(Cerpen untuk pelajar Sekolah Dasar yang kubuat melihat banyaknya keluhan tentang pelajaran Matematika)
Pagi ini Nisa tampak tidak bersemangat di
sekolah. Karena, dia harus menghadapi pelajaran yang sangat ia takuti.
“Anak-anak, ibu telah menjelaskan rumus luas persegi.
Sekarang, coba kalian kerjakan 5 soal yang ada di papan tulis !” perintah Bu
Dhini.
Nisa
tampak begitu serius mengerjakan soal-soal.
“Duh…kenapa sih jawabannya gak ketemu-ketemu ?” ucap
Nisa pusing.
“Mungkin kamu salah menghitung, Nis ?” ujar Dhea,
teman sebangkunya.
“Kamu mau bantu aku nggak ?” tanya Nisa.
“Ya, tapi hanya semampuku saja” jawab Dhea.
Kemudian, Dhea mencoba membantu Nisa mempelajari
rumus-rumusnya sedikit demi sedikit. Namun, tetap saja Nisa tidak mengerti, dia
malah makin pusing, karena otaknya memang tidak bisa konsentrasi tiap pelajaran
matematika.
Waktu
mengerjakan soal pun berakhir. Akhirnya, Nisa terpaksa mengumpulkan hasil
pekerjaannya tanpa jawaban satu pun.
Saat
istirahat, Dhea mencoba mendekati Nisa.
“Kamu masih mikirin soal tadi ya ?” tanya Dhea yang
cemas melihat temannya sedang murung. “Nggak. Aku cuma mikir, kenapa sih aku
bodoh ?” jawab Nisa.”Kamu jangan bilang gitu, Nis ! Kita kan harus bersyukur.”
Tegur Dhea.
Nisa hanya terdiam. “Sebenarnya, ada apa sih dengan
pelajaran matematika, tampaknya Nisa tegang banget kalau belajar matematika,
padahalkan gurunya baik.” Pikir Dhea dalam hati yang masih bingung dengan sikap
Nisa.
Sepulang
sekolah, Dhea bermain ke rumah Nisa.
“Nis, kok sepi sekali. Ayah dan Ibumu kemana ?” tanya
Dhea sambil tengak-tengok melihat keadaan rumah yang sepi. “Ibuku belum pulang
mengajar, kalau ayah masih di Bandung untuk mengajar universitas di sana.”
Jelas Nisa.
“Jadi, kedua orang tuamu guru ya ?” tanya Dhea
penasaran.
“Iya. Ayah dan ibu memang guru. Ibuku seorang guru
matematika di beberapa SD di Jakarta. Tapi, saking sibuknya, Ibu sampai harus
membayar guru privat untukku.” Jelas Nisa sambil menikmati cemilan di ruang
tamunya.
“Trus, kenapa kamu sangat tegang dengan metematika ?”
tanya Dhea lagi yang masih penasaran.
“Sebenarnya, aku trauma aja dengan matematika. Dua
minggu yang lalu, guru privatku mengundurkan diri untuk tidak mengajarku lagi,
dia bilang aku terlalu bodoh. Dia menyerah untuk mengajarku karena alasan
konyol itu. Dia selalu memarahi dan memaksaku untuk menghafalkan rumus-rumus
dalam waktu singkat. Bukannya jadi pintar, tapi otakku malah makin kacau.
Selain itu, aku gak pernah dekat sama orang tua, dan Ibu memarahiku karena hal
itu, padahal dia tidak tau kejadian sebenarnya. Ugggh… pokoknya matematika udah
ngacak-ngacak hidup aku.”cerita Nisa panjang.
“Memangnya kamu masih terus mengingatnya ?”
tanya Dhea sambil menatap Nisa penuh heran.
“Ya, karena kejadian itu gak bisa aku
lupain. Setiap belajar matematika, bayang-bayang kejadian itu terus datang di
otakku. Itulah sebabnya konsentrasiku pecah.” Jelas Nisa
“Ya, aku ngerti kok perasaanmu, Nis. Aku
yakin, kamu gak sejelek ucapan guru privatmu itu kok. Anggap saja ucapan itu
adalah tantangan untuk kamu. Kalau kamu lolos menghadapinya, berarti kamu gak
bodoh dong !” ujar Dhea memberikan semangat untuk hati Nisa.
“Emmh… Iya juga sih !”pikir Nisa membenarkan ucapan
Dhea.
“Ya udah, kalu gitu, setiap hari Sabtu dan Minggu kita
belajar bareng ya…!” ajak Dhea.
“Boleh …” terima Nisa.
Kayaknya, semangat Nisa sudah mulai bangkit
kembali. Dan sepertinya, dia yakin dengan ucapan sahabatnya.
“Good
bye trauma matematika…! Hahahaha” ujar Nisa dan Dhea bergurau.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar