Liburan panjang gini emang paling
seru kalau kumpul-kumpul bareng teman-teman lama. Rasanya udah kangen banget,
lama gak ketemu. Walaupun udah bertahun-tahun gak bersama lagi, tapi kenangan
masa-masa SD itu masih melekat erat di benakku. Kayaknya gak mungkin aku lupain
begitu aja. Apalagi, kita udah menyatu banget, seperti keluarga yang tak pernah
berkelahi setiap harinya. Saling membantu, tertawa bersama, bermain bersama,
bahkan nangis pun bersama-sama.
Hari
ini perasaanku gak bisa diungkapkan pake kata-kata deh. Aku seneng banget
karena bisa kumpul-kumpul bareng mereka. Ya walaupun tak semuanya hadir. Ini
adalah acara reunian kecil-kecilan sekedar menebus kerinduan.
Seperti
kebiasaan kami dulu, kalau udah kumpul begini, tujuannya gak lain dan gak bukan
is go to mall. Layaknya anak-anak
remaja lainnya, kita seru-seruan bareng.
Pertama,
tujuan kita masih sama seperti dulu, yaitu stay
in bookstore. Karena walaupun kita bukan siswa-siswi yang istimewa, tapi kita
juga masih suka baca-baca buku.
Biasanya aku lebih memilih untuk baca buku biografi,
karena aku suka motivasi. Biasanya kan para tokoh-tokoh tersebut memiliki perjalanan
hidup yang menginspirasi.
Setelah
bertambah wawasan, aku dan teman-teman langsung cabut ke arena games-games
seru. Pusat remaja ada di sini. Karaokean, foto-foto, and many more.
Udah
nikmatin seru-seruan, rasanya perut udah longgar nih.
Tapi, aku & friends harus sholat dzuhur dulu. Kan
Allah yang ngasih karunia untuk kita, jadi jangan sampe lupa deh.
***
Sebenarnya
dari tadi ada yang mengganjal buat aku. Aku gak nyaman banget karena si Syamil
ikut bersama aku dan teman-teman. Dia itu teman sekolahnya Kiki, dan Kiki
adalah teman SD-ku. Belum lama, dia mengenalku lewat foto album SD yang ada di
facebook Kiki. Dia suka sama aku. Gak masalah buat aku tentang perasaannya itu.
Aku cuma khawatir kalau dia berharap lebih dariku, layaknya trend remaja masa
kini.
Ternyata, semua yang gak pengen kualami
benar-benar tengah terjadi di depan mataku. Aku yang kenyang dengan porsi
makanan di meja cafe rasanya semua jadi hambar.
Syamil memulai aksinya, kemudian dia
menyatakan cintanya padaku di hadapan teman-teman. Apa-apaan sih, bikin malu
aja.
“Walaupun kita baru kenal, tapi aku yakin
cinta di hati ini. Untukmu….”
Kata-kata cinta itu diucapkannya. Cukup lebay.
Spontan aja aku langsung bad mood. Rasanya udah bete banget. Ini
adalah masa-masa yang paling kubenci yang pernah aku alami. Emang sih ini bukan
untuk yang pertama kalinya aku menghadapi situasi kayak gini, tapi aku benci
karena kejadian seperti ini masih saja terus menghampiri.
Aku senang karena ternyata masih ada orang
yang suka aku, tapi aku gak mau mereka berharap lebih.
Cukup berteman. Ya, teman.
Bingung. Harus gimana ya?
Teman-temanku
terus saja memepengaruhi. Namun, keputusanku nantinya gak bisa diganggu gugat.
“Maaf, Syamil. Aku
masih pengen belajar lebih serius. Sorry ya, gak bisa aku terima.”
“ Ya elah, belagu banget sih lo ! Sebenernya juga lo
mau kan ? Udah deh jangan munafik, ntar nyesel baru tau rasa !.”
Kiki yang dari awal sering ngedeket-deketin aku dengan
Syamil tampaknya kecewa dengan jawabanku.
“Ya, justru karena aku gak mau nyesel lebih jauh lagi
tuh nantinya.”
Aku kesal banget, hingga perdebatan cukup hebat ini pun tak terhindarkan.
Sementara itu, Syamil hanya bengong nikmatin adegan
ini, dan teman-teman tak mampu berbuat banyak menyaksikan perang mulut yang
sengit.
“O, ya ???? masa sih,? Gak bisa
ya menghargai orang sedikit aja…?”
Lagi-lagi Kiki mengeluarkan kata-kata yang memancing
emosiku.
“ Gak ada pacaran dalam kamus pelajar aku tau !!!”
“Emmh…masih peduli sama prinsip bodoh mu itu?? Katanya
anak pinter, gimana sih….!”
Kali ini kalimat itu telah benar-benar menyakitkan.
Kini emosiku memuncak, namun aku tak ingin meledak-meledak
di hadapan umum.
“Kiki ! Mutia ! sudah… Bukannya pertemanan
sejati itu yang mau nerima apapun kekurangan temannya, dan saling menghargai apapun
pendapatnya ?! Kalian tuh kayak anak kecil aja.”
Nasehat yang tegas itu diucapkan oleh Thasya.
Sejenak,
kalimat-kalimat itu menyejukkan suasana.
Aku dan Kiki masih bermusuhan. Dan kami pun memutuskan
untuk pulang. Karena suasana sudah tak sedap lagi untuk melanjutkan perjalanan.
***
Harusnya reunian ini menyenangkan, tetapi ternyata tak
seorang pun yang bisa menebak keadaan. Padahal, ini hanyalah masalah kecil yang
akhirnya membesar karena ego masing-masing.
Aku
tau bahwa aku telah bersikap kekanak-kanakan, gak sejalan dengan ucapanku yang
slalu merasa paling hebat di antara mereka. Ya, emang penting untuk punya pendirian
dalam hidup, supaya gak mudah tergoyah oleh pengaruh dunia luar.
Prinsip membawaku pada pendirian
bahwa untuk menghasilkan bangunan yang kuat, perlu pondasi yang kuat juga, supaya gak
gampang roboh.
Namun ternyata, prinsip itu pula yang
membuatku lupa pada satu hal, bahwa orang yang berprinsip harusnya lebih baik
dalam bersikap. Aku menyesali kejadian itu. ***
.jpg)
ada lanjutan ka?
BalasHapus