Selasa, 06 Maret 2012

Gara-Gara Prinsip



                Liburan panjang gini emang paling seru kalau kumpul-kumpul bareng teman-teman lama. Rasanya udah kangen banget, lama gak ketemu. Walaupun udah bertahun-tahun gak bersama lagi, tapi kenangan masa-masa SD itu masih melekat erat di benakku. Kayaknya gak mungkin aku lupain begitu aja. Apalagi, kita udah menyatu banget, seperti keluarga yang tak pernah berkelahi setiap harinya. Saling membantu, tertawa bersama, bermain bersama, bahkan nangis pun bersama-sama.
                Hari ini perasaanku gak bisa diungkapkan pake kata-kata deh. Aku seneng banget karena bisa kumpul-kumpul bareng mereka. Ya walaupun tak semuanya hadir. Ini adalah acara reunian kecil-kecilan sekedar menebus kerinduan.
                Seperti kebiasaan kami dulu, kalau udah kumpul begini, tujuannya gak lain dan gak bukan is go to mall. Layaknya anak-anak remaja lainnya, kita seru-seruan bareng.
 Pertama, tujuan kita masih sama seperti dulu, yaitu stay in bookstore. Karena walaupun kita bukan siswa-siswi yang istimewa, tapi kita juga masih suka baca-baca buku.
Biasanya aku lebih memilih untuk baca buku biografi, karena aku suka motivasi. Biasanya kan para tokoh-tokoh tersebut memiliki perjalanan hidup yang menginspirasi.
                Setelah bertambah wawasan, aku dan teman-teman langsung cabut ke arena games-games seru. Pusat remaja ada di sini. Karaokean, foto-foto, and many more.
                Udah nikmatin seru-seruan, rasanya perut udah longgar nih.
Tapi, aku & friends harus sholat dzuhur dulu. Kan Allah yang ngasih karunia untuk kita, jadi jangan sampe lupa deh.

***

                Sebenarnya dari tadi ada yang mengganjal buat aku. Aku gak nyaman banget karena si Syamil ikut bersama aku dan teman-teman. Dia itu teman sekolahnya Kiki, dan Kiki adalah teman SD-ku. Belum lama, dia mengenalku lewat foto album SD yang ada di facebook Kiki. Dia suka sama aku. Gak masalah buat aku tentang perasaannya itu. Aku cuma khawatir kalau dia berharap lebih dariku, layaknya trend remaja masa kini.
Ternyata, semua yang gak pengen kualami benar-benar tengah terjadi di depan mataku. Aku yang kenyang dengan porsi makanan di meja cafe rasanya semua jadi hambar.
Syamil memulai aksinya, kemudian dia menyatakan cintanya padaku di hadapan teman-teman. Apa-apaan sih, bikin malu aja.
“Walaupun kita baru kenal, tapi aku yakin cinta di hati ini. Untukmu….”
Kata-kata cinta itu diucapkannya. Cukup lebay.
Spontan aja aku langsung bad mood. Rasanya udah bete banget. Ini adalah masa-masa yang paling kubenci yang pernah aku alami. Emang sih ini bukan untuk yang pertama kalinya aku menghadapi situasi kayak gini, tapi aku benci karena kejadian seperti ini masih saja terus menghampiri.
Aku senang karena ternyata masih ada orang yang suka aku, tapi aku gak mau mereka berharap lebih. Cukup berteman. Ya, teman.
Bingung. Harus gimana ya?
                Teman-temanku terus saja memepengaruhi. Namun, keputusanku nantinya gak bisa diganggu gugat.
 “Maaf, Syamil. Aku masih pengen belajar lebih serius. Sorry ya, gak bisa aku terima.”
“ Ya elah, belagu banget sih lo ! Sebenernya juga lo mau kan ? Udah deh jangan munafik, ntar nyesel baru tau rasa !.”
Kiki yang dari awal sering ngedeket-deketin aku dengan Syamil tampaknya kecewa dengan jawabanku.
“Ya, justru karena aku gak mau nyesel lebih jauh lagi tuh nantinya.”
Aku kesal banget, hingga perdebatan cukup hebat ini pun tak terhindarkan.
Sementara itu, Syamil hanya bengong nikmatin adegan ini, dan teman-teman tak mampu berbuat banyak menyaksikan perang mulut yang sengit.
                “O, ya ???? masa sih,? Gak bisa ya menghargai orang sedikit aja…?”
Lagi-lagi Kiki mengeluarkan kata-kata yang memancing emosiku.
“ Gak ada pacaran dalam kamus pelajar aku tau !!!”
“Emmh…masih peduli sama prinsip bodoh mu itu?? Katanya anak pinter, gimana sih….!”
Kali ini kalimat itu telah benar-benar menyakitkan.
Kini emosiku memuncak, namun aku tak ingin meledak-meledak di hadapan umum.
“Kiki ! Mutia ! sudah… Bukannya pertemanan sejati itu yang mau nerima apapun kekurangan temannya, dan saling menghargai apapun pendapatnya ?! Kalian tuh kayak anak kecil aja.”
Nasehat yang tegas itu diucapkan oleh Thasya.
                Sejenak, kalimat-kalimat itu menyejukkan suasana.
Aku dan Kiki masih bermusuhan. Dan kami pun memutuskan untuk pulang. Karena suasana sudah tak sedap lagi untuk melanjutkan perjalanan.

***

Harusnya reunian ini menyenangkan, tetapi ternyata tak seorang pun yang bisa menebak keadaan. Padahal, ini hanyalah masalah kecil yang akhirnya membesar karena ego masing-masing.
                Aku tau bahwa aku telah bersikap kekanak-kanakan, gak sejalan dengan ucapanku yang slalu merasa paling hebat di antara mereka. Ya, emang penting untuk punya pendirian dalam hidup, supaya gak mudah tergoyah oleh pengaruh dunia luar.
Prinsip membawaku pada pendirian
bahwa untuk menghasilkan bangunan yang kuat,  perlu pondasi yang kuat juga, supaya gak gampang roboh.
Namun ternyata, prinsip itu pula yang membuatku lupa pada satu hal, bahwa orang yang berprinsip harusnya lebih baik dalam bersikap. Aku menyesali kejadian itu. ***

1 komentar: