Senin, 12 Maret 2012

Di tepi Rumah-Mu


Kedewasaan wanita memang tak diukur dari sudah haidkah ia atau belum. Karena, tak menutup kemungkinan bahwa kekanak-kanakan dalam menghadapi masalah, hidup, dan persoalan akan masih sering terjadi pada wanita dewasa. wanita sangatlah rentan, makhluk ciptaan Allah bernama wanita itu memiliki kelembutan hati yang sangat sensitif. Bila kaum lelaki mengatakan bahwa kami cengeng, ya memang kami cengeng. Menangis memang menjadi bagian hari kami sebagai wanita. Bukan tanpa mencari jalan keluar dari suatu urusan, tapi kami sebagai wanita hanya membuang segala beban lewat aliran air jernih yang membasahi pipi, terlebih dalam hal yang sangat menyentuh batin, seperti kejadian yang mengharukan..Membuat kami cepat menangis. Jadi, inti kedewasaan itu adalah ketika seorang wanita bisa menyelesaikan sendiri urusannya tanpa berkeluh kesah selain kepada Allah, dan memiliki kepribadian yang menjadi teladan bagi wanita lain.
Berikut ini adalah puisi yang kutulis saatku melihat betapa terharunya seorang wanita yang sudah cukup dewasa, namun baru mendapatkan haid pertamanya. Beliau sangat berharap agar menjadi wanita yang didambakan Islam setelah menerima catatan amalnya sendiri mulai hari itu.
 
Bisikan hati menuntunku ke Rumah-Mu
Aku bertamu mengetuk pintu
Padahal kutau tak boleh menuju dalam
Aku sedang dialiri darah kewanitaan

            Robby yang Maha Syahdu namamu nan merdu menyeru
            Aku berteduh di halaman rumah-Mu
            Aku sepi di sini
            Tapi aku tak sendiri
            Ada Kau yang setia menemani

Duhai Allah Maha Besar
Di tepi rumah-Mu kubersandar
Kini aku sudah dewasa
Aku menstruasi
Hari ini kunanti catatan amal sendiri
Kuingin mengisinya dengan pribadi berbudi

            Yaa RohmaanurRohiim...
            Di tepi Rumah-Mu kumenyendiri
            Mengharap Cinta dari-Mu
            Meniti jalan baru dalam hidupku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar