Malam ini terasa sunyi dalam kesejukan.
Rembulan yang bulat sudah menghilang terhalang awan-awan. Bahkan, tak satu pun bintang
yang terlihat menerangi. Semuanya absen dari peredaran. Sesekali terdengar suara
nyanyian katak-katak yang sibuk menggelar konser dengan riuhnya. Bukan hanya
itu, kendaraan sepeda motor yang biasanya berlalu lalang pun seperti menghilang,
hanya ada beberapa saja.
Di
dalam kamar, aku sibuk membaca buku pelajaran untuk sekolah besok. Aku tak
mempedulikan keadaan di luar sana yang begitu sepi. Tak terpikir olehku
sedikitpun untuk memandang malam lebih dekat. Hingga akhirnya aku pun tertidur.
Sekolah
telah menantiku pagi ini. Aku bergegas dengan semangat, menanti ulangan
matematika yang sudah kupelajari berulang-ulang tadi malam.
Begitu
selesai ulangan, aku pun keluar kelas. Kudengar teman-teman membicarakan
tentang mading. “Ada apa sih di mading?” aku hanya bertanya-tanya dalam hati.
Tak kusadari, langkahku telah sampai di depan papan mading. Yang pertama mencuri
perhatianku adalah selembar kertas penuh hiasan yang di dalamnya tertulis ‘Pelukan Mesra Untuk Bunda’ karya Dhila Atmarini.
Aku jatuh cinta banget sama isi puisi itu. Kuakui, Dhila memang penulis
terkenal di sekolahku yang sering menempelkan karya-karyanya pada papan mading.
Tanpa pikir panjang, aku bergegas menuju kelas dan mengambil buku tulis dan
pena. Aku langsung menyalin puisi itu dalam buku tulis.
Kayaknya aku ingin membacanya berulang kali.
***
Siang
ini aku masih saja membaca puisi itu, maklum-lah selama ini aku gak pernah ada
keinginan untuk baca-baca buku fiksi dan semacamnya, jadi menurutku wajar kalau
sikapku agak norak.
“Tapi, aku juga gak habis pikir, kok bisa
ya orang-orang di luar sana, termasuk Dhila dengan mudahnya menuangkan ide
mereka dalam bentuk tulisan. Apa aku
juga bisa ?”
Aku hanya bisa merenungi kalimat-kalimat itu.
“Bukankah kamu belum pernah mencobanya ? Dari mana
kamu bisa temukan jawabannya kalau kamu sendiri gak mau cari tau?”
Rupanya tante-ku nguping dari pintu kamar. Dengan
senyumnya, dia menghampiriku.
Namun, aku tak tau kalimat apa yang harus kuucap
padanya.
“Sejak kapan kamu mulai mencintai tulisan
?”
Tante-ku memberikan pertanyaan yang sepertinya sangat
meyakinkan.
“Sejak baca puisi ini, karya teman sekolahku.”
Tante mengambil puisi itu dan membacanya, kemudian dia
hanya tersenyum.
Tante-ku menghela napas.
“emmh…tante akan mengajak kamu untuk ikut serta dalam
seminar, tema-nya menarik lho, kamu pasti dapat banyak pengetahuan tentang apa
yang saat ini kamu kagumi.”
Tanteku memang sangat aktif dalam acara-acara seminar
tentang buku. Dia juga sering membelikanku buku-buku fiksi, namun tak satupun
yang kubaca, kini hanya menumpuk tak karuan di lemari.
Aku hanya mengangguk memberikan isyarat.
***
Kini
hari minggu telah tiba, aku menanti janji tante-ku untuk pergi ke seminar.
Ternyata, di sana aku mendapat barisan depan. Hal
pertama yang sangat mencengangkan adalah, seorang anak usia 8 tahun menjadi
salah satu pembicara dalam seminar itu.
Dia adalah penulis cilik yang sudah berhasil
menerbitkan 5 buku, di antaranya adalah kumpulan serial cerpen anak yang
ditulisnya.
Namanya Uswatun Niswa. Dia mulai gemar menulis sejak
usia 6 tahun.
Subhaanallaah…aku semakin terkejut begitu mengetahui
profilnya itu.
Rasanya aku semakin minder nih.
Malam
ini kucoba tips yang diberikan salah satu pembicara dalam seminar tadi siang.
‘Jangan tunggu lama untuk menuangkan ide, tuliskan apa yang ada dalam pikiran
kita segera’. Kalimat itulah yang akhirnya memotivasiku.
Kekagumanku
pada Niswa ternyata menghasilkan sebuah puisi dengan judul ‘Ilmu yang Tak
Terduga’. Puisi itu berisikan bahwa seseorang bisa mendapatkan pengetahuan dari
mana saja, tak memandang siapa orang itu dan bagaimana latar belakangnya.
Nyatanya, aku seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama, ternyata tak lebih
banyak pengetahuannya dibandingkan Niswa yang masih duduk di bangku Sekolah
Dasar.
Aku menyadari, ternyata kejadian-kejadian yang pernah
kita alami bisa berkembang menjadi ide-ide.
Aku terus mencoba menulis dengan ide-ide lain. Hingga
tak terasa sudah larut malam. Untunglah besok adalah liburan untukku, karena
guru-guru sedang mengikuti diklat.
***
Pagi
ini, setelah shalat subuh dan membereskan kamar, aku bergegas menuju meja
komputer. Aku melanjutkan tulisan-tulisanku. Alhamdulillaah…sejak saat itu, aku mulai bisa
menulis bait demi bait, dan
sekarang ide-ide itu berdatangan menumpuk di pikiranku. Dan aku tak ingin
kehilangan ide-ide itu, aku harus segera menuliskannya.
Mama yang melihatku asik dengan komputer
sepertinya sedikit kecewa. Aku yang seharusnya membantunya, pagi ini seperti
tak peduli. Padahal Mama telah memanggilku berulang kali untuk meminta bantuan.Tapi,
aku bersikap seolah tak mendengar.
Waktu
sarapan pun tiba, Mama kembali memanggilku untuk kesekian kalinya.
Saking tergila-gilanya dengan menulis, aku tak ingin
membuang banyak waktu untuk hal lain. Aku membawa sarapanku ke meja komputer.
Tetap saja tak kupedulikan makanan itu, aku sibuk mencari kata-kata yang pantas
untuk mengisi puisi-puisiku. Aku berambisi besar akan menghasilkan sajak-sajak
yang indah.
Tak hanya itu, aku melupakan mandi pagi,
sudah tak kupikirkan bau badan yang menempel di tubuh ini. Aku benar-benar
tergila-gila. Karena, setiap kumulai
menulis, seperti kutemukan duniaku yang sebelumnya tak pernah kucari.
“Sekarang
anak mama udah sibuk
ya ?”
Ucapan yang datang dari mulut mama jelas sindiran untukku. Dan pertanyaan itu tak perlu
dijawab. Aku malu dengan Mama. Tetapi, aku sudah terlanjur membuatnya marah.
Aku akan lebih malu lagi kalau aku meneruskan tulisan ini, tapi aku juga takut
untuk membantunya, karena wajah mama sudah mewakili perasaannya yang sangat
geram denganku.
Akhirnya,
aku harus saling membisu seperti ini, tanpa saling tegur. Aku dan mama tak saling
berkata. Aku masih diselimuti berjuta kesalahan, dan mama pasti masih menyimpan
kekecewaan yang dalam.
***
Siang
ini tak kuhadapi meja komputer yang terdapat file-file puisiku.
Aku menulis pada buku harian, kuungkapkan apa yang
menjadi renunganku. Karena hingga kini, belum kutemui jalan untuk mengembalikan
kedekatanku pada mama. Bahkan, pandangan mama sangat menyudutkan setiap kali
aku mulai menghampiri komputer. Namun kupastikan, takkan terjadi apa-apa dengan
semua ini.
Takut. Ya, aku takut menyakiti
hati mama. Namun, tak banyak yang bisa kulakukan. Aku bingung, harus berbuat
apa. Sudah jelas kemarahan itu muncul.
Pikiranku masih melayang-layang,
bagaimana caranya agar mama menerima obsesiku dan kembali memaafkan kesalahan
ini.
“Jangan tunggu lama untuk menuangkan ide, tuliskan apa
yang ada dalam pikiran kita segera.”
Dalam lamunanku, teringat kembali kalimat inspiratif
yang kudapat dalam seminar itu. Namun, apa yang ada dalam pikiranku saat ini
??? Aku hanya menyimpan berjuta kesalahan karena melupakan kewajibanku sebagai
seorang anak.
Kubaca
kembali puisi “Pelukan
Mesra Untuk Bunda” karya
Dhila. Kurenungi bait demi bait yang tertera. Ya, puisi itu yang membuatku
jatuh hati sangat dalam. Kata-katanya yang indah, mampu merayuku. Hingga
akhirnya obsesi menulis puisi pun hadir mengisi hariku, sampai akhirnya kutemui
masalah ini.
Tak
ada rasa menyesal karena telah mencintai puisi karya Dhila. Cintaku pada
maknanya semakin besar, dan obsesi itu malah semakin hadir.
Aku
mencoba membuat puisi dengan judul yang sama. Namun, kuubah semua isinya.
Kutuliskan dengan kata-kataku sendiri. Meskipun tak sebagus puisi Dhila, tapi
cukup memuaskan bagiku. Karena, aku hanyalah penulis amatiran yang baru pertama
kali mengenal makna sebuah karya.
Akhirnya
selesai sudah “Pelukan
Hangat Untuk Mama” karyaku, Amanda
Aulia dengan versi berbeda. Puisi ini kan kuberikan untuk mama, kuharap dapat
mencuri hatinya.
Aku
mau, Mama menjadi orang pertama yang membaca karya tulisku.***
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar