iya' bahwa dia telah melakukan semua, namun ia mengatakan bahwa dalam hatinya tak rela sama sekali untuk ikut agama orang2 kafir, ia hanya membela diri agar tak lagi disiksa oleh mereka. Maka apakah yang terjadi ?
ternyata Rasul malah tersenyum dan berkata "Jika mereka mendesakmu lagi, maka katakanlah seperti apa yang telah engkau katakan kemarin."
Wallaahu-a'lam*

Sahabat fillaah.. namun sekarang ini masalah seperti itu kan jarang sekali ada dalam hidup kita, maka junjung tinggilah kebenaran...***


Kepalsuan telah mengelabui jiwa
Menutup jalan kejujuran dalam-dalam
Seakan menjadi bagian dalam kehidupan
Melangkah dalam rantai dusta yang semakin mengancam

Kejujuran yang menyakitkan
Saat harus kukatakan semua di balik kebohongan
Sekian lama terpendam
Ada saatnya kuharus menggalinya kembali
Seharusnya tak kututup jalan kebenaran
Tak selayaknya kuberi ruang pada egoisme diri

Menyesal kini datang menghadang
Mengombang-ambing pikiranku penuh galau
Ternyata dusta takkan berakhir baik
Kejujuran lebih baik meski pahit
Karena kan kurasakan sakit mahahebat,
saat harus kusimpan lebih lama kepalsuan yang menjerat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar