Minggu, 04 Maret 2012

Terobsesi Oleh Puisi





Malam ini terasa sunyi dalam kesejukan. Rembulan yang bulat sudah menghilang terhalang awan-awan. Bahkan, tak satu pun bintang yang terlihat menerangi. Semuanya absen dari peredaran. Sesekali terdengar suara nyanyian katak-katak yang sibuk menggelar konser dengan riuhnya. Bukan hanya itu, kendaraan sepeda motor yang biasanya berlalu lalang pun seperti menghilang, hanya ada beberapa saja.
                Di dalam kamar, aku sibuk membaca buku pelajaran untuk sekolah besok. Aku tak mempedulikan keadaan di luar sana yang begitu sepi. Tak terpikir olehku sedikitpun untuk memandang malam lebih dekat. Hingga akhirnya aku pun tertidur.
                Sekolah telah menantiku pagi ini. Aku bergegas dengan semangat, menanti ulangan matematika yang sudah kupelajari berulang-ulang tadi malam.
                Begitu selesai ulangan, aku pun keluar kelas. Kudengar teman-teman membicarakan tentang mading. “Ada apa sih di mading?” aku hanya bertanya-tanya dalam hati. Tak kusadari, langkahku telah sampai di depan papan mading. Yang pertama mencuri perhatianku adalah selembar kertas penuh hiasan yang di dalamnya tertulis ‘Pelukan Mesra Untuk Bunda’ karya Dhila Atmarini. Aku jatuh cinta banget sama isi puisi itu. Kuakui, Dhila memang penulis terkenal di sekolahku yang sering menempelkan karya-karyanya pada papan mading. Tanpa pikir panjang, aku bergegas menuju kelas dan mengambil buku tulis dan pena. Aku langsung menyalin puisi itu dalam buku tulis.
Kayaknya aku ingin membacanya berulang kali.

***

                Siang ini aku masih saja membaca puisi itu, maklum-lah selama ini aku gak pernah ada keinginan untuk baca-baca buku fiksi dan semacamnya, jadi menurutku wajar kalau sikapku agak norak.
“Tapi, aku juga gak habis pikir, kok bisa ya orang-orang di luar sana, termasuk Dhila dengan mudahnya menuangkan ide mereka dalam bentuk tulisan.  Apa aku juga bisa ?”
Aku hanya bisa merenungi kalimat-kalimat itu.
“Bukankah kamu belum pernah mencobanya ? Dari mana kamu bisa temukan jawabannya kalau kamu sendiri gak mau cari tau?”
Rupanya tante-ku nguping dari pintu kamar. Dengan senyumnya, dia menghampiriku.
Namun, aku tak tau kalimat apa yang harus kuucap padanya.
“Sejak kapan kamu mulai mencintai tulisan ?”
Tante-ku memberikan pertanyaan yang sepertinya sangat meyakinkan.
“Sejak baca puisi ini, karya teman sekolahku.”
Tante mengambil puisi itu dan membacanya, kemudian dia hanya tersenyum.
Tante-ku menghela napas.
“emmh…tante akan mengajak kamu untuk ikut serta dalam seminar, tema-nya menarik lho, kamu pasti dapat banyak pengetahuan tentang apa yang saat ini kamu kagumi.”
Tanteku memang sangat aktif dalam acara-acara seminar tentang buku. Dia juga sering membelikanku buku-buku fiksi, namun tak satupun yang kubaca, kini hanya menumpuk tak karuan di lemari.
Aku hanya mengangguk memberikan isyarat.

***

                Kini hari minggu telah tiba, aku menanti janji tante-ku untuk pergi ke seminar.
Ternyata, di sana aku mendapat barisan depan. Hal pertama yang sangat mencengangkan adalah, seorang anak usia 8 tahun menjadi salah satu pembicara dalam seminar itu.
Dia adalah penulis cilik yang sudah berhasil menerbitkan 5 buku, di antaranya adalah kumpulan serial cerpen anak yang ditulisnya.
Namanya Uswatun Niswa. Dia mulai gemar menulis sejak usia 6 tahun.
Subhaanallaah…aku semakin terkejut begitu mengetahui profilnya itu.
Rasanya aku semakin minder nih.
                Malam ini kucoba tips yang diberikan salah satu pembicara dalam seminar tadi siang. ‘Jangan tunggu lama untuk menuangkan ide, tuliskan apa yang ada dalam pikiran kita segera’. Kalimat itulah yang akhirnya memotivasiku.
                Kekagumanku pada Niswa ternyata menghasilkan sebuah puisi dengan judul ‘Ilmu yang Tak Terduga’. Puisi itu berisikan bahwa seseorang bisa mendapatkan pengetahuan dari mana saja, tak memandang siapa orang itu dan bagaimana latar belakangnya. Nyatanya, aku seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama, ternyata tak lebih banyak pengetahuannya dibandingkan Niswa yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Aku menyadari, ternyata kejadian-kejadian yang pernah kita alami bisa berkembang menjadi ide-ide.
Aku terus mencoba menulis dengan ide-ide lain. Hingga tak terasa sudah larut malam. Untunglah besok adalah liburan untukku, karena guru-guru sedang mengikuti diklat.

***

                Pagi ini, setelah shalat subuh dan membereskan kamar, aku bergegas menuju meja komputer. Aku melanjutkan tulisan-tulisanku. Alhamdulillaah…sejak saat itu, aku mulai bisa menulis bait demi bait, dan sekarang ide-ide itu berdatangan menumpuk di pikiranku. Dan aku tak ingin kehilangan ide-ide itu, aku harus segera menuliskannya.
Mama yang melihatku asik dengan komputer sepertinya sedikit kecewa. Aku yang seharusnya membantunya, pagi ini seperti tak peduli. Padahal Mama telah memanggilku berulang kali untuk meminta bantuan.Tapi, aku bersikap seolah tak mendengar.
                Waktu sarapan pun tiba, Mama kembali memanggilku untuk kesekian kalinya.
Saking tergila-gilanya dengan menulis, aku tak ingin membuang banyak waktu untuk hal lain. Aku membawa sarapanku ke meja komputer. Tetap saja tak kupedulikan makanan itu, aku sibuk mencari kata-kata yang pantas untuk mengisi puisi-puisiku. Aku berambisi besar akan menghasilkan sajak-sajak yang indah.
Tak hanya itu, aku melupakan mandi pagi, sudah tak kupikirkan bau badan yang menempel di tubuh ini. Aku benar-benar tergila-gila.  Karena, setiap kumulai menulis, seperti kutemukan duniaku yang sebelumnya tak pernah kucari.
                “Sekarang anak mama udah sibuk ya ?”
Ucapan yang datang dari mulut mama jelas sindiran untukku. Dan pertanyaan itu tak perlu dijawab. Aku malu dengan Mama. Tetapi, aku sudah terlanjur membuatnya marah. Aku akan lebih malu lagi kalau aku meneruskan tulisan ini, tapi aku juga takut untuk membantunya, karena wajah mama sudah mewakili perasaannya yang sangat geram denganku.
                Akhirnya, aku harus saling membisu seperti ini, tanpa saling tegur. Aku dan mama tak saling berkata. Aku masih diselimuti berjuta kesalahan, dan mama pasti masih menyimpan kekecewaan yang dalam.

***

                Siang ini tak kuhadapi meja komputer yang terdapat file-file puisiku.
Aku menulis pada buku harian, kuungkapkan apa yang menjadi renunganku. Karena hingga kini, belum kutemui jalan untuk mengembalikan kedekatanku pada mama. Bahkan, pandangan mama sangat menyudutkan setiap kali aku mulai menghampiri komputer. Namun kupastikan, takkan terjadi apa-apa dengan semua ini.
                Takut. Ya, aku takut menyakiti hati mama. Namun, tak banyak yang bisa kulakukan. Aku bingung, harus berbuat apa. Sudah jelas kemarahan itu muncul.
                Pikiranku masih melayang-layang, bagaimana caranya agar mama menerima obsesiku dan kembali memaafkan kesalahan ini.
“Jangan tunggu lama untuk menuangkan ide, tuliskan apa yang ada dalam pikiran kita segera.”
Dalam lamunanku, teringat kembali kalimat inspiratif yang kudapat dalam seminar itu. Namun, apa yang ada dalam pikiranku saat ini ??? Aku hanya menyimpan berjuta kesalahan karena melupakan kewajibanku sebagai seorang anak.
                Kubaca kembali puisi “Pelukan Mesra Untuk Bunda” karya Dhila. Kurenungi bait demi bait yang tertera. Ya, puisi itu yang membuatku jatuh hati sangat dalam. Kata-katanya yang indah, mampu merayuku. Hingga akhirnya obsesi menulis puisi pun hadir mengisi hariku, sampai akhirnya kutemui masalah ini.
                Tak ada rasa menyesal karena telah mencintai puisi karya Dhila. Cintaku pada maknanya semakin besar, dan obsesi itu malah semakin hadir.
                Aku mencoba membuat puisi dengan judul yang sama. Namun, kuubah semua isinya. Kutuliskan dengan kata-kataku sendiri. Meskipun tak sebagus puisi Dhila, tapi cukup memuaskan bagiku. Karena, aku hanyalah penulis amatiran yang baru pertama kali mengenal makna sebuah karya.
                Akhirnya selesai sudah “Pelukan Hangat Untuk Mama” karyaku, Amanda Aulia dengan versi berbeda. Puisi ini kan kuberikan untuk mama, kuharap dapat mencuri hatinya.
                Aku mau, Mama menjadi orang pertama yang membaca karya tulisku.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar